Sinopsis Lengkap #CintaElif episode 21 Rabu 28 Oktober 2015
Di lobi perusahaan Denizer, Arda terus
saja menasehati Omer sembari menunggu Pelin selesai menggeledah ruang kerja
Taner. Saat mereka akan pergi, tiba-tiba Omer menoleh ke arah kantor Elif.
Pelin memanggilnya. Namun Omer tetap terdiam di sana.
Di ruang kerjanya, Elif memandangi foto
dirinya bersama ayahnya. Levent lalu masuk, mengajak Elif untuk menonton film
di bioskop.
Namun Elif menolaknya karena dia harus masih mengepaki barang-barangnya sebelum perusahaannya pindah.
Namun Elif menolaknya karena dia harus masih mengepaki barang-barangnya sebelum perusahaannya pindah.
Tahu-tahu Omer muncul. Elif bertampang
jutek.
“Kita harus bicara,” Ucap Omer.
“Aku memang mengingikannya... tapi aku
baru saja akan pergi bersama Levent,” Elif menolak ajakan Omer.
Elif mendadak romantis dengan Tuan
Levent dan mengajaknya keluar ke bioskop demi membuat Omer cemburu.
Bukannya menyerah, Omer justru mengikuti
kemana pun Elif dan Levent pergi.
Di rumah sakit, Asli tampak gugup saat
seorang suster mengisi infusnya.
“Sssst, tutup pintunya agar aku bisa
mengatakan sesuatu!” Suruh Asli.
“Baik..” Jawab Suster itu. “Ayo
katakan!”
“Mendekatlah!” Pinta Asli.
Suster itu mendekat. “Kau tidak akan
bilang ke siapapun... sepakat?”
Suster mengangguk. Asli menarik
tangannya dan memelotot. “Sepakat?”
Lagi-lagi suster itu mengangguk.
“Bagus. Aku tahu kau tak akan membuatku
marah,” Ucap Asli. “Dengarkan aku baik-baik. Aku hamil.”
Suster itu tampak sedikit terkejut,
“Bagaimana aku bisa menolongmu?”
“Pertama, sembunyikan apapun obat yang
mereka berikan untukku. Ibuku tidak tahu tentang bayi ini, jadi kau harus
membawaku ke ruang USG tanpa memberitahunya. Aku sedikit mengalami pendarahan.
Itu terjadi sebelumnya juga. Makanya aku perlu melihat bayinya di USG. Oke?”
Suster itu mengangguk lagi. Tahu-tahu
Zerin muncul mengejutkan.
“Asli, apa ada sesuatu yang terjadi?”
Tanya Zerrin.
“Perawat ini sedang membenarkan posisi
bantalku.” Ucap Asli. “Terimakasih. Aku sekarang merasa lebih baik.”
Suster itupun pergi. Zerin lalu duduk di
samping Asli.
“Bagaimana keadaanmu, putriku yang
cantik?”
“Aku baik, Bu. Aku baik.”
Setelah itu Asli tampak melamun.
Levent dan Elif sedang berada di
bioskop. Mereka akan menonton film Turki. Setelah membeli tiket dan popcorn,
keduanya berjalan ke ruang teater. Levent tampak memegangi pinggang Elif. Omer
melihatnya dari kejauhan dan cemburu.
Elif dan Levent pun masuk ke ruang
teater untuk menonton filmnya. Setelah lampunya dimatikan, Omer ikut masuk dan
menonton di kursi belakang. Elif menyadarinya, lalu sengaja mengajak Levent
berbincang mesra agar membuat cemburu. Omer semakin merengut. Elif lalu
menolehnya dan tetap menatapnya dingin.
Di kapal, Tayyar terus saja menanyai Pinar
soal Taner sambil menodongkan pistol.
“Apa yang kau bicarakan dengan Taner?”
Sentak Tayyar.
“Tak ada.”
“Apa yang kau bicarakan tentang diriku?”
“Aku bersumpah tak mengatakan
apapun....” Pinar terus saja menangis.
“Jika aku mendengarnya dari Zerin, aku akan
membuat ibumu menjadi mayat dan akan kubakar kau di depannya....” Ancam Tayyar.
“Aku bersumpah Tayyar. Aku tak
mengatakan amampun tentangmu pada Taner. Aku bersumpah....”
Tayyar menodongkan pistolnya ke kepala
Pinar. “Jadi, kau mengakui kau tidur dengan Taner?”
“Aku bersumpah... aku tidak tidur
dengannya...”
“Mengapa aku tak begitu yakin? Kenapa
aku tak bisa mempercayaimu?” Teriak Tayyar sembari menarik pelatuk pistolnya.
Lagi-lagi isinya kosong. Tayyar lalu memberitahu Pinar. “Kau benar-benar
beruntung.... sangat... sangat....”
Elif dan Levent lalu datang ke kafe.
Lagi-lagi Omer mengikutinya dan duduk di meja yang tak begitu jauh dari mejanya
Elif. Dia sengaja mengeraskan suaranya saat memesan minuman ke pelayan agar
Elif dan Levent melihatnya. Omer.
Levent terlihat tak suka. “Apa yang dia
lakukan disini?”
“Aku tak tahu,” Jawab Elif.
“Aku bisa menyuruhnya pergi jika dia
mengganggumu...”
“Jangan, bukan seperti itu... biarkan
saja dia makan dimanapun yang dia inginkan!” Pinta Elif.
Setelah itu Elif menutupi wajahnya
dengan buku menu. Omer terus saja memandanginya dari jauh. Levent lalu
memanggil pelayan untuk membuat pesanan.
“Aku Cuma ingin salad dan air putih...”
Ujar Elif.
“Dan kau tuan?” Tanya Pelayan.
“Aku steak dan salad....” Jawab Levent.
Lalu Elif mendadak permisi ke toilet.
Omer menganggapnya seperti kode karena Elif sempat menoleh ke arahnya. Dan
benar, Omer ikut masuk ke toilet itu lalu mengunci pintunya. Keduanya tampak
bertengkar.
“Omer, apa yang kau lakukan? Jangan
bodoh!”
“Apa yang kau lakukan? Apa yang kau
lakukan bersama pria itu?”
“Ada apa denganmu?”
“Apa masudmu dengan bertanya 'ada apa
denganmu'?”
“Maksudku, semua ini bukanlah urusanmu!”
“Kemarin, kau datang padaku dan
menceritakan semuanya, dan lihat apa yang lakukan sekarang. Melawan api dengan
api....”
