Sinopsis Lengkap #CintaElif Episode 20 Selasa 27 Oktober 2015 (REVISI)
Huseyin mendatangi bagian keuangan di
kantor polisi. Dia berniat meminjam (kas bon) sebesar seribu lira, namun dia
menyuruh petugasnya mencatatnya lima ribu lira jika ada yang bertanya. Si
petugas tidak bersedia mencatat keterangan palsu.
“Adikku sekarang ditugaskan disini, dan
aku tak ingin dia tahu. Apa yang harus aku lakukan?” Huseyin beralasan.
“Sekalipun adikmu datang kemari, kami
pun tak akan memberitahunya berapa uang yang kau minta.”
“Oh begitu, baiklah, aku akan meminjam
seribu lira. Kau bisa memotongnya dari gajiku bulan depan.”
“Oke. Tolong tunggu dua menit. Akan
kusiapkan suratnya, agar kau bisa menandatanganinya,”Jawab petugas itu.
Di luar gedung polisi, Elif menelepon
Bahar dengan begitu antusiasnya.
“Bahar, akan kuceritakan apa yang telah
kudengar dari Omer....”
“Kenapa kau begitu antusias? Dia tak
bilang langsung, tapi lewat temannya. Katakan saja perkataannya itu benar. Tapi
siapa yang dapat memastikan kalau perkatannya itu akan menjadi hubungan yang
nyata?” Bahar terus saja memprovokasi Elif.
“Kau benar.... tapi sebelumnya dia
menyebut hubungan kami Cuma teman saja...dan sekarang dia bilang kalau dia tak
pernah bisa mengeluarkanku dari pikirannya. Menghayalkannya saja itu sudah
sangat indah,” Ujar Elif.
“Dengarkan aku! Kita bukan lagi gadis
muda yang berusia 18 tahun. Kembalilah ke realita! Tinggalkan dunia hayalanmu
itu!” Bahar marah-marah.
“Bahar, aku sudah menanti hal seperti
ini sejak usiaku 18 tahun. Aku pikir tak akan ada yang mencintaiku. Aku
menganggap diriku sendiri tak berharga. Tapi aku telah menemukannya
sekarang......” Elif lalu menutup teleponnya.
Bahar kesal dan menjerit, “Elif....!”
Levent lalu masuk ke ruang kerjanya
Bahar.
“Bahar, apa yang terjadi?”
“Levent...Ini sudah cukup.... kita harus
cepat atau kita akan kehilangan kesempatan untuk menyelematkan diri kita dari
mimpi buruk ini!” Bahar tampak putus asa.
“Oke, tenanglah.... mereka sudah
datang!”
Para direksi perusahaan lalu masuk ke
ruang rapat.
Elif kembali menemui Omer di ruang
kerjanya. Wajah Omer langsung sumringah saat melihatnya. Sementara senyum tak
pernah lepas dari bibir Elif.
“Elif?”
“Aku tidak mengganggumu, Kan?”
“Tidak. Kita sedang beruntung. Kami baru
saja istirahat.”
Elif menghampiri Omer. Di sana juga ada
Pelin dan Arda.
“Tentu saja,” Sahut Arda yang tersenyum
ke arah Omer seolah mengoloknya.
“Kami harus pergi. Pak Huseyin menunggu
kami,” Ucap Pelin.
“Oke, tak masalah!” Jawab Elif.
“Sampai jumpa nanti,” pungkas Pelin.
Arda dan Pelin lalu keluar meninggalkan
Omer dan Elif berduaan.
“Kemarilah!” Pinta Omer agar Elif
mendekat.
Elif dan Omer berbasa-basi sebentar soal
pekerjaan. Omer lalu bertanya, “Apa ada masalah? Semuanya baik-baik saja?”
“Aku....aku Cuma bilang ke diriku
sendiri... bahwa aku harus lewat sini dan memastikan kau baik-baik saja.”
“Aku baik-baik saja.”
“Baguslah. Apakah ada sesuatu yang ingin
kau utarakan padaku?” Elif berusaha memancing Omer untuk mengungkapkan isi
hatinya.
“Tidak.” Omer masih saja tak mau bicara.
“Oke.” Elif kecewa sedikit.
“Apa yang terjadi?” Omer penasaran.
“Tak ada. Tiba-tiba saja ingin bertanya
seperti itu.”
“Apa yang sebenarnya terjadi? Kau mulai
bicara dengan kode-kode lagi, Senorita (Nona)!” Omer tersenyum.
“Baiklah, aku pergi sekarang,” Mendadak
Elif pamitan.
“Ke perusahaan?” Tanya Omer.
Elif mengangguk.
Saat Elif berjalan di depan Omer,,,,,
Elif berbalik dan mengucapkan, “By the way, aku tidak lupa kalau kau pernah
mengundangku makan malam...”
“Hahhhh,,,,”Akhirnya Omer tahu maksud
Elif. “Karena kau memenangkan permainan Backgamon?”
“Kau tidak bisa ingkar begitu mudah....”
Ledek Elif.
“Oke, kemana kita akan pergi? Aku selalu
menebus janjiku.”
“Aku tak tahu. Dimanapun tak masalah
bagiku. Kau yang putuskan!”Pinta Elif.
“Kau yang pilih! Tempat yang akan
kupilih sudah jelas juga (restoran kelas bawah), dan itu tak akan cukup
membayar hutangku (kebaikan Elif). Kau telah membawaku ke suatu tempat yang
sangat indah, dan aku akan melakukan hal yang sama untukmu....”
“Omer, itu tak perlu. Cukup kita makan
steak....”
“Aku akan mengajakmu ke restoran yang bagus. Ayo kita kesana!”
“Omer, sungguh,”
“Perdebatan ini selesat. Jam delapan
malam (kita ketemu di restoran).
“Oke.”
