Sinopsis Lengkap Cinta Elif episode 21 Rabu 28 Oktober 2015








Sinopsis Lengkap #CintaElif episode 21 Rabu 28 Oktober 2015



Di lobi perusahaan Denizer, Arda terus saja menasehati Omer sembari menunggu Pelin selesai menggeledah ruang kerja Taner. Saat mereka akan pergi, tiba-tiba Omer menoleh ke arah kantor Elif. Pelin memanggilnya. Namun Omer tetap terdiam di sana.

Di ruang kerjanya, Elif memandangi foto dirinya bersama ayahnya. Levent lalu masuk, mengajak Elif untuk menonton film di bioskop. 
 Namun Elif menolaknya karena dia harus masih mengepaki barang-barangnya sebelum perusahaannya pindah.
 
Tahu-tahu Omer muncul. Elif bertampang jutek.
“Kita harus bicara,” Ucap Omer.
“Aku memang mengingikannya... tapi aku baru saja akan pergi bersama Levent,” Elif menolak ajakan Omer.
Elif mendadak romantis dengan Tuan Levent dan mengajaknya keluar ke bioskop demi membuat Omer cemburu.
 
Bukannya menyerah, Omer justru mengikuti kemana pun Elif dan Levent pergi.


Di rumah sakit, Asli tampak gugup saat seorang suster mengisi infusnya.
“Sssst, tutup pintunya agar aku bisa mengatakan sesuatu!” Suruh Asli.
“Baik..” Jawab Suster itu. “Ayo katakan!”
“Mendekatlah!” Pinta Asli.
Suster itu mendekat. “Kau tidak akan bilang ke siapapun... sepakat?”
Suster mengangguk. Asli menarik tangannya dan memelotot. “Sepakat?”
Lagi-lagi suster itu mengangguk.
“Bagus. Aku tahu kau tak akan membuatku marah,” Ucap Asli. “Dengarkan aku baik-baik. Aku hamil.”
Suster itu tampak sedikit terkejut, “Bagaimana aku bisa menolongmu?”
“Pertama, sembunyikan apapun obat yang mereka berikan untukku. Ibuku tidak tahu tentang bayi ini, jadi kau harus membawaku ke ruang USG tanpa memberitahunya. Aku sedikit mengalami pendarahan. Itu terjadi sebelumnya juga. Makanya aku perlu melihat bayinya di USG. Oke?”
Suster itu mengangguk lagi. Tahu-tahu Zerin muncul mengejutkan.
 “Asli, apa ada sesuatu yang terjadi?” Tanya Zerrin.
“Perawat ini sedang membenarkan posisi bantalku.” Ucap Asli. “Terimakasih. Aku sekarang merasa lebih baik.”
Suster itupun pergi. Zerin lalu duduk di samping Asli.
“Bagaimana keadaanmu, putriku yang cantik?”
“Aku baik, Bu. Aku baik.”
Setelah itu Asli tampak melamun.

 Levent dan Elif sedang berada di bioskop. Mereka akan menonton film Turki. Setelah membeli tiket dan popcorn, keduanya berjalan ke ruang teater. Levent tampak memegangi pinggang Elif. Omer melihatnya dari kejauhan dan cemburu.
 
 Elif dan Levent pun masuk ke ruang teater untuk menonton filmnya. Setelah lampunya dimatikan, Omer ikut masuk dan menonton di kursi belakang. Elif menyadarinya, lalu sengaja mengajak Levent berbincang mesra agar membuat cemburu. Omer semakin merengut. Elif lalu menolehnya dan tetap menatapnya dingin.
 

Di kapal, Tayyar terus saja menanyai Pinar soal Taner sambil menodongkan pistol.
“Apa yang kau bicarakan dengan Taner?” Sentak Tayyar.
“Tak ada.”
“Apa yang kau bicarakan tentang diriku?”
“Aku bersumpah tak mengatakan apapun....” Pinar terus saja menangis.
“Jika aku mendengarnya dari Zerin, aku akan membuat ibumu menjadi mayat dan akan kubakar kau di depannya....” Ancam Tayyar.
“Aku bersumpah Tayyar. Aku tak mengatakan amampun tentangmu pada Taner. Aku bersumpah....”
Tayyar menodongkan pistolnya ke kepala Pinar. “Jadi, kau mengakui kau tidur dengan Taner?”
“Aku bersumpah... aku tidak tidur dengannya...”
“Mengapa aku tak begitu yakin? Kenapa aku tak bisa mempercayaimu?” Teriak Tayyar sembari menarik pelatuk pistolnya. Lagi-lagi isinya kosong. Tayyar lalu memberitahu Pinar. “Kau benar-benar beruntung.... sangat... sangat....”
 
 

Elif dan Levent lalu datang ke kafe. Lagi-lagi Omer mengikutinya dan duduk di meja yang tak begitu jauh dari mejanya Elif. Dia sengaja mengeraskan suaranya saat memesan minuman ke pelayan agar Elif dan Levent melihatnya. Omer.
Levent terlihat tak suka. “Apa yang dia lakukan disini?”
“Aku tak tahu,” Jawab Elif.
“Aku bisa menyuruhnya pergi jika dia mengganggumu...”
“Jangan, bukan seperti itu... biarkan saja dia makan dimanapun yang dia inginkan!” Pinta Elif.
Setelah itu Elif menutupi wajahnya dengan buku menu. Omer terus saja memandanginya dari jauh. Levent lalu memanggil pelayan untuk membuat pesanan. 