“Darimana kau punya hak bicara seperti
itu padaku? Bisakah kau minggir? Aku ingin kembali ke Levent!” Sentak Elif.
Namun Omer menutupi pintunya dengan
badannya.
“Kau tak akan bisa...” Ujar Omer.
“Apa maksudmu dengan kau tak akan bisa?”
“Kau tak bisa pergi!”
“Omer, Levent sedang menungguku.”
“Kau tak bisa meninggalkanku dan pergi
menemui pria bodoh itu! Aku tak akan membiarkannya!”
“Oh ya? Siapa dirimu? Siapa kau hingga
berhak menyekapmu disini? Orang lain tak terganggu sama sekali dengan persahabatan
teman-teman mereka. Jadi,,, aku akan tetap makan siang dengan temanku...”
“Mulai dari sekarang, kau tidak akan
ngobrol lebih lama lagi dengan pria itu. Selesai. Kau bukan temannya lagi..”
Seru Omer.
“Itu bukan urusanmu!” Elif memelotot.
“Kau tak bisa membayangkan betapa
pedulinya diriku. Oke. Semua selesai. Tak akan ada makan siang,” Omer terus
mendikte Elif.
“Omer, aku tidak akan pergi kemanapun.
Itu akan menyinggung Levent.”
Omer tak mau tahu. Omer lalu memegangi
tangan Elif dan menariknya, berjalan menemui Levent. Semua orang
memperhatikannya.
“Elif, apa yang terjadi?” Tanya Levent
terkejut.
“Levent, tolong maafkan aku!” Ucap Elif.
Levent lalu menatap Omer seolah
menantang, “Elif tak akan pergi kemana-mana bersamamu.”
“Siapa yang bilang?” Tantang balik Omer.
“Aku.” Jawab Levent.
“Benarkah? Menarik sekali...” Omer meledek.
“Lihat aku...” Levent marah dan
menunjuk-nunjuk Omer.
“Turunkan tanganmu sebelum aku
mematahkan jari-jarimu!” Seru Omer.
“Apa yang kalian berdua lakukan?
Tenanglah!” Elif mulai panik.
“Oke Elif. Ambil tasmu dan tunggu aku di
luar sana!” Suruh Omer.
“Siapa kau hingga bisa menyuruhnya
seperti itu?” Tanya Levent.
“Aku pacarnya, semuanya jelas?” Jawab
Omer.
Elif terbeliak tak percaya saat
mendengarnya.
Omer kembali mengancam Levent, “Jika kau
pria sejati, duduk manislah dan nikmati makan siangmu. Jangan sampai ke
terkencing-kencing!”
“Lalu apa yang terjadi jika aku tak mau?
Dengar, aku tak tahan dengan sifat pemaksa. Jangan memancingku!” Levent tak
takut.
Omer pun mendorong Levent ke kursinya.
Elif meminta Levent menahan diri, Omer lalu memberitahu Levent agar tak bicara
lagi dengan Elif mulai dari sekarang. Setelah itu Omer mengajak Elif pergi.
Namun Elif tak mau Omer menyentuhnya. Levent hanya bisa menahan kesal di
kursinya.
Di rumah sakit, Zerrin menawarkan beberapa
majalah untuk Asli. Namun Asli menolak. Begitupun saat Zerrin menawari makan.
Asli juga tak ingin. Zerrin pun pergi dan berjanji akan kembali keesokan
harinya.
Sebelum Zerin pergi, Asli sempat meminta
sesuatu.
“Bu, bisakah kau memberiku seorang perawat?”
“Apa yang terjadi?”
“Ini melukaiku (Asli menunjuk selang
infus di pergelangan tangannya). Dia bisa menggantinya....”
Zerin setuju dan akan mengirim seorang
perawat nanti. Setelah itu ia pergi.
Asli mencoba bangun, dan berjalan dengan
membawa infusnya. Seorang perawat datang, dan Asli memintanya untuk membawanya
ke ruang USG. Namun tak bisa sekarang. Suster itu berjanji akan membawanya
esok.
Elif terus saja berjalan penuh amarah sembari
mengomeli Omer. Sedangkan Omer terus saja mengejarnya di belakang. Mereka
lagi-lagi berdebat.
Sementara itu, Bahar menemui Levent di
kantor.
“Levent, apa yang terjadi? Kenapa kau
kembali begitu cepat?”
Levent tampak marah hingga menatap Bahar
dengan tatapan yang sangat sinis. “Aku tidak tahu....”
“Apa yang kau pikirkan?
Jelaskan! Apakah Elif mengatakan sesuatu?” Tanya Bahar.
“Tinggalkan aku sendiri, Bahar!”
Sentak Levent dengan begitu kasarnya. “Aku tak ingin menghancurkan hatimu, jadi
tinggalkan aku sendiri!”
Bahar benar-benar keheranan.
Tapi ia tak bisa berbuat banyak.
Sepertinya Levent mencintai Elif dan sedang cemburu kepada Omer.
Omer terus saja mengejar Elif
yang tak mau bicara dengannya.
“Baiklah, aku memang seperti
orang bodoh...” Omer mengolok dirinya sendiri.
Elif tetap bertampang jutek.
Omer lalu berjalan di samping
Elif. “Kau memang pelari ulung. Kau pasti sering berlatih?”
Elif terus saja membisu.
“Ahhh, memang tidak mudah
membuatmu tertawa!” Omer akhirnya lelah dan menarik tangan Elif.
“Oke. Kau menang. Aku minta
maaf.”
“Untuk apa?”
“Untuk perkataanku barusan.”
“Terus apa lagi?”
“Dengar! Aku tak meminta maaf
untuk sentakan barusan!”
“Kenapa kau tak datang ke
restoran semalam?”
Omer tampak diam. Elif semakin
kesal.
“Omer, kau tak bisa bermain-main
denganku!” Ujar Elif.
“Tentu saja tidak...” Jawab
Omer.
“Baiklah, jawab pertanyaanku
yang sudah kutanyakan begitu sederhana tadi!” Pinta Elif.
Omer tampak berpikir. Diam.
Elif tak habis pikir. “Kau tipe
orang yang terus saja bicara sekalipun kusuruh kau diam. Kau pintar bermain
kata, tapi ketika kau bicara denganku, kau mendadak diam begini. Aku lelah
menduga-duga semua itu sendiri. Apa kau tahu pengaruh senyummu bagiku? Aku
terus saja memikirkan kebodohanmu berjam-jam. Aku berusaha menerka,
mencari-cari hal yang tak terucapkan, apa kau tahu itu....?”