“Aku antar kau ke pintu sekarang!”
Di perusahaan Denizer, seusai menggelar
rapat, Levent bertanya pada Bahar yang masih sangat kesal pada Elif.
“Bahar, apa yang terjadi? Ada apa lagi
sekarang? Masalah Elif lagi, benar kan?”
“Aku sendiri juga bingung harus
memberitahumu atau tidak, tapi ini sungguh rumit. Kau harus tahu.”
“Ada apa?”
“Elif..... Elif jatuh cinta dengan
polisi itu (Omer).”
“Apa?” Levent terkejut.
“Dan berita buruknya...laki-laki itu
(Omer) juga mencintai Elif.”
“Apakah ini lelucon?”
“Lelucon apa?”
“Apa yang akan kita lakukan sekarang?”
“Aku tak tahu. Aku tak tahu.”
Ada rapat di ruang kerjanya Huseyin.
Mereka membahas tukang kebun keluarga Elif yang bertugas di malam pembunuhan,
namun setelah itu ia cuti dan menghilang hingga sekarang. Padahal Cuma tukang kebun
itulah yang bisa menjadi saksi siapa saja yang keluar masuk di rumah Denizer saat
terjadinya pembunuhan malam itu. Omer juga mencurigai Bahar. Omer lalu
menginginkan kasus itu dirahasiakan dari Komisaris Ali. Namun Huseyin menolak.
Huseyin berpendapat bahwa Komisaris Ali bisa dipercaya.
Di saat yang bersamaan, Metin menemui
Komisaris Ali di sebuah jembatan terpencil. Komisaris Ali memberi Metin sebuah
amplop, berisi gambar sketsa dirinya (yang digambar Elif saat polisi
menginterogasi Nilufer pasca penculikan).
Metin juga meminta Komisaris Ali
mengawasi kurir barunya (Hatice) yang akan berangkat ke Roma melewati bandara
hari rabu. Komisaris Berjanji akan menanganinya.
“Kau melindungiku, dan akupun akan
melindungimu...” Ujar Komisaris Ali.
Hari berganti malam. Elif pulang ke
rumahnya. Dia menemui Nilufer di yang sedang duduk di ruang tamu.
Elif tampak senyum-senyum. Nilufer
penasaran.
“Harimu pasti melelahkan....”
“Sangat,” balas Elif.
Taner lalu bergabung, dan duduk membaca
koran. Elif heran melihatnya ada di rumah.
“Apa yang kau lakukan disini?” Tanya
Elif.
“Baca koran. Apa ada masalah?” Tanya
balik taner.
“Enggak, tapi....bukankah seharusnya kau
di rumah sakit (menjaga Asli)?”
“Ibu mertuaku menyuruhku pulang....”
“Taner, bagaimana jika mereka membutuhkan
sesuatu?”
Nilufer menyahuti, “Mereka akan
menelepon jika sesuatu terjadi, Elif. Jangan cemas!”
“Aku berharap kau tadi tidak pulang,”
Elif masih tak habis pikir pada Taner.
“Kau kira aku tak mencoba? Ibumu terus
saja berkata, tinggalkan putriku sendirian. Aku sudah bilang, aku bisa menunggu
di kafetaria, tapi ibumu tak mengizinkan....” Taner membela diri.
“Itu artinya semuanya baik-baik saja.
Kau baca saja koranmu! Keluar dan bersenang-senanglah. Jangan repotkan dirimu
sendiri demi orang lain.....!” Timpal Nilufer dengan begitu ketusnya ke arah
Taner, lalu ia pergi begitu saja.
Elif terkejut dengan tingkah Nilufer.
Taner hanya mengernyih.
Di rumah sakit, para perawat memasuki
ruangan Asli dengan membawa kereta dorong. Tayyar menemui Zerin.
“Apa yang terjadi Tayyar? Sudahkah kau
bicara dengan mereka (dokter dan perawat)?” Tanya Zerrin.
“Aku sudah bicara. Segalanya telah
disiapkan untuk operasi. Kita akan mengaborsi bayinya.” Jawab tayyar.
“Syukurlah. Terimakasih sekali, Tayyar.
Aku tak akan pernah melupakan pertolonganmu ini sepanjang hidupku. Aku
berhutang padamu.”
“Itu bukan apa-apa. Aku juga punya anak.
Ketika jiwa mereka terbakar, jiwa kita seribu kali lebih terbakar. Jadi jangan
bilang kau berhutang apapun.”
Perawat lalu membawa keluar Asli untuk
bersiap menjalani operasi.
“Ibu....”Panggil Asli terbata-bata
karena pengaruh obat bius. “Apa yang terjadi? Dimana kau membawaku sekarang?
Paman Tayyar.....”
“Semuanya akan baik-baik saja, Sayang.
Ibu di sini. Ibumu akan ada di sampingmu selalu....” Zerrin menggenggam tangan
Asli.
Asli lantas tertidur tak sadarkan diri.
Setelah itu ia dibawa ke ruang operasi. Zerrin menangis. Tayyar menenangkannya.
Omer sedang bersiap untuk makan malam.
Dia sudah berpakaian rapi dan mengenakan jas. Arda datang membawa dasi. Namun
Omer menolak.
Tak lama kemudian, Bahar datang menemui
Omer. Dengan begitu lancangnya, Bahar memprovokasi dan menasaheti Omer agar
menjauhi Elif karena perbedaan status sosial. Bahar meyakinkan kalau Omer dan
Elif tak akan pernah bisa bersatu. Keduanya seperti berjalan di dua sisi yang
berbeda. Omer marah dan percaya Elif tak akan mempermasalahkan masalah status
sosial. Tapi Bahar terus saja meracuni pikiran Omer hingga membuatnya ragu-ragu
akan hubungannya dengan Elif.