“Aku Cuma ingin salad dan air putih...” Ujar Elif.
“Dan kau tuan?” Tanya Pelayan.
“Aku steak dan salad....” Jawab Levent.
Lalu Elif mendadak permisi ke toilet. Omer menganggapnya seperti kode karena Elif sempat menoleh ke arahnya. Dan benar, Omer ikut masuk ke toilet itu lalu mengunci pintunya. Keduanya tampak bertengkar.
 “Omer, apa yang kau lakukan? Jangan bodoh!”
“Apa yang kau lakukan? Apa yang kau lakukan bersama pria itu?”
“Ada apa denganmu?”
“Apa masudmu dengan bertanya 'ada apa denganmu'?”
“Maksudku, semua ini bukanlah urusanmu!”
“Kemarin, kau datang padaku dan menceritakan semuanya, dan lihat apa yang lakukan sekarang. Melawan api dengan api....”
“Darimana kau punya hak bicara seperti itu padaku? Bisakah kau minggir? Aku ingin kembali ke Levent!” Sentak Elif.
Namun Omer menutupi pintunya dengan badannya.
“Kau tak akan bisa...” Ujar Omer.
“Apa maksudmu dengan kau tak akan bisa?”
“Kau tak bisa pergi!”
“Omer, Levent sedang menungguku.”
“Kau tak bisa meninggalkanku dan pergi menemui pria bodoh itu! Aku tak akan membiarkannya!”
“Oh ya? Siapa dirimu? Siapa kau hingga berhak menyekapmu disini? Orang lain tak terganggu sama sekali dengan persahabatan teman-teman mereka. Jadi,,, aku akan tetap makan siang dengan temanku...”
“Mulai dari sekarang, kau tidak akan ngobrol lebih lama lagi dengan pria itu. Selesai. Kau bukan temannya lagi..” Seru Omer.
“Itu bukan urusanmu!” Elif memelotot.
“Kau tak bisa membayangkan betapa pedulinya diriku. Oke. Semua selesai. Tak akan ada makan siang,” Omer terus mendikte Elif.
“Omer, aku tidak akan pergi kemanapun. Itu akan menyinggung Levent.”
 Omer tak mau tahu. Omer lalu memegangi tangan Elif dan menariknya, berjalan menemui Levent. Semua orang memperhatikannya.
“Elif, apa yang terjadi?” Tanya Levent terkejut.
“Levent, tolong maafkan aku!” Ucap Elif.
Levent lalu menatap Omer seolah menantang, “Elif tak akan pergi kemana-mana bersamamu.”
“Siapa yang bilang?” Tantang balik Omer.
“Aku.” Jawab Levent.
“Benarkah? Menarik sekali...” Omer meledek.
 “Lihat aku...” Levent marah dan menunjuk-nunjuk Omer.

“Turunkan tanganmu sebelum aku mematahkan jari-jarimu!” Seru Omer.
“Apa yang kalian berdua lakukan? Tenanglah!” Elif mulai panik.
“Oke Elif. Ambil tasmu dan tunggu aku di luar sana!” Suruh Omer.
“Siapa kau hingga bisa menyuruhnya seperti itu?” Tanya Levent.
“Aku pacarnya, semuanya jelas?” Jawab Omer.
 Elif terbeliak tak percaya saat mendengarnya.
Omer kembali mengancam Levent, “Jika kau pria sejati, duduk manislah dan nikmati makan siangmu. Jangan sampai ke terkencing-kencing!”
“Lalu apa yang terjadi jika aku tak mau? Dengar, aku tak tahan dengan sifat pemaksa. Jangan memancingku!” Levent tak takut.
 Omer pun mendorong Levent ke kursinya. Elif meminta Levent menahan diri, Omer lalu memberitahu Levent agar tak bicara lagi dengan Elif mulai dari sekarang. Setelah itu Omer mengajak Elif pergi. Namun Elif tak mau Omer menyentuhnya. Levent hanya bisa menahan kesal di kursinya.

Di rumah sakit, Zerrin menawarkan beberapa majalah untuk Asli. Namun Asli menolak. Begitupun saat Zerrin menawari makan. Asli juga tak ingin. Zerrin pun pergi dan berjanji akan kembali keesokan harinya.
Sebelum Zerin pergi, Asli sempat meminta sesuatu.
“Bu, bisakah kau memberiku seorang perawat?”
“Apa yang terjadi?”
“Ini melukaiku (Asli menunjuk selang infus di pergelangan tangannya). Dia bisa menggantinya....”
Zerin setuju dan akan mengirim seorang perawat nanti. Setelah itu ia pergi.
Asli mencoba bangun, dan berjalan dengan membawa infusnya. Seorang perawat datang, dan Asli memintanya untuk membawanya ke ruang USG. Namun tak bisa sekarang. Suster itu berjanji akan membawanya esok.

Elif terus saja berjalan penuh amarah sembari mengomeli Omer. Sedangkan Omer terus saja mengejarnya di belakang. Mereka lagi-lagi berdebat.
 

Sementara itu, Bahar menemui Levent di kantor.
“Levent, apa yang terjadi? Kenapa kau kembali begitu cepat?”
Levent tampak marah hingga menatap Bahar dengan tatapan yang sangat sinis. “Aku tidak tahu....”
“Apa yang kau pikirkan? Jelaskan! Apakah Elif mengatakan sesuatu?” Tanya Bahar.
“Tinggalkan aku sendiri, Bahar!” Sentak Levent dengan begitu kasarnya. “Aku tak ingin menghancurkan hatimu, jadi tinggalkan aku sendiri!”
Bahar benar-benar keheranan. Tapi ia tak bisa berbuat banyak.  Sepertinya Levent mencintai Elif dan sedang cemburu kepada Omer.
 Omer terus saja mengejar Elif yang tak mau bicara dengannya.
“Baiklah, aku memang seperti orang bodoh...” Omer mengolok dirinya sendiri.
Elif tetap bertampang jutek.
Omer lalu berjalan di samping Elif. “Kau memang pelari ulung. Kau pasti sering berlatih?”
Elif terus saja membisu.
“Ahhh, memang tidak mudah membuatmu tertawa!” Omer akhirnya lelah dan menarik tangan Elif.
“Oke. Kau menang. Aku minta maaf.”
“Untuk apa?”
“Untuk perkataanku barusan.”
“Terus apa lagi?”
“Dengar! Aku tak meminta maaf untuk sentakan barusan!”
“Kenapa kau tak datang ke restoran semalam?”
Omer tampak diam. Elif semakin kesal.
“Omer, kau tak bisa bermain-main denganku!” Ujar Elif.
“Tentu saja tidak...” Jawab Omer.
“Baiklah, jawab pertanyaanku yang sudah kutanyakan begitu sederhana tadi!” Pinta Elif.
Omer tampak berpikir. Diam.
Elif tak habis pikir. “Kau tipe orang yang terus saja bicara sekalipun kusuruh kau diam. Kau pintar bermain kata, tapi ketika kau bicara denganku, kau mendadak diam begini. Aku lelah menduga-duga semua itu sendiri. Apa kau tahu pengaruh senyummu bagiku? Aku terus saja memikirkan kebodohanmu berjam-jam. Aku berusaha menerka, mencari-cari hal yang tak terucapkan, apa kau tahu itu....?”
Omer kembali menarik tangan Elif, namun kali ini ia mencium Elif.
 