Omer kembali menarik tangan
Elif, namun kali ini ia mencium Elif.
Elif pun langsung bungkam dan
membalas ciuman Omer itu.
Ciuman Omer membungkam semua
amarah Elif sekaligus menjawab pertanyaan Elif apakah Omer benar-benar
mencintainya.
“Kau terus saja bertanya padaku,
tapi kau tak pernah berhenti berkata pada dirimu sendiri, Signorina (Nona)! Apa
kau sudah menemukan jawabanmu?” Tanya Omer.
Elif menatap Omer. Bibirnya
terkunci.
“Kelihatannya bagiku itu tidak
cukup....”
Mereka pun kembali berciuman.
Hari berganti malam. Omer dan
Elif duduk di taman sembari memakan kebab ikan. Elif tampak tak begitu suka.
Namun Omer menggodanya. Jika Elif memakannya, dia berjanji akan memakan sushi
(yang tak disukai Omer) besoknya. Elif setuju. Gadis itupun menikmati makanan
yang baru dicobanya.
“Sebetulnya, aku tak punya
bayangan saat aku mengundangmu makan malam...”
“Saat inipun aku juga tak bisa
membayangkannya. Sebetulnya bagus kau tidak datang semalam, karena servis
restoran itu tidak bagus.”
Elif lantas menanyakan soal
Taner.
“Bagaimana dengan Taner?”
“Aku tak tahu...” Jawab Omer.
“Bagaimana bisa kau tak tahu?
Kau tahu kan kalau Taner bukanlah seorang pembunuh.”
“Aku akan mengatakan sesuatu,
tapi kau jangan sedih. Ada hal yang disembunyikan Taner tapi kau tidak tahu...”
“Tentu saja aku tahu, dia
anggota keluargaku.”
“Baiklah, aku akan diam kalau
begitu...”
“Sebentar sebentar. Katakan
padaku apa yang kau tahu.”
“Dengar aku Elif. Ada hal yang
aku ketahui tentang Taner... dia menipumu dan juga kakakmu.”
“Tentang apa?”
“Dia berselingkuh....”
“Apa? Bagaimana bisa, Omer?
Maksudku....dengan Pinar?” Tebak Elif. “Pinar, pacarnya Paman Tayyar. Ya
Tuhan...!” Elif benar-benar tak menyangka. “Bagaimana ini bisa terjadi? Ini
akan menghancurkan Asli saat dia tahu. Dia begitu mencintai suaminya.”
Omer diam saja.
“Apa kau yakin?” Tanya Elif
lagi.
“Jika aku tak yakin, aku tak
akan memberitahumu.” Jawab Omer. “Semuanya terserah padamu. Apakah kau mau
memberitahu Asli atau tidak, itu terserah padamu. Tapi itulah yang kuketahui.
Taner menikahi kakakmu untuk keuntungannya sendiri. Dia tidak mencintai Asli.”
“Kau menghakimi terlalu cepat
juga. Apa yang terjadi di antara dua orang hanya mereka sendiri yang tahu. Kau
sedang memfitnah keluargaku,” Elif menjadi marah. “Bagimu, semua anggota
keluargaku memiliki rahasia... dan semuanya pembohong.
“Aku tak bicara seperti itu jika
itu tidak benar, Elif!”
“Lalu, apa yang terjadi? Katakan
padaku, agar aku tahu...”
“Keluargamu memang sangat
berharga bagimu. Dan bagiku juga. Tapi ada banyak sesuatu yang tak kau ketahui tentang
keluargamu sendiri. Contohnya Nilufer. Kau bilang kalau kau sangat mengenal
Nilufer, tapi kau tidak tahu soal hubungannya dengan Mert. Begitupun Asli. Dia
tidak memberitahumu soal pertengkarannya dengan ayahmu. Dan jika kau ingin soal
Taner, dia hanya peduli pada dirinya sendiri...”
“Sebentar, kumohon. Kumohon
jangan berkata seperti itu lagi tentang keluargaku. Mungkin bagimu mereka Cuma
nama-nama yang ada dalam sebuah file (berkas laporan), tapi mereka adalah
orang-orang yang kusayangi. Tidakkah kau akan sakit hati saat aku berkata hal
yang sama tentang keluargamu?” Elif kembali marah pada Omer.
“Tak ada pertengkaran seperti
itu dalam keluargaku!” Omer membela keluarganya. “Keluargaku adalah orang-orang
yang hidup di dunia kecil mereka.”
Omer lalu menyuruh Elif melihat
sebuah rumah (keluarga) dari perspektif lain. Omer juga bilang, bahwa siapapun
mampu berbohong karena uang.
Elif kesal dan meninggalkan Omer
sendirian.
Di rumahnya, Melike terus saja
menggerutu saat merapikan tempat tidurnya. Ia lalu menemukan buku tabungan yang
terjatuh dari kemejanya Huseyin.
Dibuka tabungan itu. Atas nama Demet Demir.
Saldonya dua puluh ribu lira. Melike terbeliak tak percaya. Ia lalu memanggil
putri sulungnya, Demet dan bertanya darimana anaknya mendapatkan uang sebanyak
itu.
Setelah dicecar hingga dijambak
oleh ibunya, Demet tetap saja tak mengerti buku tabungan siapa ibu. Ibunya
akhirnya percaya, dan bertanya-tanya dalam hati, mungkinkan itu milik suaminya
(Huseyin).
Elif dan Omer duduk di bangku
taman.
“Itulah malam (malam terbunuhnya
Ahmed dan Sibel) yang tak bisa kita hindari... yang mempertemukan kita bersama.
Aku tak tahu apakah kau menyebutnya takdir ataukah nasib buruk. Tapi hidup kita
menjadi saling terjalin. Kita telah
melewati banyak hal hingga pembunuhnya ditemukan. Elif, aku ingin kau tahu...
aku akan selalu ada di sisimu.” Ucap Omer.
Elif akhirnya tersenyum. Omer
pun ikut tersenyum.
“Ayolah Signorina (Nona)!
Ceritakan dirimu. Aku dengarkan. Ayo!” Pinta Omer.
“Tak mau. Kali ini giliranmu
untuk cerita. Kau tak punya lagi identitas palsu. Ayo mulailah dari awal! Kapan
kau lahir? Dimana kau lahir? Apa yang kau sukai saat kau kecil?
Omer lalu menceritakan masa
kecilnya.