Sementara itu, Nilufer duduk memangku
laptop di ruang santai rumahnya. Dia ingin menonton isi CD yang ia ambil dari
laci mejanya Metin. Nilufer tampak begitu penasaran. Namun Nilufer malah
menonton adegan Metin dan dirinya sedang bercinta di kamar Metin. Metin sendiri
yang merekamnya. Nilufer terbeliak tak percaya, lalu ia menangis dan sangat
marah. Dia langsung menghancurkan keping CD itu dengan tangannya.
“Terkutuk kau (Metin).....!”
Omer menemui Arda di luar gedung kantor
polisi. Mereka akan pergi bersama-sama ke restoran. Namun Arda melihat wajah
Omer tampak kesal.
“Ada apa, Bro?” Tanya Arda.
“Itu tak penting!” Jawab Omer.
“Apakah Bahar yang membuatmu kesal?”
Arda menyakini hal itu.
“Ayolah! Sebaiknya kita pergi...”
Jawab Omer.
Di suatu jalan yang sepi, persis di
dekat benteng tua, Taner terlihat mondar-mandir menunggu Pinar. Namun dua orang
pria bersetelan hitam turun dari mobil, lalu menghampirinya.
“Tuan Taner?” Tanya mereka
“Siapa kalian?” Taner balik bertanya
“Dimana berliannya?”
“Berlian apa?” Taner heran bercampur
bingung.
Seorang pria lalu mencekik Taner, dan
yang satunya mengatakan sesuatu. “Kau punya berlian. Katakan padaku sekarang.
Dimana berlian-berliannya?”
Taner lalu dipukuli perut dan wajahnya
hingga babak belur, berdarah, dan hampir mati. Tak berselang lama, Pinar datang
dengan mobilnya yang berhenti agak jauh. Pinar shock melihat Taner dipukuli.
Tapi Pinar tak bisa berbuat apa-apa.
Di kantor polisi, seorang petugas
mengantar video rekaman CCTV dari garasi rumah keluarga Denizer yang terhapus, saat
malam pembunuhan terjadi.
Huseyin dan Pelin menontonnya berdua.
Dari rekaman CCTV itu, terungkap bahwa
Zerrin pulang sendiri jam 1.20 pagi. Tak berselang lama, Taner juga pulang
sendirian. Dan yang terakhir pulang mengendap-endap adalah Nilufer. Semuanya
terbukti memberi kesaksian palsu (katanya mereka semua pulang ke rumah
bersama-sama). Semua anggota keluarga Denizer bisa menjadi tersangka, kecuali
Elif yang sudah pulang lebih dulu.
Arda mengantar Omer ke restoran,
tempatnya dan Elif akan makan malam. Namun Omer terus saja memikirkan perkataan
Bahar soal status sosial antara dirinya dengan Elif. Omer mulai ragu untuk
menemui Elif di restoran. Terlebih saat Omer melihat dari kejauhan Elif tiba
dengan mobil mewahnya, dan berdandan sangat glamor lengkap dengan perhiasan berliannya.
Omer mendadak minder.
Elif masuk ke dalam restoran, dan disapa
petugas resepsionisnya yang sudah mengenalnya. Rupanya restoran itu sangat
privat. Hanya orang kaya tertentu yang bisa masuk.
Setelah dipaksa Arda, akhirnya Omer mau
turun dari mobil dan berjalan menuju Restoran untuk menemui Elif. Namun Omer
dihentikan sang resepsionis untuk menanyakan namanya.
“Aku sudah membuat reservasi atas nama
Omer Demir.”
“Ah, Omer Demir. Aku ingat sekarang.
Maafkan aku.”
Omer tersinggung dengan cara sang resepsionis
menyebut namanya (karena nama Omer tak terdaftar sebagai pengunjung VIP).
“Apa maksudmu dengan menyebut namaku
Omer Demir? Katakan, agar aku tahu ada apa....” Tanya Omer.
“Kau tamunya Nona Elif,”
“Elif?”
“Ya. Dia menelepon dan memberitahu
kami.”
“Kenapa dia memberitahu kalian?”
“Dia tak ingin ada kesalahan, karena
tempat ini sangat VIP (khusus orang-orang kaya, dan Elif tahu bahwa Omer akan
kesulitan memesan tempat itu). Jadi, silahkan masuk......!”
Omer tampak ragu. Dia sangat
tersinggung. Karena reservasi Elif lebih diakui ketimbang reservasinya.
Sementara itu Elif tampak sabar menunggu
Omer di dalam restoran. Sesekali ia melihat ponselnya.
Di luar dugaan, Arda terkejut sekali
saat melihat Omer kembali dan masuk ke dalam mobil.
“Ada apa, Bro?”
“Dia (Elif) tahu kalau aku telah
reservasi tempat di restoran ini, dan dia menelepon pihak restoran lalu bicara
agar reservasiku dipermudah. Kau tahu kenapa? Karena dia tahu orang-orang di
restoran sudah pasti menyuruhku turun. Dia (Elif) tahu aku tak mungkin bisa
masuk ke tempat itu tanpa bantuannya (karena perbedaan status sosial)....”
“Ya Tuhan, kau mudah sekali tersinggung,
Bro!” Ujar Arda. “Mungkin saja karena gadis itu tahu betul tempat ini lalu dia
menelepon untuk mendapatkan meja yang letaknya bagus.”
“Bro, Bahar tadi bilang ‘tak ada yang
akan mempercayai kami sepasang kekasih sampai kami saling mengenal satu sama
lain’. Gadis itu benar. Lihat baik-baik diriku lalu lihat dia (Elif). Akankah
ada kemungkinan untukku bertemu Elif di Istanbul jika jalan kami berseberangan?
Kami berdiri di sisi-sisi yang berseberangan. Kami tidak bersekolah di
sekolahan yang sama, dan tak pernah keluar ke tempat yang sama. Pikirkanlah!
