GAMBAR
Sinopsis Lengkap #CintaElif episode 19 Senin 26 Oktober 2015
Di dalam kamar hotel, Omer tak berhenti
minum. Ia lalu bersandar ke tembok dan menjatuhkan wajahnya. Elif
menghampirinya dan menyuruhnya, “Istirahatlah sebentar, Omer! Kau akan merasa
lebih baik!”
Omer pun rebahan di atas kasur. Elif
melepas sepatunya. Omer diam saja. Elif lantas menyelimutinya, kemudian mereka
saling berpandangan. Elif menatap Omer dengan penuh cinta. Omer lalu mengatakan
sesuatu.
“Ada hutan yang tersembunyi di dalam
matamu. Kutahu saat melihatmu pertama kali dulu....”
Elif hanya tersenyum haru mendengar
ucapan Omer itu. Pelan-pelan Omer pun terpejam. Elif masih duduk memandanginya
di samping. Tahu-tahu Elif membelai pelan sisi wajah Omer. Gadis itu lantas
mengecup pipi (dekat bibir) Omer.
Setelah itu Elif duduk menjauh ke sebuah sofa
dekat jendela. Di sana ia masih mengawasi Omer dengan senyuman.
Malam berganti pagi. Elif ketiduran di
sofa. Saat terbangun, ia sudah tak mendapati Omer di kamar bersamanya. Elif
memanggil Omer dua kali, namun tak ada sahutan. Omer meninggalkan pesan sebuah
gambar emoticon senyum di kertas. Dia sudah pergi. Elif tersenyum kecewa.
Omer mendatangi rumah Pelin. Pelin
tampak kesal dengan kedatangan Omer yang tiba-tiba.
“Ya ampun, jam berapa ini? Aku masih
tidur pulas....”
“Ini sudah jam sepuluh pagi,” Jawab Omer
lalu masuk ke dalam ruang tamu Pelin. “Aku butuh menyampaikan sesuatu padamu.”
“Masuklah!” Ajak Pelin. “Apa kau
baik-baik saja?”
Omer tak menjawab, malah membicarakan
Sibel. “Identitas palsunya Sibel. Apa lagi yang kita tahu tentang Emine Kazim
(nama samaran Sibel)?”
Taner mendatangi seorang ahli berlian di
sebuah toko perhiasan. Ia membawa sebutir berlian pink miliknya untuk diperiksa
keasliannya.
Di perusahaan Denizer, Elif duduk besama
Bahar di ruang kerja Elif.
“Tolong jangan memarahiku, tapi laki-laki
ini mulai melihatmu seperti seekor burung yang ada di tangan,” Ucap Bahar.
“Itukah yang kau pikirkan?” Tanya Elif.
“Tentu. Tidakkah kau menyadarinya?
Situasi ini akan menjadi buruk. Tak ada yang baik dari Omer untukmu. Kau harus
menerima semua ini. Terlihat jelas dari sikapnya. Kau akui bahwa kau
mencintainya, tapi pria itu tidak berkata sebaliknya. Tolong, lupakanlah dia
mulai dari sekarang!” Bahar terus saja memprovokasi Elif.
“Aku harap itu semudah yang kau katakan,
Bahar.”
“Sebetulnya itu sangat mudah. Cuma saja
kau tidak tahu.”
“Aku tak tahu....”
“Jangan meladeninya setiap kali dia
menghubungimu. Jangan mengikutinya terus, sampai kau menemukan waktu yang
tepat. Sementara sekarang jelas-jelas kau berlari mengekorinya.”
“Apa kau pikir aku tidak menyadari hal
itu, Bahar? Tiada momen yang membuatku
tidak memarahi diriku sendiri (gara-gara Omer), tapi ada sesuatu yang
mendorongku terus ke arah Omer seperti magnet. Dimanapun aku memiliki masalah,
selalu kutemukan diriku di sampingnya. Ufff yeaaah. Ini benar-benar konyol!”
Di ruang tamunya, Pelin membawakan Omer
teh hangat sembari memberitahunya sesuatu.