“Kau tahu, aku bisa diam sampai
pagi untuk mendengarkanmu bercerita!” Ucap Elif.
“Dan kau tahu, aku tak akan
pernah bosan menatapmu hingga pagi,”Balas Omer.
Keduanya pun saling
berpandangan.
“Aku suka menatap matamu, karena
matamu menyiratkan banyak hal. Seperti anak kecil.... mereka tak bisa
menyembunyikan perasaannya yang sebenarnya. Semuanya tersirat di mata mereka.....
“
Elif menikmati belaian Omer.
“Matamu, pipimu, hidupngmu,
bibirmu... aku bisa memandanginya hingga pagi dan tak akan pernah bosan...”
Kata Omer.
Lagi-lagi keduanya berciuman.
“Omer....katakan padaku... aku
dengar kau mengatakannya pada Arda!” Pinta Elif yang mengungkit saat Omer
mengungkapkan perasaannya tentang Elif pada Arda di kantor.
“Perkataan yang mana?” Omer
bingung.
Elif hanya tersenyum. Omer
akhirnya paham. Ia pun tertawa.
“Kau pantas dihukum!”
“Bagaimana kau akan
menghukumku?”
Elif lalu duduk bersandar di
dada Omer, dan tertidur.
Mert menemui Nilufer di teras
rumahnya.
“Darimana kau?” Tanya Nilufer.
“Aku baru belanja. Istanbul
Shooping baru saja dibuka. Ada banyak diskon. Aku membeli barang-barang yang
keren.” Jawab Mert.
“Apa kau minum lagi?”
“Tak. Aku sedang baik.”
“Terima kasih sudah datang.”
“Tak masalah. Ada masalah apa?
Aku dengarkan!”
“Mert, kau satu-satunya teman
yang bisa kupercaya.”
“Nilufer, jangan berputar-putar,
ayo katakan saja....”
“Aku punya teman lama dari SMA.
Kau tidak mengenalnya. Sesuatu yang buruk terjadi padanya. Pacarnya merekam
dirinya saat mereka berciuman dan bercinta,” Tutur Nilufer.
Mert tertawa, “Wah... itu
hebat!”
Nilufer kesal, “Bisakah kau
serius?”
“Baiklah. Aku dengarkan. Katakan!”
“Dia sekarang berada di situasi
yang sulit dan meminta pertolonganku. Aku tak tahu bagaimana menolongnya. Itu
kenapa aku putuskan bertanya padamu. Jadi katakan padaku, apa yang harus
kulakukan?”
“Temanmu itu harus pergi ke
polisi Nilufer. Dia tak seharusnya menunggu. Para polisi itu akan menangkap
pacarnya.”
“Setuju. Akupun berkata yang
sama. Aku punya pertanyaan yang lain. Kenapa ada pria yang sampai berbuat
seperti itu (merekam saat bercinta)? Maksudku, apa tujuannya?”
“Mungkin untuk niat buruk atau
untuknya berSENSORED.....”
Nilufer langsung pucat. Mert
melihatnya dan langsung bertanya, “Apa yang terjadi pada temanmu, kenapa
seolaholah kau sendiri yang mengalaminya.....”
“Janga berkata yang bukan-bukan.
Jangan membuatku menyesal karena sudah bercerita padamu...!” Sentak Nilufer.
Di rumah sakit, saat Asli dan
perawatnya hendak pergi ke ruang USG, tiba-tiba Zerin muncul dari ruangan lain.
Asli dan perawatnya bergegas masuk ke kamar, sedangkan Zerrin menemui
resepsionis dan memintanya untuk mengawasi Asli. Setelah itu Zerin pulang.
Asli dan perawatnya akhirnya
pergi ke ruangan USG.
Di Kapal, Tayyar memborgol Pinar
ke pegangan tempat tidur. Tayyar sangat marah. Apapun yang berusaha dikatakan
Pinar, terus diabaikannya. Pinar terus saja memohon dan menangis. Tayyar lalu
keluar dan menyuruh pengawalnya untuk jangan pernah membuka pintu kamarnya
Pinar. Setelah itu Tayyar pergi menggunakan boat kecil.
Omer mengantar Elif pulang.
Mereka berjalan berdua di tepian pantai, depan rumah Elif.
“Aku sudah mengajakmu berjalan
jauh. Kau pasti lelah,” Ucap Elif.
“Tak, ini baik buatku...” Omer
tak mempermasalahnnya.
“Aku harus pulang!” Elif
pamitan.
“Kau benar. Sudah larut.”
“Selamat malam...”
“Sama-sama...”
Elif berbalik dan hendak
menyeberang jalan. Namun Omer memanggilnya, “Apa benar ini sudah larut?”
“Kalau di Roma mungkin sekarang
belum larut malam...” Jawab Elif berbalik mendekati Omer.
“Apalagi di Amerika...”
“Tergantung dari mana kau
melihat jam..”
“Kau benar. Apa yang sebaiknya
kita lakukan sekarang?” Tanya Omer.
“Apa yang sebaiknya kita lakukan
sekarang?”
“Jika kau ingin pulang dan
beristirahat.... atau melakukan hal yang lain!” Saran Omer.
“Tak, aku tak ingin melakukan
hal yang lain,” Jawab Elif.
“Lalu, apa kau tahu apa yang
bisa kita lakukan sekarang? Pandangilah jalan yang kita lewati tadi...!”
“Ah, disana sangat dingin!”
“Lalu kita akan temukan tempat
minum teh. Itu bisa menghangatkan kita!” Omer terus saja membujuk Elif untuk
pergi ke suatu tempat lagi.
Omer lalu menyarankan suatu
tempat, “Aku memikirkan suatu tempat.... maksudku... aku akan bilang tapi aku
takut membuatmu salah paham.”
“Akupun memikirkan tempat yang
sama...” Timpal Elif.
Mereka pun akhirnya pergi lagi
ke suatu tempat.
Di rumah sakit, Asli melakukan
USG diam-diam dengan perawatnya.
“Bagaimana bayiku?” tanya Asli.
“Apa dia baik-baik saja? Apa jantungnya berdetak?”
Asli tampak penasaran dengan apa
yang dilihat perawat di layar USG.
“Nyonya Asli.... mungkin yang
kulihat salah... tapi... kau tidak sedang hamil,” Perawat itu tak melihat ada
bayi dalam kandungan Asli (karena sudah digugurkan sebelumnya).