 
 Elif pun langsung bungkam dan membalas ciuman Omer itu.
Ciuman Omer membungkam semua amarah Elif sekaligus menjawab pertanyaan Elif apakah Omer benar-benar mencintainya.
“Kau terus saja bertanya padaku, tapi kau tak pernah berhenti berkata pada dirimu sendiri, Signorina (Nona)! Apa kau sudah menemukan jawabanmu?” Tanya Omer.
Elif menatap Omer. Bibirnya terkunci.
“Kelihatannya bagiku itu tidak cukup....”
Mereka pun kembali berciuman.

Hari berganti malam. Omer dan Elif duduk di taman sembari memakan kebab ikan. Elif tampak tak begitu suka. Namun Omer menggodanya. Jika Elif memakannya, dia berjanji akan memakan sushi (yang tak disukai Omer) besoknya. Elif setuju. Gadis itupun menikmati makanan yang baru dicobanya.
“Sebetulnya, aku tak punya bayangan saat aku mengundangmu makan malam...”
“Saat inipun aku juga tak bisa membayangkannya. Sebetulnya bagus kau tidak datang semalam, karena servis restoran itu tidak bagus.”
Elif lantas menanyakan soal Taner.






“Bagaimana dengan Taner?”
“Aku tak tahu...” Jawab Omer.
“Bagaimana bisa kau tak tahu? Kau tahu kan kalau Taner bukanlah seorang pembunuh.”
“Aku akan mengatakan sesuatu, tapi kau jangan sedih. Ada hal yang disembunyikan Taner tapi kau tidak tahu...”
“Tentu saja aku tahu, dia anggota keluargaku.”
“Baiklah, aku akan diam kalau begitu...”
“Sebentar sebentar. Katakan padaku apa yang kau tahu.”
“Dengar aku Elif. Ada hal yang aku ketahui tentang Taner... dia menipumu dan juga kakakmu.”
“Tentang apa?”
“Dia berselingkuh....”
“Apa? Bagaimana bisa, Omer? Maksudku....dengan Pinar?” Tebak Elif. “Pinar, pacarnya Paman Tayyar. Ya Tuhan...!” Elif benar-benar tak menyangka. “Bagaimana ini bisa terjadi? Ini akan menghancurkan Asli saat dia tahu. Dia begitu mencintai suaminya.”
Omer diam saja.
“Apa kau yakin?” Tanya Elif lagi.
“Jika aku tak yakin, aku tak akan memberitahumu.” Jawab Omer. “Semuanya terserah padamu. Apakah kau mau memberitahu Asli atau tidak, itu terserah padamu. Tapi itulah yang kuketahui. Taner menikahi kakakmu untuk keuntungannya sendiri. Dia tidak mencintai Asli.”
“Kau menghakimi terlalu cepat juga. Apa yang terjadi di antara dua orang hanya mereka sendiri yang tahu. Kau sedang memfitnah keluargaku,” Elif menjadi marah. “Bagimu, semua anggota keluargaku memiliki rahasia... dan semuanya pembohong.
“Aku tak bicara seperti itu jika itu tidak benar, Elif!”
“Lalu, apa yang terjadi? Katakan padaku, agar aku tahu...”
“Keluargamu memang sangat berharga bagimu. Dan bagiku juga. Tapi ada banyak sesuatu yang tak kau ketahui tentang keluargamu sendiri. Contohnya Nilufer. Kau bilang kalau kau sangat mengenal Nilufer, tapi kau tidak tahu soal hubungannya dengan Mert. Begitupun Asli. Dia tidak memberitahumu soal pertengkarannya dengan ayahmu. Dan jika kau ingin soal Taner, dia hanya peduli pada dirinya sendiri...”
“Sebentar, kumohon. Kumohon jangan berkata seperti itu lagi tentang keluargaku. Mungkin bagimu mereka Cuma nama-nama yang ada dalam sebuah file (berkas laporan), tapi mereka adalah orang-orang yang kusayangi. Tidakkah kau akan sakit hati saat aku berkata hal yang sama tentang keluargamu?” Elif kembali marah pada Omer.
“Tak ada pertengkaran seperti itu dalam keluargaku!” Omer membela keluarganya. “Keluargaku adalah orang-orang yang hidup di dunia kecil mereka.”
Omer lalu menyuruh Elif melihat sebuah rumah (keluarga) dari perspektif lain. Omer juga bilang, bahwa siapapun mampu berbohong karena uang.
Elif kesal dan meninggalkan Omer sendirian.

Di rumahnya, Melike terus saja menggerutu saat merapikan tempat tidurnya. Ia lalu menemukan buku tabungan yang terjatuh dari kemejanya Huseyin. 
 Dibuka tabungan itu. Atas nama Demet Demir. Saldonya dua puluh ribu lira. Melike terbeliak tak percaya. Ia lalu memanggil putri sulungnya, Demet dan bertanya darimana anaknya mendapatkan uang sebanyak itu.
Setelah dicecar hingga dijambak oleh ibunya, Demet tetap saja tak mengerti buku tabungan siapa ibu. Ibunya akhirnya percaya, dan bertanya-tanya dalam hati, mungkinkan itu milik suaminya (Huseyin).

Elif dan Omer duduk di bangku taman.
“Itulah malam (malam terbunuhnya Ahmed dan Sibel) yang tak bisa kita hindari... yang mempertemukan kita bersama. Aku tak tahu apakah kau menyebutnya takdir ataukah nasib buruk. Tapi hidup kita menjadi saling terjalin.  Kita telah melewati banyak hal hingga pembunuhnya ditemukan. Elif, aku ingin kau tahu... aku akan selalu ada di sisimu.” Ucap Omer.
 