Kami jauh berbeda. Kadang ada garis pemisah dalam hidup yang tak terlihat.
Bukan kita yang menggariskannya, tapi kehidupan sendiri. Aku di satu sisi, dan
Elif di sisi lainnya. Kadang kita tak seharusnya menyeberangi garis itu.” Omer
menjelaskan bahwa diirnya dan Elif jauh berbeda lantaran status sosial mereka.
“Bro, Okay, aku tak bisa berkata bahwa
kau salah....tapi tidakkah kau kejam meninggalkan gadis sepeti dia lalu kau
pergi begitu saja?” Saran Arda.
“Aku memakai semua kekuatanku untuk
meyakinkan diriku sendiri agar mampu meninggalkannya... ayolah ....sebaiknya
kita pergi saja. Kumohon!” Omer semakin ingin mundur dari Elif. “Tak mudah
mengakhiri sesuatu dengan cara yang baik. Lebih baik jika kami tak pernah
memulainya....”
Arda tak bisa berbuat apa-apa. Omer
terlihat begitu terpuruk dan marah pada dirinya sendiri.
Sementara itu Elif masih menanti,
menanti, dan menanti Omer di dalam restoran. Ia menopang dagunya dan bersedih
dalam lamunan. Setiap pintu lift terbuka, Elif berharap itu Omer. Tapi Omer tak
kunjung muncul. Omer memeriksa ponselnya. Tetap tak ada apa-apa di layarnya.
Elif terus menerka-nerka, kenapa Omer tak kunjung datang. Matanya berkaca-kaca.
Begitupun Omer yang menangis penuh sesal di dalam mobilnya.
Omer dan Arda lalu menghabiskan waktu
dengan minum dan makan seafood di suatu tempat. Arda terus saja menasehati Omer
kalau apa yang sudah dilakukannya salah. Dia tak seharusnya berbuat seperti itu
pada Elif.
Taner masih saja dihajar dua pria
suruhan Tayyar. Mereka terus bertanya soal berlian.
Pinar akhirnya turun dari mobil dan
menolong Taner. Dua pria itu mengenal Pinar sebagai kekasihnya Tayyar. Mereka
sedikit takut pada Pinar. Pinar lalu menyuruh pergi, jika tidak Pinar akan
memanggil polisi. Dua orang itupun tak berkutik. Pinar berhasil membawa Taner
ke mobilnya. Mereka lalu pergi menyelamatkan diri.
Elif akhirnya menelepon Omer.
“Omer? Apa kau terjebak macet? Kau
terlambaat,” Tanya Elif.
“Tidak, Elif. Tak ada kemacetan parah.”
Jawab Omer.
“Oke, akan lebih baik kalau kau datang
secepatnya. Aku sangat lapar sekarang....dan setiap detik keterlambatanmu harus
kau bayar. Setuju?”
“Lebih baik jika aku tak datang, Elif.”
Ucap Omer yang membuat Elif langsung tergemap kecewa.
“Aku tak mengerti, kenapa?” Tanya Elif.
“Jangan marah. Mari kita ketemu nanti
saja....”
“Okay....” Elif benar-benar kecewa.
Omer menenggak habis minumannya. Darahnya
naik, dan ia cepat marah. Ia marah pada dirinya. Ia pun berteriak dan memarahi
seorang pelayan saat meminta minuman lagi. Arda menenangkannya.
Elif menelepon Bahar. Mereka membuat
janji untuk bertemu.
Pinar membawa Taner dengan mobilnya.
Taner terlihat babak belur. Pinar menangis ketakutan bercampur marah.
“Mereka itu binatang. Lihat keadaanmu
sekarang. Aku sudah bilang Taner, dan kau tak mendengarkanku. Aku sudah bilang
kita harus cepat-cepat pergi dari tempat ini, Taner. Aku sudah bilang Tayyar
akan membunuh kita, tapi kau tak pernah mau mendengarku.”
“Kau benar, Sayang..... mari kita keluar
dari sini dan kabur yang jauh.”
“Oke, sayang. Tolong tahan sakitmu...aku
harus menelepon ibuku.”
Pinar menelepon ibunya. Dia menyuruh
ibunya untuk segera mengungsi ke rumah bibinya dan agar berhati-hati jika
Tayyar datang mencarinya.
Di rumah sakit, Asli selesai dioperasi.
Kondisinya baik-baik saja. Ia lalu dipindahkan ke ruang rawatnya. Tayyar
memberitahu Zerrin kalau bayi Asli sudah digugurkan.
Elif bertemu dengan Bahar dan
menceritakan semua kekecewaannya. Bahar memanfaatkan hal itu untuk memprovokasi
Elif kalau Omer tak baik unuknya. Elif pun beranggapan kalau Omer tak
mencintainya.
“Aku tak akan.... dan tak akan pernah
lagi berkata Hello ke Omer mulai dari sekarang!” Elif bersumpah.
“Baiklah. Jangan bersedih. Tak akan ada
artinya kesedihanmu ini.” Saran Bahar.
Huseyin dan Pelin menjemput Arda dan
Omer. Mereka naik dalam satu mobil. Huseyin bertanya apakah mereka berdua
sedang mabuk. Ya, mereka memang mabuk.
Omer lalu bertanya, mereka mau kemana.
“Ke rumahnya Elif!” Jawab Pelin.
Omer shock. “Apa yang terjadi? Apakah
ada sesuatu?”
Huseyin menjelaskan, “Rekaman kamera
CCTV yang terhapus.... anak buah kita berhasil merestorasinya. Kami sudah
menontonnya.”
“Tak seorangpun yang ada di rumah itu
saat terjadinya pembunuhan, kecuali Elif.” Tambah Pelin.
“Apa yang kau katakan, Pelo?” Omer
berapi-api.