“Diam kau! Aku sedang hamil 8
minggu. Bayiku panjangnya 8 mm, dan dia mulai tumbuh.” Sentak Asli sembari
terbangun. “Cepat pergi dan panggilkan Dokter!”
“Baiklah, aku akan
memanggilnya....” Perawat itupun berlari keluar memanggil dokter.
Tayyar sampai di dermaga. Dia
disambut Metin. Keduanya membicarakan pengiriman perhiasan ke Roma yang akan
dilakukan Hatice. Metin meyakinkan Tayyar kalau semuanya akan baik-baik saja.
Tayyar lalu memberitahu Metin
soal Taner yang ternyata menyimpan satu berlian milik Ahmed Denizer. Tayyar
memerintahkan Metin untuk membereskan soal Taner.
Dokter menemui Asli. Asli
marah-marah karena perawat tadi tak bisa melakukan USG. Dokter akhirnya buka
suara dan memberitahu Asli bahwa dirinya sudah tidak hamil lagi.
Asli tampak terkejut, “Apa
maksudmu? Omong kosong apa yang kau katakan? Apa yang terjadi pada anakku?”
“Nyonya Asli, sayangnya kami
sudah mengaborsi bayimu. Bayimu sudah digugurkan.” Jawab Dokter.
“Omong kosong apa ini?” Asli
benar-benar terpukul dan menangis. Asli pun berteriak histeris. Dokter akhirnya
menyuntikkan obat penenang pada Asli hingga ia tertidur.
Tayyar pulang ke rumahnya dan
menemui Mert yang sedang duduk melamun di teras. Setelah saling bertanya kabar,
Mert menanyakan keberadaan Pinar yang sudah tak kelihatan berhari-hari, dan
Tayyar memberitahu Mert kalau Pinar sedang berada di rumah ibunya karena sedang
sedikit sakit.
“Bagaimana kau sendiri, Nak?”
tanya Tayyar.
“Aku sedang tidak baik, Yah.
Sebetulnya, aku ingin meminta bantuanmu.” Jawab Mert.
“Kau mencoba bilang bahwa kau
baik-baik saja. Lupakanlah Nilufer dan temukan kekasih baru!” Suruh Tayyar.
“Apakah melupakan itu sangat
mudah, Yah? Aku sungguh mencintai Nilufer.”
“Katakan padaku, barangkali aku
bisa melakukan sesuatu...”
“Nilufer punya pacar yang sakit
jiwa. Pacarnya merekamnya saat bercinta. Pria itu menjebaknya, Yah. Nilufer
dalam kondisi yang buruk. Kita harus menemukan bedebah itu.” Cerita Mert.
Mert lalu mendapat telepon dan
langsung pergi ke teras. Tayyar duduk sendirian di sofa, memikirkan soal
perkataan Mert barusan.
Huseyin pulang ke rumahnya. Dia
langsung masuk ke dalam kamar, dan disusul Melike. Huseyin meminta piyama,
namun Melike malah mengunci pintu kamarnya. Huseyin berbalik dan menggoda
istrinya. Tapi Melike langsung menunjukkan buku tabungan yang ia temukan siang
tadi. Huseyin tampak pucat.
“Apa kau menggeledah sakuku?”
Tanya Huseyin.
“Untuk apa aku menggeledahnya?
Kau yang menjatuhkannya, dan aku menemukannya di bawah kursi.” Jelas Melike.
“Apa yang kau kerjakan, Huseyin? Aku hampir membunuh putriku hari ini. Tapi
sudah jelas, dia tak mengetahui apapun. Buku tabungan ini milikmu.”
“Apa urusanmu? Apa yang akan kau
lakukan?” Huseyin tak mampu menutupi ketakutannya.
“Apa maksudmu? Ada dua puluh
ribu lira di buku tabungan ini, Husetin. Siapa yang menjatuhkan uang sebanyak
ini, lalu kau menemukannya? Katakan padaku! Darimana kau mendapatkan semua uang
ini?” Cecar Melike. “Apa yang kau kerjakan? Apa kau menjual gadis, atau kau
berjudi? Apa kau menerima suap?”
“Kau tahu apa yang kau
bicarakan?” Sentak Huseyin.
“Makanya ceritakanlah tanpa
kebohongan lagi, Huseyin. Atau aku akan cerita ke ibumu dan juga Omer
semuanya...” Ancam Melike.
Huseyin akhirnya buka mulut,
“Itu deposito untuk uang kuliah putri kita. Aku telah menabungnya sejak dia
lahir. Oke? Apa sekarang kau senang?”
Melike tertunduk. “Huseyin,
tolong jangan marah. Maaf aku!”
“Kenapa aku harus marah? Kulihat
kau sangat mempercayai suamimu...”Sindir Huseyin.
“Tolong jangan katakan itu!”
Melike serba salah dan memelas. “Aku benar-benar takut. Aku tahu setiap hela
napasmu Cuma buat kami. Kau selalu bekerja sampai larut. Semoga Allah
menghukumku. Kenapa aku bisa berpikiran buruk seperti tadi? Maafkan aku!”
Melike memeluk Huseyin, namun
suaminya tetap bertampang dingin.
Omer dan Elif berada di sebuah
kamar hotel. Elif datang membawa secangkir teh. Omer lalu menebak kalau Elif
tak bisa memasak karena punya banyak pembantu di rumahnya. Namun Elif
menyanggahnya. Dia belajar banyak soal masakan selama tinggal di Roma. Dia
merindukan rumahnya di Roma. Dia rindu memasak di sana.
“terkadang, setiap kali aku
membuka mata saat pagi, aku berharap berada di sana....tapi kemudian aku
mengingat semuanya... satu per satu.” Elif tampak bersedih.
Omer memegang pundaknya,
keduanya lalu bertatapan.
Omer membelai tato di punggung
Elif.
“Tato ini belum bisa menjelaskan
figurmu. Karena aku tak bisa melihat tato ini secara utuh (sebagiannya lagi
tertutupi baju Elif). Bukankah ini huruf Braile (tulisan di tato Elif)?
Tulisannya ‘Kosulsuz’ (tak bersyarat).”
Elif tersenyum, “Kau pasti
mempelajarinya dari Internet!”
“Ya, aku mempelajarinya.”
Omer lalu menarik sedikit baju
Elif untuk mencari tahu tulisan sambungannya (tato), namun Elif risih dan
melarangnya.
“Kau ini laki-laki yang cerdas.
Aku yakin kau bisa menebaknya.”
“Apa kata sambungannya itu
‘Sevgi’ (Cinta)?”