 Elif akhirnya tersenyum. Omer pun ikut tersenyum.
“Ayolah Signorina (Nona)! Ceritakan dirimu. Aku dengarkan. Ayo!” Pinta Omer.
“Tak mau. Kali ini giliranmu untuk cerita. Kau tak punya lagi identitas palsu. Ayo mulailah dari awal! Kapan kau lahir? Dimana kau lahir? Apa yang kau sukai saat kau kecil?
Omer lalu menceritakan masa kecilnya.
“Kau tahu, aku bisa diam sampai pagi untuk mendengarkanmu bercerita!” Ucap Elif.
“Dan kau tahu, aku tak akan pernah bosan menatapmu hingga pagi,”Balas Omer.
Keduanya pun saling berpandangan.
 “Aku suka menatap matamu, karena matamu menyiratkan banyak hal. Seperti anak kecil.... mereka tak bisa menyembunyikan perasaannya yang sebenarnya. Semuanya tersirat di mata mereka..... “
Elif menikmati belaian Omer.
“Matamu, pipimu, hidupngmu, bibirmu... aku bisa memandanginya hingga pagi dan tak akan pernah bosan...” Kata Omer.
Lagi-lagi keduanya berciuman.
 “Omer....katakan padaku... aku dengar kau mengatakannya pada Arda!” Pinta Elif yang mengungkit saat Omer mengungkapkan perasaannya tentang Elif pada Arda di kantor.
“Perkataan yang mana?” Omer bingung.
Elif hanya tersenyum. Omer akhirnya paham. Ia pun tertawa.
“Kau pantas dihukum!”
“Bagaimana kau akan menghukumku?”
 Elif lalu duduk bersandar di dada Omer, dan tertidur.

Mert menemui Nilufer di teras rumahnya.
“Darimana kau?” Tanya Nilufer.
“Aku baru belanja. Istanbul Shooping baru saja dibuka. Ada banyak diskon. Aku membeli barang-barang yang keren.” Jawab Mert.
“Apa kau minum lagi?”
“Tak. Aku sedang baik.”
“Terima kasih sudah datang.”
“Tak masalah. Ada masalah apa? Aku dengarkan!”
“Mert, kau satu-satunya teman yang bisa kupercaya.”
“Nilufer, jangan berputar-putar, ayo katakan saja....”
“Aku punya teman lama dari SMA. Kau tidak mengenalnya. Sesuatu yang buruk terjadi padanya. Pacarnya merekam dirinya saat mereka berciuman dan bercinta,” Tutur Nilufer.
Mert tertawa, “Wah... itu hebat!”
Nilufer kesal, “Bisakah kau serius?”
“Baiklah. Aku dengarkan. Katakan!”
“Dia sekarang berada di situasi yang sulit dan meminta pertolonganku. Aku tak tahu bagaimana menolongnya. Itu kenapa aku putuskan bertanya padamu. Jadi katakan padaku, apa yang harus kulakukan?”
“Temanmu itu harus pergi ke polisi Nilufer. Dia tak seharusnya menunggu. Para polisi itu akan menangkap pacarnya.”
“Setuju. Akupun berkata yang sama. Aku punya pertanyaan yang lain. Kenapa ada pria yang sampai berbuat seperti itu (merekam saat bercinta)? Maksudku, apa tujuannya?”
“Mungkin untuk niat buruk atau untuknya berSENSORED.....”
Nilufer langsung pucat. Mert melihatnya dan langsung bertanya, “Apa yang terjadi pada temanmu, kenapa seolaholah kau sendiri yang mengalaminya.....”
“Janga berkata yang bukan-bukan. Jangan membuatku menyesal karena sudah bercerita padamu...!” Sentak Nilufer.
 

Di rumah sakit, saat Asli dan perawatnya hendak pergi ke ruang USG, tiba-tiba Zerin muncul dari ruangan lain. Asli dan perawatnya bergegas masuk ke kamar, sedangkan Zerrin menemui resepsionis dan memintanya untuk mengawasi Asli. Setelah itu Zerin pulang.
Asli dan perawatnya akhirnya pergi ke ruangan USG.

Di Kapal, Tayyar memborgol Pinar ke pegangan tempat tidur. Tayyar sangat marah. Apapun yang berusaha dikatakan Pinar, terus diabaikannya. Pinar terus saja memohon dan menangis. Tayyar lalu keluar dan menyuruh pengawalnya untuk jangan pernah membuka pintu kamarnya Pinar. Setelah itu Tayyar pergi menggunakan boat kecil.

Omer mengantar Elif pulang. Mereka berjalan berdua di tepian pantai, depan rumah Elif.
“Aku sudah mengajakmu berjalan jauh. Kau pasti lelah,” Ucap Elif.
“Tak, ini baik buatku...” Omer tak mempermasalahnnya.
“Aku harus pulang!” Elif pamitan.
“Kau benar. Sudah larut.”
“Selamat malam...”
“Sama-sama...”
Elif berbalik dan hendak menyeberang jalan. Namun Omer memanggilnya, “Apa benar ini sudah larut?”
“Kalau di Roma mungkin sekarang belum larut malam...” Jawab Elif berbalik mendekati Omer.
“Apalagi di Amerika...”
“Tergantung dari mana kau melihat jam..”
“Kau benar. Apa yang sebaiknya kita lakukan sekarang?” Tanya Omer.
“Apa yang sebaiknya kita lakukan sekarang?”
“Jika kau ingin pulang dan beristirahat.... atau melakukan hal yang lain!” Saran Omer.
“Tak, aku tak ingin melakukan hal yang lain,” Jawab Elif.
“Lalu, apa kau tahu apa yang bisa kita lakukan sekarang? Pandangilah jalan yang kita lewati tadi...!”
“Ah, disana sangat dingin!”
“Lalu kita akan temukan tempat minum teh. Itu bisa menghangatkan kita!” Omer terus saja membujuk Elif untuk pergi ke suatu tempat lagi.
Omer lalu menyarankan suatu tempat, “Aku memikirkan suatu tempat.... maksudku... aku akan bilang tapi aku takut membuatmu salah paham.”
“Akupun memikirkan tempat yang sama...” Timpal Elif.
Mereka pun akhirnya pergi lagi ke suatu tempat.







Di rumah sakit, Asli melakukan USG diam-diam dengan perawatnya.
“Bagaimana bayiku?” tanya Asli. “Apa dia baik-baik saja? Apa jantungnya berdetak?”
Asli tampak penasaran dengan apa yang dilihat perawat di layar USG.
“Nyonya Asli.... mungkin yang kulihat salah... tapi... kau tidak sedang hamil,” Perawat itu tak melihat ada bayi dalam kandungan Asli (karena sudah digugurkan sebelumnya).
“Diam kau! Aku sedang hamil 8 minggu. Bayiku panjangnya 8 mm, dan dia mulai tumbuh.” Sentak Asli sembari terbangun. “Cepat pergi dan panggilkan Dokter!”
“Baiklah, aku akan memanggilnya....” Perawat itupun berlari keluar memanggil dokter.