“Tadinya dia (Pelin) mau menelepon
kalian, tapi kuhentikan. Aku lapor dulu ke kepala Deputi dan juga komisaris.
Kita akan ke rumahnya Elif bersama-sama....” Jelas Huseyin.
“Apa kita pergi untuk meminta pengakuan
seluruh keluarganya Elif?”
“Tidak, tapi Taner saja. Sayangnya,
Deputi tidak mengizinkan kita. Aku satu-satunya orang yang peduli pada keluarga
itu. Ada media juga. Tapi aku sudah memberitahumu, kalau Taner dijebak. Kita sudah
temukan berlian di tangannya.”
Tayyar Dundar ke ruang bawah tanah rumah
sakitnya untuk menemui dua anak buahnya yang disuruhnya menghajar Taner. Mereka
melapor ke Tayyar kalau mereka tak berhasil membuat Taner buka mulut soal
berlian, karena Pinar keburu datang. Tayyar sangat marah, dan mencoba menelepon
Pinar namun terhubung ke kotak suara. Tayyar lalu berteriak menyuruh anak
buahnya mengejar Taner dan Pinar.
Pinar terpaksa membawa Taner ke rumah sakit.
Sementara itu, Huseyin dan Omer datang
ke rumah Elif. Omer enggan masuk dan menunggu kakaknya di seberang jalan, dekat
pantai. Hanya Huseyin yang masuk.
Omer mengawasi lantai dua rumah Elif.
Kamar Elif tampak padam lampunya. Tak lama kemudian, Elif datang dengan
menumpang taksi. Elif melihat Omer di seberang jalan. Keduanya saling
memandang, tanpa saling menegur. Huseyin lalu keluar dari rumah Elif. Gadis itu
tampak terkejut.
“Selamat malam, Nona Elif!”
“Selamat malam. Apa yang terjadi
barusan?” Elif mempertanyakan kedatangan Huseyin di rumahnya.
“Kami mencari kakak iparmu, Tuan
Taner, tapi dia tak disini. Besok, kami akan memanggilnya lagu untuk
investigasi pembunuhan ayahmu...”
“Kenapa?”
“Tak penting. Kami Cuma ingin
mengumpulkan beberapa informasi saja,”Jawab Huseyin.
Elif lalu menanyakan sesuatu yang
berhubungan dengan Omer untuk meyakinkan dirinya kenapa Omer tak datang
menemuinya di restoran.
“Apakah kalian bekerja berkelompok malam
ini?” tanya Elif.
“Tidak. Aku Cuma menghabiskan waktu
seharian bekerja dengan Pelin. Tapi Arda dan Omer tadi keluar berdua....” Jelas
Huseyin.
Elif akhirnya tahu bahwa Omer sebenarnya
tidak sibuk. Lalu kenapa dia tak datang ke restoran? Elif masih bertanya-tanya
meski begitu ia keburu sangat kecewa.
“Apakah kalian sedang marahan? Kenapa
kalian berpisah?” Tanya Huseyin yang penasaran melihat tingkah Elif dan Omer.
Tahu-tahu Elif mengucapkan selamat malam
dan langsung masuk ke dalam rumah.
Barulah Omer menemui kakaknya. Omer
bertanya, apa yang telah dibicarakan Huseyin dengan Elif. Huseyin tak
memberitahu apa-apa. Mereka berdua pun akhirnya pergi.
Pagi. Melike ribut dengan Hasan (anak
lelakinya). Di dekatnya ada Omer yang duduk melamun. Wajahya terlihat suntuk.
Huseyin lalu datang. Ibunya memberi kode lewat mata, agar Huseyin mencaritahu
kenapa Omer bersedih lagi seperti itu. Namun Omer meyakinkan kakaknya bahwa
dirinya baik-baik saja.
Tak berselang lama, Arda datang membawa
kabar kalau Taner tak pulang semalam. Dia tak ke perusahaan juga tak ke rumah
sakit menjaga istrinya. Huseyin menduga kalau Taner kabur. Dia berkata kalau
perkataannya benar soal Taner (dialah tersangka kasus pembunuhan Ahmed Denizer
dan Sibel).Huseyin lalu menyuruh Arda lapor ke deputi agar mereka bisa segera
menahan Taner. Omer masih saja tak percaya. Mereka pun berdebat.
Di kamarnya, pakaian dan sepatu yang
dikenakan Elif semalam, tampak berantakan di lantai. Elif sendiri terlihat
masih memikirkan kejadian semalam (Omer tak datang ke restoran). Lagi-lagi ia
memeriksa ponselnya. Tak ada apa-apa di sana.
Ia lalu bangun, dan melihat gambar
skesta Omer yang dibuatnya sendiri. Elif menangis, lantas menyoobek gambar itu
dan membuangnya ke tong sampah.
Ponselnya berdering. Metin menelepon.
“Halo....”
“Apa yang terjadi? Kau tak pernah
meneleponku atau menanyakan sesuatu lagi. Kau sudah tak merindukanku, mungkin!”
Goda Metin.
“Apa yang kau inginkan?” Sentak Elif.
“Aku tak menginginkan apapun. Apa yang
mungkin aku inginkan? Aku punya berita bagus. Seorang kurir akan pergi ke Roma
besok pagi, dan perhiasan-perhiasan yang kau buat akan dikirim ke sana. Yang
artinya, semuanya akan berjalan dengan baik, My Partner!”
“Jangan memanggilku My Partner!”
“Aku bisa menyebut kau kurirku juga.
Jangan tak tahu terima kasih. Aku akan membagimu keuntungan. Anyway.... kita
akan bicara lagi saat aku datang untuk memberimu bagianmu. Ketika kau melihat
uang di tanganmu, wajahmu akan tersenyum lagi.” Ucap Metin.
“Jangan pernah memberiku uang!” Elif
menolak.