Elif mengangguk, “Ya. Kosulsuz
Sevgi (Cinta Yang Tak Bersyarat). Itulah satu-satunya yang aku cari dalam
hidupku...”
“Apa kau sudah menemukannya?” Tanya
Omer.
“Jawaban pertanyaanmu ini
tersembunyi di dalam diriku.” Jawab Elif.
Mereka kembali bertatapan.
“Elif, jika kau bersamaku, aku
akan bersumpah setia padamu...” Ucap Omer sendu.
Omer lalu mencium punggunya
Elif. Mereka pun akhirnya berciuman mesra.
Hari berganti pagi. Omer dan
Elif tidur bersebelahan tanpa pakaian, hanya tertutupi selimut. Omer terus saja
memandangi Elif yang masih tertidur. Elif pun terbangun.
“Ada apa?” Tanya Elif.
“Semunya terjadi begitu cepat,
tapi juga sangat lambat. Aku tidak membuatmu terluka kan?” Ucap Omer.
“Kuterima apapun yang kau
berikan...” Balas Elif.
Omer tersenyum, dan mengecup
kening Elif.
“Aku bersumpah bahwa cinta tak
bersyarat yang kau cari... aku akan melakukan apapun dengan sekuat tenaga untuk
memberikannya untukmu.” Ujar Omer. “Namun kau juga harus berjanji padaku!”
“Apa?”
“Kau masih ingat akan apa yang
kuucapkan saat di Polonezkoy? Tak masalah apapun yang terjadi, tak masalah
seberapa buruk itu, semuanya akan menjadi nyata. Kejujuranlah yang aku cari.
Sebuah ketulusan!” Pinta Omer.
Elif langsung sedikit pucat
lantaran ada rahasia yang masih ia sembunyikan dari Omer (kalau dia seorang
kurir pencucian uang seperti Sibel).
Saat Omer ke kamar mandi, Elif
masih saja hanyut dalam kekhawatirannya. Elif pun ingin memberitahu Omer
tentang rahasianya, namun Omer keburu mengangkat telepon dari Arda. Ada sesuatu
yang penting. Omer pamitan dengan mencium Elif, lalu ia pergi.
Metin menelepon Komisaris Ali
untuk memastikan semuanya aman (soal pengiriman barang ke Roma lewat bandara).
Setelah itu Metin melihat Nilufer.
“Kita harus bicara!” Pinta
Nilufer.
“Jika tentang Roma, tunggu aku
di rumah. Aku punya pekerjaan selama dua jam. Aku akan pulang setelahnya.”
Suruh Metin sembari memberi Nilufer kunci apartemennya.
“Tak, kita harus bicara
sekarang!” Desak Nilufer.
“Aku sudah bilang, aku punya
kerjaan, Nilufer. Nanti!” Metin kesal.
Saat Metin hendak masuk ke dalam
mobilnya, Nilufer meneriakinya, “Kau tak bisa meninggalkanku seperti itu! Aku
sudah melihat CD itu. CD kita.”
Metin tampak shock sembari
menghela napas.
Arda, Pelin, Huseyin, dan Omer,
tengah memeriksa mobilnya Taner.
Petugas forensik lalu datang.
Dia mematikan lampunya hingga keadaan menjadi gelap. Setelah itu si petugas
menerangi bagian bagasi mobil dengan lampu khusus. Terlihat ada jejak darah
disana.
Pelin bertanya, apa ada lagi.
Petugas forensik memberitahu kalau di setir kemudi juga ada jejak darah. Mereka
kembali memeriksa.
“Dia telah mengemudikan mobilnya
selama beberapa waktu meski ada jejak darahnya,” Kata petugas forensik.
Arda bertanya apakah ditemukan
juga jejak darah di pakaian Taner. Petugas Forensik mengiayakan. Ditemukan di
kemejanya.
Huseyin lalu memberitahu Omer,
“Omer, aku bilang pada diriku sendiri untuk tidak memberitahukannya... tapi aku
harus mengatakannya. Kita semakin tua... tapi kita belum mati. Alhamdulillah.
Kita masih bisa bernapas. Sebagaimana menantu pembunuh itu (Taner)!”
Omer tampak diam, bingung, tak
tahu harus berkata apa.
Di kantor, Bahar menemui Elif
dan langsung berucap, “Elif, semoga Tuhan mengampunimu.”
“Selamat pagi Bahar!”
“Aku baru saja melihat Tuan
Levent. Kau menolak pria itu kemarin. Itu sangat mengecewakan. Lalu Omer muncul
dan adegan bodoh terjadi. Dia sangat marah.”
“Ya, yang terjadi, aku sungguh
tak mengharapkannya terjadi. Aku akan menemuinya (Levent) lain waktu.”
“Insha Allah,” Ucap Bahar. “Eh,
apa yang kau lakukan kemarin? Apa kini kau sudah menjadi pacarnya?”
Elif mengangguk. “Ya!”
“Tapi kenapa wajahmu tampak
suram?” Bahar heran. “Bukankah kau menemukan cinta dalam hidupmu, kenapa kau
bersedih seperti ini?”
“Ada sesuatu yang aku
sembunyikan dari Omer,” Jelas Elif.
Bahar tampak antusias, “Apa
itu?”
“Saat Nilufer diculik, aku sudah
membohonginya (Omer), meskipun dia sudah bertanya padaku....”
“Apa yang bisa terjadi, Sayang?
Semua orang bisa berbohong.”
“Tapi sesuatu yang membuat Omer
marah adalah kebohongan. Dia sangat membenci kebohongan. Dan apa yang akan aku
katakan padanya ini sebuah kebohongan yang sangat besar. Apa yang harus
kulakukan?”
“Kau harus mengatakan yang sebenarnya!”
“Kau pikir begitu?”
“Tentu. Karena Omer sangat
berarti bagimu, cintamu, dan kau bilang kalau dia tidak suka dibohongi. Apalagi
yang bisa kau lakukan? Aku pikir kau harus memberitahunya yang sebenarnya.
Selain itu, dia akan memahami jika dia benar-benar mencintaimu!” anjur Bahar.
Metin membawa Nilufer di
mobilnya. Sepanjang perjalanan, keduanya bertengkar. Nilufer menangis dan
sangat kecewa pada Metin.
“Bravo! Kau sungguh aktor hebat,
dan aku benar-benar bodoh. Pria macam apa ini? Bagaimana kau bisa kau melakukan
ini padaku? Itu artinya kita telah melewati apapun dengan sebuah kebohongan.”