Tayyar sampai di dermaga. Dia disambut Metin. Keduanya membicarakan pengiriman perhiasan ke Roma yang akan dilakukan Hatice. Metin meyakinkan Tayyar kalau semuanya akan baik-baik saja.
Tayyar lalu memberitahu Metin soal Taner yang ternyata menyimpan satu berlian milik Ahmed Denizer. Tayyar memerintahkan Metin untuk membereskan soal Taner.

Dokter menemui Asli. Asli marah-marah karena perawat tadi tak bisa melakukan USG. Dokter akhirnya buka suara dan memberitahu Asli bahwa dirinya sudah tidak hamil lagi.
Asli tampak terkejut, “Apa maksudmu? Omong kosong apa yang kau katakan? Apa yang terjadi pada anakku?”
“Nyonya Asli, sayangnya kami sudah mengaborsi bayimu. Bayimu sudah digugurkan.” Jawab Dokter.
“Omong kosong apa ini?” Asli benar-benar terpukul dan menangis. Asli pun berteriak histeris. Dokter akhirnya menyuntikkan obat penenang pada Asli hingga ia tertidur.

Tayyar pulang ke rumahnya dan menemui Mert yang sedang duduk melamun di teras. Setelah saling bertanya kabar, Mert menanyakan keberadaan Pinar yang sudah tak kelihatan berhari-hari, dan Tayyar memberitahu Mert kalau Pinar sedang berada di rumah ibunya karena sedang sedikit sakit.
“Bagaimana kau sendiri, Nak?” tanya Tayyar.
“Aku sedang tidak baik, Yah. Sebetulnya, aku ingin meminta bantuanmu.” Jawab Mert.
“Kau mencoba bilang bahwa kau baik-baik saja. Lupakanlah Nilufer dan temukan kekasih baru!” Suruh Tayyar.
“Apakah melupakan itu sangat mudah, Yah? Aku sungguh mencintai Nilufer.”
“Katakan padaku, barangkali aku bisa melakukan sesuatu...”
“Nilufer punya pacar yang sakit jiwa. Pacarnya merekamnya saat bercinta. Pria itu menjebaknya, Yah. Nilufer dalam kondisi yang buruk. Kita harus menemukan bedebah itu.” Cerita Mert.
Mert lalu mendapat telepon dan langsung pergi ke teras. Tayyar duduk sendirian di sofa, memikirkan soal perkataan Mert barusan.
Huseyin pulang ke rumahnya. Dia langsung masuk ke dalam kamar, dan disusul Melike. Huseyin meminta piyama, namun Melike malah mengunci pintu kamarnya. Huseyin berbalik dan menggoda istrinya. Tapi Melike langsung menunjukkan buku tabungan yang ia temukan siang tadi. Huseyin tampak pucat.
 “Apa kau menggeledah sakuku?” Tanya Huseyin.
“Untuk apa aku menggeledahnya? Kau yang menjatuhkannya, dan aku menemukannya di bawah kursi.” Jelas Melike. “Apa yang kau kerjakan, Huseyin? Aku hampir membunuh putriku hari ini. Tapi sudah jelas, dia tak mengetahui apapun. Buku tabungan ini milikmu.”
“Apa urusanmu? Apa yang akan kau lakukan?” Huseyin tak mampu menutupi ketakutannya.
“Apa maksudmu? Ada dua puluh ribu lira di buku tabungan ini, Husetin. Siapa yang menjatuhkan uang sebanyak ini, lalu kau menemukannya? Katakan padaku! Darimana kau mendapatkan semua uang ini?” Cecar Melike. “Apa yang kau kerjakan? Apa kau menjual gadis, atau kau berjudi? Apa kau menerima suap?”
“Kau tahu apa yang kau bicarakan?” Sentak Huseyin.
“Makanya ceritakanlah tanpa kebohongan lagi, Huseyin. Atau aku akan cerita ke ibumu dan juga Omer semuanya...” Ancam Melike.
Huseyin akhirnya buka mulut, “Itu deposito untuk uang kuliah putri kita. Aku telah menabungnya sejak dia lahir. Oke? Apa sekarang kau senang?”
Melike tertunduk. “Huseyin, tolong jangan marah. Maaf aku!”
“Kenapa aku harus marah? Kulihat kau sangat mempercayai suamimu...”Sindir Huseyin.
“Tolong jangan katakan itu!” Melike serba salah dan memelas. “Aku benar-benar takut. Aku tahu setiap hela napasmu Cuma buat kami. Kau selalu bekerja sampai larut. Semoga Allah menghukumku. Kenapa aku bisa berpikiran buruk seperti tadi? Maafkan aku!”
 Melike memeluk Huseyin, namun suaminya tetap bertampang dingin.
 Omer dan Elif berada di sebuah kamar hotel. Elif datang membawa secangkir teh. Omer lalu menebak kalau Elif tak bisa memasak karena punya banyak pembantu di rumahnya. Namun Elif menyanggahnya. Dia belajar banyak soal masakan selama tinggal di Roma. Dia merindukan rumahnya di Roma. Dia rindu memasak di sana.
“terkadang, setiap kali aku membuka mata saat pagi, aku berharap berada di sana....tapi kemudian aku mengingat semuanya... satu per satu.” Elif tampak bersedih.
Omer memegang pundaknya, keduanya lalu bertatapan.
Omer membelai tato di punggung Elif. 
 “Tato ini belum bisa menjelaskan figurmu. Karena aku tak bisa melihat tato ini secara utuh (sebagiannya lagi tertutupi baju Elif). Bukankah ini huruf Braile (tulisan di tato Elif)? Tulisannya ‘Kosulsuz’ (tak bersyarat).”
Elif tersenyum, “Kau pasti mempelajarinya dari Internet!”
“Ya, aku mempelajarinya.”
Omer lalu menarik sedikit baju Elif untuk mencari tahu tulisan sambungannya (tato), namun Elif risih dan melarangnya.
“Kau ini laki-laki yang cerdas. Aku yakin kau bisa menebaknya.”
“Apa kata sambungannya itu ‘Sevgi’ (Cinta)?”
Elif mengangguk, “Ya. Kosulsuz Sevgi (Cinta Yang Tak Bersyarat). Itulah satu-satunya yang aku cari dalam hidupku...”
“Apa kau sudah menemukannya?” Tanya Omer.
“Jawaban pertanyaanmu ini tersembunyi di dalam diriku.” Jawab Elif.
Mereka kembali bertatapan.
“Elif, jika kau bersamaku, aku akan bersumpah setia padamu...” Ucap Omer sendu.
 Omer lalu mencium punggunya Elif. Mereka pun akhirnya berciuman mesra.