“Kenapa? Kau menyukainya dan kau
mengambilnya saat itu...”
“Dengar, kami segera menjual perusahaan
kami. Aku akan membayar seua hutang-hutangku.”
“Itu akan sangat sulit. Kau tak akan
bisa membayar hutang-hutangmu. Tapi, sebaiknya tak ada diskusi lagi tentang
uang di antara kita. Kita ini kan partner. Salam untuk keluargamu. Cium
untukmu. Ciao!” Pungkas Metin.
Elif langsung membanting ponselnya ke
meja, lalu ia menangis.
Di rumahnya, Huseyin berteriak memanggil
Melike untuk segera megambilkannya ponsel dan jaket. Huseyin mengajak Omer dan
Arda ke rumah sakit untuk mencari Taner. Sementara itu Melike terus mengomel
karena Katiyas buatannya belum termakan.
Di rumah sakit, Pinar sangat khawatir
kalau Tayyar akan menemukan keberadaannya bersama Taner. Dia mengajak Taner
untuk cepat-cepat pergi. Namun Pinar dan Taner tak punya cukup uang. Taner
hanya punya uang tak lebih dari seribu lira. Pinar menyarankan agar Taner
menjual arloji dan Pinar akan menjual cincinnya.
“Haruskah kita menjual mobil juga?”
Tanya Pinar. “Kita akan tinggal di suatu tempat, sayangku.”
Namun Taner tak setuju. Dia malah
berucap. “Bisakah kita kembali? Mungkin saja Tayyar tidak curiga sedikitpun
terhadap kita. Bilang saja kalau kamu Cuma mengantarku ke rumah sakit karena
keadaanku yang sangat buruk. Mungkin dia akan mempercayaimu, mungkinkah itu?”
“Aku tak mengerti.... apa kau pikir
Tayyar itu seorang pria baik hati, Taner? Aku tidak tahu apa saja yang dia
lakukan... aku yakin sekali dia itu bukan orang baik. Tayyar tidak akan pernah
mempercayai kita. Kita tidak punya solusi lain kecuali melarikan diri yang jauh....”
Taner masih saja menolak.
“Kau tak mengenal Tayyar lebih dari aku,
Taner. Dia bisa membunuhmu tanpa mengedipkan mata. Jika aku tidak datang
semalam, mungkin kau sudah mati...” Jelas Pinar.
Pinar lalu bergerak ke jendela. Dia
melihat tiga anak buah Tayyar berjalan menuju rumah sakit. Pinar pun panik dan
langsung mengajak Taner pergi. Tapi Taner ribut dengan pakaiannya. Sementara
tiga anak buah Tayyar sudah semakin mendekat.
Pinar dan Taner hampir selesai. Ketika
mereka akan membuka pintu, tahu-tahu anak buah Tayyar sudah di depan mata. Satu
pria berjaga di luar. Satu membungkam mulut Pinar. Satunya lagi memegangi
Taner.
Di saat yang bersamaan, Huseyin, Omer,
dan Arda datang ke rumah sakit. Salah satu anak buah Tayyar melihat dan
langsung memberitahu teman mereka untuk segera pergi. Taner dan Pinar akhirnya
bebas dari cengkraman anak buah Tayyar yang bergegas kabur.
Omer, Huseyin, dan Arda masuk ke ruang
rawat Taner. Mereka menemukan Taner bersama Pinar. Setelah mereka membawa Taner
dan Pinar ke kantor polisi.
Taner dan Pinar dibawa ke kantor polisi.
Di saat yang sama, Elif datang ke kantor polisi setelah tahu Taner ditangkap.
“Taner, apa yang terjadi? Apa kau
kecelakaan?” Elif tak tahu kalau Taner dihajar anak suruhan Tayyar gara-gara
Berlian.
“Ini tidak penting, Elif! Terimakasihlah
pada Pinar. Dia yang menolongku.”
Elif agak terkejut dengan keberadaan
Pinar. Pinar menyapa Elif dengan sedikit canggung.
Setelah itu Taner dan Pinar dibawa ke ruang interogasi yang berbeda.
Setelah itu Taner dan Pinar dibawa ke ruang interogasi yang berbeda.
Elif terlihat masih sangat marah dengan
Omer. Dia bahkan tak sudi menoleh ke arah Omer. Pertanyaan Elif selalu
ditujukan pada Pelin. Pelin pun heran, dan sesekali melirik ke arah Omer.
“Kasus ini tak ada hubungannya denganmu,
Elif!” Ucap Omer
Namun Elif tetap tak mau menolehnya. Elif malah bertanya pada Pelin. “Pelin! Apa ini penahanan mendadak? Apa kau mengetahui sesuatu?”
Namun Elif tetap tak mau menolehnya. Elif malah bertanya pada Pelin. “Pelin! Apa ini penahanan mendadak? Apa kau mengetahui sesuatu?”
Pelin melirik ke arah Omer. “Ya, barang
buktinya menunjukkan keterkaitannya dengan malam pembunuhan itu....tapi aku
harus pergi Elif!”
Pelin meninggalkan Elif berduaan dengan
Omer.
“Apa kau baik-baik saja?”
“Apa yang kau tanyakan itu?” Tanya balik
Elif dengan nada sinis.
“Omer, apa kau mau masuk juga?” Tanya
Arda.
Omer pun masuk ke ruang interogasi. Elif
terdiam sendirian, lalu pergi.
Omer menginterogasi Taner. Arda ikut
bersamanya. Sedangkan Huseyin dan Pelin menginterogasi Pinar.
Taner mulai berbicara, “Kau tahu kalau
aku telah mengakui semuanya padamu, Omer. Tak seorangpun yang ada di rumah itu
yang tahu aku bersama temanku malam itu. Itulah, aku bersama Pinar. Jika kau
menanyainya, dia akan menjawab hal yang sama.”