“Nilufer, tak seperti itu Pria yang menyuruhku untuk menculikmu
(Tayyar) mulai berbahaya, dan aku harus melakukan sesuatu. Apa kau mengerti?
Aku tak punya pilihan lain.” Metin membela diri.
“Dan kau menjualku untuk
menyelamatkan dirimu sendiri, benar begitu? Bukankah kau bilang padaku kalau
kau tak bekerja pada siapapun? Bukankah kau adalah bos dirimu sendiri?” Nilufer
tak habis pikir.
“Nilufer, aku sudah hancurkan CD
itu....aku juga sudah menghapusnya dari laptop!”
“Bagaimana aku bisa
mempercayaimu? Aku mempercayaimu sekali dan telah membuat kesalahan dalam
hidupku. Aku mempercayaimu seperti aku mempercayai ayahku...lalu apa yang kau
lakukan? Kau memanfaatkanku!”
Metin lalu menepikan mobilnya
dan berujar, “Aku bersumpah tak memberikan CD itu pada siapapun. Aku tak mau
beresiko. Jika kau mau, aku bisa menembak diriku sekarang. ...... aku tidak
pernah mencintai seseorang seperti aku mencintaimu. Aku jatuh cinta padamu.”
Huseyin, Pelin, Arda, dan Omer
sedang berada di pengadilan. Mereka sedang menunggu putusan hakim dari luar
ruangan. Huseyin ingin agar Taner segera ditahan. Namun Omer masih yakin kalau
Taner bukanlah pembunuh Ahmed dan Sibel. Mereka harus menunggu tes DNA yang
membuktikan kalau darah yang ditemukan di mobil dan baju Taner adalah darahnya
Ahmed maupun Sibel. Huseyin kesal, dan menyuruh Omer bilang saja ke Deputi.
Jika barang bukti mereka tidak lengkap, bisa-bisa Taner tidak akan jadi
ditahan.
“Omer, Pak Huseyin benar kali
ini. Semua bukti mengarah ke Taner!” Ucap Arda.
“Kadang suara hati kita sendiri
bisa jadi salah, Omer!” Tambah Pelin.
Di tempat terpisah, Levent
mendatangi Bahar untuk memberikan surat pengunduran diri dari Perusahaan
Denizer. Bahar terkejut. Namun Levent sudah mantap untuk mundur. Dia terlihat
sangat marah. Levent bahkan ingin memutuskan hubungannya dengan Bahar. Bahar
tak bisa berbuat apa-apa.
Kembali ke pengadilan. Omer dan
tiga rekannya masih sabar menunggu. Deputi akhirnya keluar, dan mengabarkan
kalau hakim menyetujui untuk memenjarakan Taner. Deputi lalu mengucapkan
selamat pada Huseyin, karena berhasil menutup kasus pembunuhan itu.
Sementara itu Omer tampak shock
dan masih ragu.
“Bukan Taner, Pelin.”
Tak lama kemudian, Taner
digiring dua petugas dari ruang sidang. Dia terus berteriak kalau dirinya tak
bersalah, dan memohon Omer untuk menyelamatkannya. Namun Huseyin malah
mengoloknya.
Di Bandara, Nyonya Fatma
mengantar Hatice yang siap mengantarkan barang ke Roma. Nyoya Fatma tampak
cemas. Anak buah Metin datang membawa koper. Dia memberi sedikit pengarahan
pada Hatice. Setelah itu Hatice menerima kopernya, dan pamitan pada ibunya.
“Semoga Allah membuka jalan
untukmu....”
Hatice pun mulai melangkah ke
dalam bandara dengan membawa kopernya. Kopernya melewati pemeriksaan. Hatice
tampak gugup. Setelah itu dia mengambil kopernya dan kembali berjalan dengan
tenang menuju ruang tunggu.
Tayyar menghubungi Metin untuk
memberitahunya soal Taner. Tayyar meminta Metin untuk masuk ke dalam penjara
dan menembaknya. Namun Metin tak bisa, karena sedang bersama Nilufer di mobil.
Metin terpaksa menurunkan
Nilufer di tepi jalan, namun dia akan mencarikannya taksi. Nilufer bertanya
siapa orang yang menelepon Metin barusan. Metin tampak pucat.
“Ayahku....” Jawab Metin.
Tak disangka, ada dua polisi
lalu lintas yang menghadang Metin.
Di bandara, dua orang polisi
memanggil Hatice. Hatice ketakutan saat mereka menghampirinya.
Sementara itu, Taner dibawa
menggunakan mobil menuju ke penjara. Taner bertanya-tanya soal Tayyar.
Bagaimana bisa Tayyar tahu soal berlian itu. Taner pun mengingat perkataan
Pinar sebelumnya. Taner akhirnya yakin kalau berlian-berlian tu ada pada
Tayyar.
Tayyar diam-diam mendatangi
apartemen Metin yang sedang kosong. Setelah berkeliling, akhirnya Tayyar
menemukan kamera handycam yang disembunyikan Metin di dalam buku pajangan.
Tayyar membuka isi filenya. Rekaman Metin dan Nilufer yang sedang bercinta,
akhirnya diketahui Tayyar. Pria itu tampak menahan amarahnya.
Nilufer gugup saat melihat dua
polisi lalulintas menghentikan mobilnya. Metin menyakinkan Nilufer kalau
mereka hanya memeriksa surat-surat. Tapi dua polisi itu ingin membawa Metin ke
kantor polisi.
Di rumah sakit, Asli tampak
menangis sendiri di samping jendela. Zerin datang, dan bertanya kenapa. Asli
menjerit histeris pada ibunya dan menyebutnya pembunuh karena telah
menggugurkan bayinya. Asli lalu menanyakan dimana Taner. Asli menjadi tak
terkendali. Penyakit jiwanya kambuh, hingga ia mendorong Zerin ke jendela. Zerrin
akhirnya jatuh dan kepalanya membentur lantai. Darah keluar dari belakang
kepalanya.
Omer menemui Elif di tepi
pantai. Keduanya berpelukan sebentar.
Omer berniat memberitahu Elif
soal Taner. Namun Elif memaksanya untuk mendengarkannya sekarang.
“Omer aku ingin mengatakan
sesuatu. Sekarang atau tidak pernah sama sekali. Mungkin lain waktu aku tak
punya keberanian untuk memberitahumu. Jadi kumohon, tenang dan dengarkan aku!
Jangan mengatakan apapun!” Ucap Elif.