Hari berganti pagi. Omer dan Elif tidur bersebelahan tanpa pakaian, hanya tertutupi selimut. Omer terus saja memandangi Elif yang masih tertidur. Elif pun terbangun.
“Ada apa?” Tanya Elif.
“Semunya terjadi begitu cepat, tapi juga sangat lambat. Aku tidak membuatmu terluka kan?” Ucap Omer.
“Kuterima apapun yang kau berikan...” Balas Elif.
Omer tersenyum, dan mengecup kening Elif. 
 
 “Aku bersumpah bahwa cinta tak bersyarat yang kau cari... aku akan melakukan apapun dengan sekuat tenaga untuk memberikannya untukmu.” Ujar Omer. “Namun kau juga harus berjanji padaku!”
“Apa?”
“Kau masih ingat akan apa yang kuucapkan saat di Polonezkoy? Tak masalah apapun yang terjadi, tak masalah seberapa buruk itu, semuanya akan menjadi nyata. Kejujuranlah yang aku cari. Sebuah ketulusan!” Pinta Omer.
Elif langsung sedikit pucat lantaran ada rahasia yang masih ia sembunyikan dari Omer (kalau dia seorang kurir pencucian uang seperti Sibel). 
 Saat Omer ke kamar mandi, Elif masih saja hanyut dalam kekhawatirannya. Elif pun ingin memberitahu Omer tentang rahasianya, namun Omer keburu mengangkat telepon dari Arda. Ada sesuatu yang penting. Omer pamitan dengan mencium Elif, lalu ia pergi.

Metin menelepon Komisaris Ali untuk memastikan semuanya aman (soal pengiriman barang ke Roma lewat bandara). Setelah itu Metin melihat Nilufer. 
 “Kita harus bicara!” Pinta Nilufer.
“Jika tentang Roma, tunggu aku di rumah. Aku punya pekerjaan selama dua jam. Aku akan pulang setelahnya.” Suruh Metin sembari memberi Nilufer kunci apartemennya.
“Tak, kita harus bicara sekarang!” Desak Nilufer.
“Aku sudah bilang, aku punya kerjaan, Nilufer. Nanti!” Metin kesal.
Saat Metin hendak masuk ke dalam mobilnya, Nilufer meneriakinya, “Kau tak bisa meninggalkanku seperti itu! Aku sudah melihat CD itu. CD kita.”
Metin tampak shock sembari menghela napas.

Arda, Pelin, Huseyin, dan Omer, tengah memeriksa mobilnya Taner.
Petugas forensik lalu datang. Dia mematikan lampunya hingga keadaan menjadi gelap. Setelah itu si petugas menerangi bagian bagasi mobil dengan lampu khusus. Terlihat ada jejak darah disana.
 Pelin bertanya, apa ada lagi. Petugas forensik memberitahu kalau di setir kemudi juga ada jejak darah. Mereka kembali memeriksa.
“Dia telah mengemudikan mobilnya selama beberapa waktu meski ada jejak darahnya,” Kata petugas forensik.
Arda bertanya apakah ditemukan juga jejak darah di pakaian Taner. Petugas Forensik mengiayakan. Ditemukan di kemejanya.
Huseyin lalu memberitahu Omer, “Omer, aku bilang pada diriku sendiri untuk tidak memberitahukannya... tapi aku harus mengatakannya. Kita semakin tua... tapi kita belum mati. Alhamdulillah. Kita masih bisa bernapas. Sebagaimana menantu pembunuh itu (Taner)!”
Omer tampak diam, bingung, tak tahu harus berkata apa.
Di kantor, Bahar menemui Elif dan langsung berucap, “Elif, semoga Tuhan mengampunimu.”
“Selamat pagi Bahar!”
“Aku baru saja melihat Tuan Levent. Kau menolak pria itu kemarin. Itu sangat mengecewakan. Lalu Omer muncul dan adegan bodoh terjadi. Dia sangat marah.”
“Ya, yang terjadi, aku sungguh tak mengharapkannya terjadi. Aku akan menemuinya (Levent) lain waktu.”
“Insha Allah,” Ucap Bahar. “Eh, apa yang kau lakukan kemarin? Apa kini kau sudah menjadi pacarnya?”
Elif mengangguk. “Ya!”
“Tapi kenapa wajahmu tampak suram?” Bahar heran. “Bukankah kau menemukan cinta dalam hidupmu, kenapa kau bersedih seperti ini?”
“Ada sesuatu yang aku sembunyikan dari Omer,” Jelas Elif.
Bahar tampak antusias, “Apa itu?”
 “Saat Nilufer diculik, aku sudah membohonginya (Omer), meskipun dia sudah bertanya padaku....”
“Apa yang bisa terjadi, Sayang? Semua orang bisa berbohong.”
“Tapi sesuatu yang membuat Omer marah adalah kebohongan. Dia sangat membenci kebohongan. Dan apa yang akan aku katakan padanya ini sebuah kebohongan yang sangat besar. Apa yang harus kulakukan?”
“Kau harus mengatakan yang sebenarnya!”
“Kau pikir begitu?”
“Tentu. Karena Omer sangat berarti bagimu, cintamu, dan kau bilang kalau dia tidak suka dibohongi. Apalagi yang bisa kau lakukan? Aku pikir kau harus memberitahunya yang sebenarnya. Selain itu, dia akan memahami jika dia benar-benar mencintaimu!” anjur Bahar.