Pengacara Taner yang dikirim Elif pun
akhirnya tiba dan ikut bergabung.
“Dimana kau menemuinya?” Tanya Omer.
“Di Hotel. Hotel di Taksim. Aku tak
ingat namanya.” Jawab Taner.
Sementara itu, di ruang sebelah, Huseyin
menginterogasi Pinar.
“Dimana kau pada malam pembunuhan?”
Tanya Huseyin.
“Kami pergi ke Kandili.... di pantai,”
Jawab Pinar.
Jawabannya tidak cocok dengan Taner.
Omer dan Elif kembali berpapasan. Saat
Omer hendak berlalu, Elif memanggilnya.
“Lihat aku!” Seru Elif.
“Baiklah.” Omer mendekat.
“Kenapa kau fokus sekali dengan
keluargaku? Apa tujuanmu kali ini?” Cecar Elif dengan penuh amarah.
“Fokus? Kenapa kita menahannya dan
membawanya kesini jika kami tidak memiliki barang bukti atau saksi?” Omer balik
bertanya.
“Tak seorangpun dari keluargaku yang
seorang pembunuh.” Sentak Elif.
“Belum ada putusan. Kami masih
menginvestigasi.”
“Aku bilang pada diriku sendiri bahwa
semuanya akan baik-baik saja.....” Elif terus saja membuang amarahnya pada Omer
karena Omer terus-terusan menangkap satu per satu anggota keluarganya.
“Tidak ada penahanan Elif. Kami Cuma menginvestigasi.”
“Dengarkan apa yang kukatakan. Kabur begitu
saja, bertengkar, dan tak mau mendengarkan perkataanku memang sudah menjadi
kebiasaanmu. Yang kulihat kau menjadi orang yang berbeda. Aku tidak tahu ini
Omer.”
“Aku tak mengerti kenapa kau sangat
marah... apa karena aku tidak datang untuk makan malam?” Tanya Omer.
Levent dan Bahar datang. Keduanya tampak
cemas dengan Taner. Omer semakin kesal dan meninggalkan Elif.
Omer dan Huseyin mencocokkan peryataan Taner dengan Pinar. Sudah jelas, keduanya tidak sama.
Omer dan Huseyin mencocokkan peryataan Taner dengan Pinar. Sudah jelas, keduanya tidak sama.
Huseyin ditemani Omer kembali
menginterogasi Taner.
“Apa sudah selesai? Bisakah aku pulang sekarang?” Tanya Taner.
“Apa sudah selesai? Bisakah aku pulang sekarang?” Tanya Taner.
“Kau akan berada disini lebih lama lagi,
Taner.” Jawab Huseyin. “Dimana mobilmu? Kau tidak memarkirnya di rumah.”
“Ada di parkiran kantor...kenapa kalian
menanyakannya?”
Omer menjawab, “Kami butuh mencarinya.
Kita akan menggeledah rumahmu dan ruang kerjamu.”
“Aku tak melakukan apapun. Aku sudah
bilang berkali-kali. Aku bersama Pinar malam itu.” Taner kesal.
“Tak ada yang perlu ditakutan... bukan
begitu saudaraku yang tampan?” Tegur Huseyin. “Ngomong-omong, beristirahatlah
sebentar... dan kami akan mengerjakan pekerjaan kami.”
Huseyin dan Omer lalu pergi meninggalkan
Taner.
Taner sempat memanggil Omer. “Omer aku
bersumpah. Aku tidak membunuh Tuan Ahmed...”
“Apa yang kau lakukan dalam kurun waktu 45 menit itu?”
Tanya Omer.
“45 Menit apa?” Taner bingung.
“45 menit sebelum Sibel terbunuh....”
“Aku tidak pernah melihat Sibel dalam
hidupku. Aku tak akan mengenalnya sekalipun kau tunjukkan fotonya. Aku tidak
membunuhnya. Semoga Allah mengutukku jika aku membunuh mereka...”
“Oke. Itu akan menjadi terang jika kau
benar-benar tak bersalah....sekarang relax saja. Oke.”
“Oke.”
Omer pun pergi.
Omer kembali berpapasan dengan Elif,
Levent, dan Bahar. Lagi-lagi Elif menanyakan kabar taner.
“Dimana Taner? Tak bisakah kami pulang
sekarang?”
‘Taner akan tetap tinggal disini lebih
lama. Investigasi sedang berlangsung. Tak ada yang perlu kau tunggu disini.
Lebih baik kau pergi.” Saran Omer.
“Sebentar... kenapa investigasinya masih
berlanjut? Katakan pada kami biar kami tahu.”
“Belum ada keputusan. Kami akan
memberitahumu jika ada perkembangan.”
“Kalian juga melakukan hal yang sama
terhadap Asli waktu itu. Pada akhirnya, kebenaran terungkap. Hal yang sama juga
akan terjadi pada Taner. Karena Taner tidak membunuh ayahku. Kali ini, mereka
akan memberitakannya di koran-koran. Aku tak akan membiarkan siapapun merusak
reputasi keluargaku.” Elif begitu berapi-api di depan Omer.
Levent lalu mengajak Elif pulang.
Begitupun Bahar.
Bahar meminta Omer dan Arda untuk menghubunginya jika ada perkembangan kasus Taner.
Bahar meminta Omer dan Arda untuk menghubunginya jika ada perkembangan kasus Taner.
Omer terlihat kesal. “Aku sangat
tergaggu dengan orang itu....”
“Dia memang sangat menyebalkan,” Yang dimaksud Arda adalah Bahar.
“Dia memang sangat menyebalkan,” Yang dimaksud Arda adalah Bahar.
Namun Omer mengoreksi, “Bukan Bahar.
Tapi pria bersamanya.”
“Ah, kau membicarakan pria tampan itu?”