Omer begitu penasaran.
Elif kembali melanjutkan
kata-katanya, “Apa kau ingat saat kau bilang padaku pagi ini, bahwa yang kau
inginkan di antara kita telah menjadi nyata? Aku tidak ingin menjadi Sibel
kedua dalam hidupmu. Omer, aku sudah membohongimu. Aku tidak pergi ke Roma
untuk menjual perusahaanku. Metin mulai mengancamku setelah Nilufer diculik.
Dia memaksaku, agar aku bisa mendapatkan kembali adikku. Aku dipaksa. Saat itu
aku sendirian. Aku tak punya pilihan lain. Saat aku bersamamu di Roma.... aku
melakukan pencucian uang haram. Aku seorang kurir.”
Elif mulai menangis. Omer hendak
memegang tangannya naun Elif mencegah, “Omer, tetap diam, kumohon....bukan
hanya ini. Metin memaksaku membuat perhiasan palsu. Kami menjualnya di Roma
dengan harga yang lebih tinggi. Hari ini, seorang kurir dikirim ke Roma. Dia
punya video rekaman CCTV saat aku melakukan pencucian uang itu. Dan ada banyak
dokumen yang kutandatangani. Aku seorang kriminal. Aku seorang penipu yang
melakukan pencucian uang haram.”
Omer diam dan tak bisa berkata
apa-apa. Dia benar-benar shock dan tak menyangka. Dia berdiri membelakangi
Elif. Sedangkan Elif menangis di belakangnya.
Sementara itu, Huseyin membuka
kandang burung merpati milik Omer.
Mendadak, apa yang terjadi
tanggal 12 Maret malam, saat Ahmed Denizer dan Sibel terbunuh akhirnya
terungkap.
FLASHBACK.
Ahmed Denizer dan Sibel sedang
berada di dalam mobil yang diparkir di atas bukit, malam tanggal 12 Maret.
Sibel meminta uangnya pada Ahmed, namun Ahmed butuh waktu untuk itu.
Tiba-tiba, muncul seseorang (tak
diperlihatkan wajahnya) memakai mantel dan bersarung tangan, mengetuk kaca
jendela mobilnya Ahmed.
Ahmed menoleh ke arah orang itu
dan tampak terkejut sembari menurunkan kacanya. Namun Ahmed langsung ditembak
hingga tewas dan darahnya menyiprat ke wajahnya Sibel.
Sibel melihat pembunuh itu dan
sepertinya dia mengenali orang itu.
“Apa yang kau lakukan disini?
Kenapa kau membunuhnya? Kenapa?” Sibel menjerit ketakutan.
Sibel lalu dibawa ke gudang yang
letakknya tak begitu jauh dari lokasi mobil Ahmed Denizer. Disana Sibel memelas
agar tak dibunuh.
“Kumohon, kau tak akan melakukan
ini padaku, benar kan?” Sibel menangis.
Namun pembunuh itu mengarahkan
pistolnya ke Sibel.
“Benarkan, Kak?” Sibel kembali
memanggilnya. “Lihatlah aku! Kau dan aku adalah keluarga. Kau tak akan melukaiku,
kan? Kumohon!”
Akhirnya wajah pembunuh itu
diperlihatkan. Dialah Huseyin. Kakak Omer.
“Apa yang kau lakukan di mobil
itu? Apa yang kau lakukan?” Sentak Huseyin.
“Aku akan bilang. Aku akan
bilang. Aku akan memberitahumu segalanya. Tapi kumohon, letakkan senjatamu!”
Sibel memelas.
“Bicaralah! Apa yang kau lakukan
di mobil itu?”
“Aku seorang kurir. Aku bekerja
menjadi kurir. Itu kenapa aku menemui Ahmed. Mereka punya berlian. Aku ditugasi
menyelundupkan berlian-berlian itu ke luar negeri. Aku seorang pencuci uang.
Aku menemuinya malam ini untuk berlian-berlian itu. Tapi aku bersumpah, tak ada
hal yang lain. Yang kukatakan semuanya adalah benar. Aku sangat mencintai Omer.
Aku bersumpah, tak akan pernah mengkhianatinya. Aku melakukannya demi
pengobatan ayahku....”
Huseyin marah hingga menampar
Sibel.
Sibel bersumpah tak akan
memberitahu siapapun soal kejadian itu.
Tapi Huseyin menyayangkan,
“Kenapa kau harus muncul di depanku (malam ini)? Apa yang harus kulakukan
sekarang? Kau melihat semuanya.”
Huseyin tak ingin mengambil
resiko.
“Aku bersumpah... aku tak akan
bilang pada siapapun!”
Sibel membuat kesepakatan dengan
Huseyin untuk tak saling menceritakan rahasia mereka agar Huseyin tak
membunuhnya. Namun Huseyin langsung membunuh Sibel dengan menembak persis
kepalanya.
Setelah itu, Huseyin menyeret
Sibel kembali ke mobil. Diletakkan duduk di sebelah Ahmed Denizer.
Flasback
berakhir.
Huseyin duduk di dekat kandang
burungnya. Ia melepas burung merpatinya, lalu mengambil sarangnya. Rupanya ia
menyembunyikan sesuatu di bawah sana.
Saputangan hitam, yang membungkus puluhan
butir berlian warna merah mudah. Huseyin tersenyum melihatnya.
Kembali ke Elif dan Omer yang
berada di tepi pantai.
Elif menangis, “Aku tahu, kau
tak akan pernah memaafkanku. Kau pria yang sangat jujur dan juga bersih.
Keluargamu sangat baik. Jika aku berada di posisimu, akupun tak ingin hidupku
dikotori lagi. Selamat tinggal Omer!”
Omer tampak shock saat Elif
berucap seperti itu.
Elif lalu berbalik dan
meninggalkan Omer begitu saja. Omer tak kuasa menahannya.
PERINGATAN : Bisa saja ada adegan yang terpotong lalu ditayangkan di episode berikutnya.
DAFTAR SINOPSIS TERKAIT
Sinopsis Lengkap Cinta Elif episode 21 Rabu 28 Oktober 2015
Reviewed by Riris Tania
on
13.06
Rating:
Reviewed by Riris Tania
on
13.06
Rating:









































































