Metin membawa Nilufer di mobilnya. Sepanjang perjalanan, keduanya bertengkar. Nilufer menangis dan sangat kecewa pada Metin.
“Bravo! Kau sungguh aktor hebat, dan aku benar-benar bodoh. Pria macam apa ini? Bagaimana kau bisa kau melakukan ini padaku? Itu artinya kita telah melewati apapun dengan sebuah kebohongan.”
“Nilufer, tak seperti itu  Pria yang menyuruhku untuk menculikmu (Tayyar) mulai berbahaya, dan aku harus melakukan sesuatu. Apa kau mengerti? Aku tak punya pilihan lain.” Metin membela diri.
“Dan kau menjualku untuk menyelamatkan dirimu sendiri, benar begitu? Bukankah kau bilang padaku kalau kau tak bekerja pada siapapun? Bukankah kau adalah bos dirimu sendiri?” Nilufer tak habis pikir.
“Nilufer, aku sudah hancurkan CD itu....aku juga sudah menghapusnya dari laptop!”
“Bagaimana aku bisa mempercayaimu? Aku mempercayaimu sekali dan telah membuat kesalahan dalam hidupku. Aku mempercayaimu seperti aku mempercayai ayahku...lalu apa yang kau lakukan? Kau memanfaatkanku!”
Metin lalu menepikan mobilnya dan berujar, “Aku bersumpah tak memberikan CD itu pada siapapun. Aku tak mau beresiko. Jika kau mau, aku bisa menembak diriku sekarang. ...... aku tidak pernah mencintai seseorang seperti aku mencintaimu. Aku jatuh cinta padamu.”

Huseyin, Pelin, Arda, dan Omer sedang berada di pengadilan. Mereka sedang menunggu putusan hakim dari luar ruangan. Huseyin ingin agar Taner segera ditahan. Namun Omer masih yakin kalau Taner bukanlah pembunuh Ahmed dan Sibel. Mereka harus menunggu tes DNA yang membuktikan kalau darah yang ditemukan di mobil dan baju Taner adalah darahnya Ahmed maupun Sibel. Huseyin kesal, dan menyuruh Omer bilang saja ke Deputi. Jika barang bukti mereka tidak lengkap, bisa-bisa Taner tidak akan jadi ditahan.
“Omer, Pak Huseyin benar kali ini. Semua bukti mengarah ke Taner!” Ucap Arda.
“Kadang suara hati kita sendiri bisa jadi salah, Omer!” Tambah Pelin.

Di tempat terpisah, Levent mendatangi Bahar untuk memberikan surat pengunduran diri dari Perusahaan Denizer. Bahar terkejut. Namun Levent sudah mantap untuk mundur. Dia terlihat sangat marah. Levent bahkan ingin memutuskan hubungannya dengan Bahar. Bahar tak bisa berbuat apa-apa.

Kembali ke pengadilan. Omer dan tiga rekannya masih sabar menunggu. Deputi akhirnya keluar, dan mengabarkan kalau hakim menyetujui untuk memenjarakan Taner. Deputi lalu mengucapkan selamat pada Huseyin, karena berhasil menutup kasus pembunuhan itu.
 Sementara itu Omer tampak shock dan masih ragu.
“Bukan Taner, Pelin.”
Tak lama kemudian, Taner digiring dua petugas dari ruang sidang. Dia terus berteriak kalau dirinya tak bersalah, dan memohon Omer untuk menyelamatkannya. Namun Huseyin malah mengoloknya.

Di Bandara, Nyonya Fatma mengantar Hatice yang siap mengantarkan barang ke Roma. Nyoya Fatma tampak cemas. Anak buah Metin datang membawa koper. Dia memberi sedikit pengarahan pada Hatice. Setelah itu Hatice menerima kopernya, dan pamitan pada ibunya.
“Semoga Allah membuka jalan untukmu....”


Hatice pun mulai melangkah ke dalam bandara dengan membawa kopernya. Kopernya melewati pemeriksaan. Hatice tampak gugup. Setelah itu dia mengambil kopernya dan kembali berjalan dengan tenang menuju ruang tunggu.

Tayyar menghubungi Metin untuk memberitahunya soal Taner. Tayyar meminta Metin untuk masuk ke dalam penjara dan menembaknya. Namun Metin tak bisa, karena sedang bersama Nilufer di mobil.
Metin terpaksa menurunkan Nilufer di tepi jalan, namun dia akan mencarikannya taksi. Nilufer bertanya siapa orang yang menelepon Metin barusan. Metin tampak pucat.
“Ayahku....” Jawab Metin.
Tak disangka, ada dua polisi lalu lintas yang menghadang Metin.

Di bandara, dua orang polisi memanggil Hatice. Hatice ketakutan saat mereka menghampirinya.

Sementara itu, Taner dibawa menggunakan mobil menuju ke penjara. Taner bertanya-tanya soal Tayyar. Bagaimana bisa Tayyar tahu soal berlian itu. Taner pun mengingat perkataan Pinar sebelumnya. Taner akhirnya yakin kalau berlian-berlian tu ada pada Tayyar.
 

Tayyar diam-diam mendatangi apartemen Metin yang sedang kosong. Setelah berkeliling, akhirnya Tayyar menemukan kamera handycam yang disembunyikan Metin di dalam buku pajangan. Tayyar membuka isi filenya. Rekaman Metin dan Nilufer yang sedang bercinta, akhirnya diketahui Tayyar. Pria itu tampak menahan amarahnya.

Nilufer gugup saat melihat dua polisi lalulintas menghentikan mobilnya. Metin menyakinkan Nilufer kalau mereka hanya memeriksa surat-surat. Tapi dua polisi itu ingin membawa Metin ke kantor polisi.
 
 

Di rumah sakit, Asli tampak menangis sendiri di samping jendela. Zerin datang, dan bertanya kenapa. Asli menjerit histeris pada ibunya dan menyebutnya pembunuh karena telah menggugurkan bayinya. Asli lalu menanyakan dimana Taner. Asli menjadi tak terkendali. Penyakit jiwanya kambuh, hingga ia mendorong Zerin ke jendela. Zerrin akhirnya jatuh dan kepalanya membentur lantai. Darah keluar dari belakang kepalanya.
Omer menemui Elif di tepi pantai. Keduanya berpelukan sebentar.
Omer berniat memberitahu Elif soal Taner. Namun Elif memaksanya untuk mendengarkannya sekarang.
 