Arda tahu kalau Omer cemburu pada Levent.
Omer menemui Pinar di ruang interogasi.
“Apakah mereka belum memberitahumu bahwa kau sudah boleh pulang?” Tanya Omer.
“Apakah mereka belum memberitahumu bahwa kau sudah boleh pulang?” Tanya Omer.
“Ya, mereka sudah memberitahuku...”
Jawab Pinar dengan wajah bersedih.
“Apalagi yang kau tunggu? Kau bebas...”
“Bagaimana Taner?”
“Dia akan disini lebih lama...”
Omer lalu bertanya, apakah ada sesuatu
yang ingin disampaikan Pinar. Namun Pinar tak mau cerita. Dia menahan rasa
takutnya (karena Tayyar pasti akan menangkapnya setelah ini).
Omer lagi-lagi menawarkan bantuannya,
namun Pinar menolak.
Keluar dari kantor polisi, Pinar tak
tahu harus kemana. Dia lalu mencegat taksi. Namun Tayyar muncul mengejutkannya
di depannya.
Pinar memberitahu Tayyar kalau dia telah
menolong Taner. Namun Tayyar tampak tak mempercayainya. Tayyar lalu membawanya
masuk ke dalam mobil.
Di kafe tepi dermaga, Metin menemui Hatice untuk memberikan Visanya ke Roma. Keduanya membahas tentang pengantaran barang ke Roma.
Di kafe tepi dermaga, Metin menemui Hatice untuk memberikan Visanya ke Roma. Keduanya membahas tentang pengantaran barang ke Roma.
“Apa yang terjadi jika aku tertangkap?”
“Aku
sudah bilang padamu saat itu. Kalau
kau tertangkap, itu masalahmu. Jika kau memberitahu namaku (Metin), tak
seorangpun yang akan mengenalku (nama asli Metin adalah Fatih Dundar).”
“Apa yang terjadi denganku?”
“Kau baru saja melakukan terapi
psikiatris intensif, Sayang. Mereka membiusmu.”
“Mana Taner?”
“Dia punya rapat penting di perusahaan.
Dia akan kesini malam ini.”
Zerrin lalu membelai wajah Asli hingga
anaknya itu tertidur.
Elif menuju tempat parkir perusahaannya.
Omer, Arda, dan Pelin sedang menginterogasi petugas parkir dan menggeledah
mobilnya Taner.
Elif lalu datang dengan marah-marah.
Lagi-lagi Elif tak mau menoleh ataupun bicara dengan Omer. Elif lebih memilih
bicara dengan Pelin.
Elif mengizinkan mereka memeriksa parkiran perusahaannya selama sesuai prosedur. Elif lalu pergi begitu saja, dan Omer mengejarnya.
Elif mengizinkan mereka memeriksa parkiran perusahaannya selama sesuai prosedur. Elif lalu pergi begitu saja, dan Omer mengejarnya.
“Elif, mari kita bicara!” Ajak Omer.
“Aku tak mau.”
Omer lalu menarik tangan Elif. “Kau
bersikap seperti anak kecil.”
“Aku?” Elif memelotot.
“Oke, aku memang tidak datang ke
restoran semalam. Aku minta maaf. Aku akan memberitahumu kenapa aku tidak
datang lain waktu.” Jelas Omer.
“Omer, apa kau sadar kalau perkataanmu
dan perbuataanmu tak pernah sama?” Sindir Elif.
“Apa maksudmu? Aku berbuat berdasarkan
apa yang kuucapkan...” Omer tak terima.
Elif terlihat enggan berdebat, “Jika kau
merasa begitu, ya terserah apa yang kau katakan...”
Lagi-lagi Omer menarik Elif mencegahnya pergi. “Kita adalah teman apapun yang terjadi.”
Lagi-lagi Omer menarik Elif mencegahnya pergi. “Kita adalah teman apapun yang terjadi.”
“Omer,,, kita bukanlah teman. Jangan
menipu dirimu sendiri ataupun menipu diriku lagi!” Sentak Elif.
Omer tampak kecewa, menyesal, dan
bertanya-tanya. Arda datang dan meledek Omer. Omer kesal dan menyuruh Arda
untuk tidak bercanda. Lagi-lagi Arda mengingatkan semua itu karena Omer
menggantung perasaannya Elif.
Elif masuk ke dalam ruang kerjanya. Ia tampak kesal dan memasukkan semua berkasnya ke dalam kardus. Bahar mengintip, dan langsung mencari Levent.
Elif masuk ke dalam ruang kerjanya. Ia tampak kesal dan memasukkan semua berkasnya ke dalam kardus. Bahar mengintip, dan langsung mencari Levent.
Sementara itu, Tayyar membawa Pinar ke
tengah laut degan menaiki kapal pribadi. Tayyar menyebut Pinar berbohong.
Tayyar menodongkan pistol ke arah Pinar sembari mencecarnya agar Pinar berterus
terang.
Namun Pinar tak kunjung jujur. Tayyar akhirnya menarik pelatuk pistolnya. Untungnya tak ada peluru di dalamnya. Tayyar pun kaget dengan hal itu.
Namun Pinar tak kunjung jujur. Tayyar akhirnya menarik pelatuk pistolnya. Untungnya tak ada peluru di dalamnya. Tayyar pun kaget dengan hal itu.
DAFTAR SINOPSIS TERKAIT
Sinopsis Lengkap Cinta Elif Episode 20 Selasa 27 Oktober 2015
Reviewed by Riris Tania
on
12.46
Rating:
Reviewed by Riris Tania
on
12.46
Rating:































































