 “Omer aku ingin mengatakan sesuatu. Sekarang atau tidak pernah sama sekali. Mungkin lain waktu aku tak punya keberanian untuk memberitahumu. Jadi kumohon, tenang dan dengarkan aku! Jangan mengatakan apapun!” Ucap Elif.
Omer begitu penasaran.
Elif kembali melanjutkan kata-katanya, “Apa kau ingat saat kau bilang padaku pagi ini, bahwa yang kau inginkan di antara kita telah menjadi nyata? Aku tidak ingin menjadi Sibel kedua dalam hidupmu. Omer, aku sudah membohongimu. Aku tidak pergi ke Roma untuk menjual perusahaanku. Metin mulai mengancamku setelah Nilufer diculik. Dia memaksaku, agar aku bisa mendapatkan kembali adikku. Aku dipaksa. Saat itu aku sendirian. Aku tak punya pilihan lain. Saat aku bersamamu di Roma.... aku melakukan pencucian uang haram. Aku seorang kurir.”
Elif mulai menangis. Omer hendak memegang tangannya naun Elif mencegah, “Omer, tetap diam, kumohon....bukan hanya ini. Metin memaksaku membuat perhiasan palsu. Kami menjualnya di Roma dengan harga yang lebih tinggi. Hari ini, seorang kurir dikirim ke Roma. Dia punya video rekaman CCTV saat aku melakukan pencucian uang itu. Dan ada banyak dokumen yang kutandatangani. Aku seorang kriminal. Aku seorang penipu yang melakukan pencucian uang haram.”
Omer diam dan tak bisa berkata apa-apa. Dia benar-benar shock dan tak menyangka. Dia berdiri membelakangi Elif. Sedangkan Elif menangis di belakangnya.
Sementara itu, Huseyin membuka kandang burung merpati milik Omer.






Mendadak, apa yang terjadi tanggal 12 Maret malam, saat Ahmed Denizer dan Sibel terbunuh akhirnya terungkap.
FLASHBACK.
Ahmed Denizer dan Sibel sedang berada di dalam mobil yang diparkir di atas bukit, malam tanggal 12 Maret. Sibel meminta uangnya pada Ahmed, namun Ahmed butuh waktu untuk itu.
Tiba-tiba, muncul seseorang (tak diperlihatkan wajahnya) memakai mantel dan bersarung tangan, mengetuk kaca jendela mobilnya Ahmed. 




 Ahmed menoleh ke arah orang itu dan tampak terkejut sembari menurunkan kacanya. Namun Ahmed langsung ditembak hingga tewas dan darahnya menyiprat ke wajahnya Sibel.
Sibel melihat pembunuh itu dan sepertinya dia mengenali orang itu.
“Apa yang kau lakukan disini? Kenapa kau membunuhnya? Kenapa?” Sibel menjerit ketakutan.
Sibel lalu dibawa ke gudang yang letakknya tak begitu jauh dari lokasi mobil Ahmed Denizer. Disana Sibel memelas agar tak dibunuh.
“Kumohon, kau tak akan melakukan ini padaku, benar kan?” Sibel menangis.
Namun pembunuh itu mengarahkan pistolnya ke Sibel. 
 
 “Benarkan, Kak?” Sibel kembali memanggilnya. “Lihatlah aku! Kau dan aku adalah keluarga. Kau tak akan melukaiku, kan? Kumohon!”
Akhirnya wajah pembunuh itu diperlihatkan. Dialah Huseyin. Kakak Omer.
 “Apa yang kau lakukan di mobil itu? Apa yang kau lakukan?” Sentak Huseyin.
“Aku akan bilang. Aku akan bilang. Aku akan memberitahumu segalanya. Tapi kumohon, letakkan senjatamu!” Sibel memelas.
“Bicaralah! Apa yang kau lakukan di mobil itu?”
“Aku seorang kurir. Aku bekerja menjadi kurir. Itu kenapa aku menemui Ahmed. Mereka punya berlian. Aku ditugasi menyelundupkan berlian-berlian itu ke luar negeri. Aku seorang pencuci uang. Aku menemuinya malam ini untuk berlian-berlian itu. Tapi aku bersumpah, tak ada hal yang lain. Yang kukatakan semuanya adalah benar. Aku sangat mencintai Omer. Aku bersumpah, tak akan pernah mengkhianatinya. Aku melakukannya demi pengobatan ayahku....”
Huseyin marah hingga menampar Sibel.
Sibel bersumpah tak akan memberitahu siapapun soal kejadian itu.
Tapi Huseyin menyayangkan, “Kenapa kau harus muncul di depanku (malam ini)? Apa yang harus kulakukan sekarang? Kau melihat semuanya.”
Huseyin tak ingin mengambil resiko.
“Aku bersumpah... aku tak akan bilang pada siapapun!”
Sibel membuat kesepakatan dengan Huseyin untuk tak saling menceritakan rahasia mereka agar Huseyin tak membunuhnya. Namun Huseyin langsung membunuh Sibel dengan menembak persis kepalanya. 


Setelah itu, Huseyin menyeret Sibel kembali ke mobil. Diletakkan duduk di sebelah Ahmed Denizer.
Flasback berakhir.
Huseyin duduk di dekat kandang burungnya. Ia melepas burung merpatinya, lalu mengambil sarangnya. Rupanya ia menyembunyikan sesuatu di bawah sana. 

Saputangan hitam, yang membungkus puluhan butir berlian warna merah mudah. Huseyin tersenyum melihatnya.
Kembali ke Elif dan Omer yang berada di tepi pantai.
Elif menangis, “Aku tahu, kau tak akan pernah memaafkanku. Kau pria yang sangat jujur dan juga bersih. Keluargamu sangat baik. Jika aku berada di posisimu, akupun tak ingin hidupku dikotori lagi. Selamat tinggal Omer!”
 Omer tampak shock saat Elif berucap seperti itu.
 Elif lalu berbalik dan meninggalkan Omer begitu saja. Omer tak kuasa menahannya.

PERINGATAN : Bisa saja ada adegan yang terpotong lalu ditayangkan di episode berikutnya.





DAFTAR SINOPSIS TERKAIT

Sinopsis Lengkap Cinta Elif episode 21 Rabu 28 Oktober 2015  Sinopsis Lengkap Cinta Elif episode 21 Rabu 28 Oktober 2015 Reviewed by Riris Tania on 13.06 Rating: 5
Diberdayakan oleh Blogger.