“Aku sudah pergi ke alamat yang aku
temukan di data kependudukan kemarin. Ada seorang gadis bernama Emine Kazim.
Sayangnya dia sudah meninggal tiga tahun yang lalu. Ketika kerabatnya hendak
pergi untuk menghapus data kependudukannya, muncul seseorang yang menghentikan
mereka. Mereka memberi banyak uang. Keluarga itu sangat miskin, makanya
menerimanya. Mereka tidak menghapus data kependudukan Emine Kazim. Mereka
menerima uang secara rutin sampai.....”
“Sampai Sibel mati,” Lanjut Omer.
Pelin mengangguk.
“Apakah dia (Sibel) pergi ke Roma?”
tanya Omer.
Pelin mengangguk lagi. “Lebih dari tiga
tahun yang lalu, dia telah melakukan perjalanan ke tempat-tempat tertentu dan
hanya menginap sehari saja lalu pulang.”
Omer tak habis pikir. “Dia (Sibel)
berkata bahwa dia belum pernah pergi ke Roma. Dia bilang pergi ke Roma adalah
impiannya. Bagaimana bisa aku percaya akan semua kebohongan-kebohogannya?”
“Kamu tidak tahu!” Ucap Pelin.
“Pelin, aku berusaha untuk mencari tahu.
Aku berusaha mencari tahu. Bagaimana bisa aku sebuta itu?” Omer tampak begitu
marah pada dirinya sendiri.
“Omer, dulu kau sedang jatuh cinta.
Cinta adalah sesuatu yang dapat membuat apapun terjadi pada diri kita. Sibel
dulu mencintaimu. Aku melihatnya, caranya memandangmu. Aku rasa dia
menyesalinya. Mungkin dia sedang mencari jalan keluar....”
Omer bangkit dan meninggikan nada
bicaranya, “Tak ada yang bisa membuatku mempercayai itu. Tak seorangpun.”
Pelin lalu menyuruh Omer untuk tenang.
“Tinggalah disini bila kau mau. Kita bisa bicara. You telah melewati malam yang
sangat sulit.”
“Memang sulit. Sangat sulit.
Alhamdulillah, ada Elif di sampingku.”
Pelin tersenyum mendengar itu.
Omer melanjutkan omongannya, “Dia
sendiri tak tahu apa yang harus diperbuatnya untukku. Aku juga membawanya ke
dalam situasiku yang sulit. Pelin, maafkan aku. Aku menghancurkan isi rumahmu
kemarin. Aku kehilangan akal.”
“Kau ini apa-apaan! Jika dengan
menghancurkan sesuatu kau bisa lebih baik, aku tak keberatan....” Kata Pelin.
“Itu cukup membuatmu lebih baik, Omer! Berhenti menyalahkan dirimu sendiri!”
Omer mengangguk lalu pamitan, “Sampai
jumpa!”
Bahar mendatangi ruang kerja Levent.
“Sayang!” Panggil Bahar tergesa-gesa.
“Apa yang terjadi Bahar?” Tanya Levent.
“Tinggalkan apapun yang kau kerjakan
sekarang, dan kemarilah....”
“Kenapa?”
“Harus kau fokus pada hubunganmu sendiri
dengan Elif! Bangun dan ajaklah dia ke suatu tempat sekarang!”
“Sekarang? Aku harus bekerja sekarang.”
“Hei, pekerjaanmu yang asli adalah Elif.
Gadis itu sekarang sedang kalut. Inilah waktu yang bagus untuk berada di
sisinya.”
“Oke, tapi kemana aku harus mengajaknya,
Bahar?”
“Aku sudah mengundangnya ke banyak
tempat tapi dia tak pernah mau peduli.”
“Pikirkan sesuatu yang pintar. Undang
dia ke tempat yang tak mungkin ditolaknya!” Paksa Bahar.
Levent hanya bisa menghela napas.
Di ruang kerjanya, Elif sedang sibuk
dengan ponselnya. Levent lalu datang.
“Masuklah Tuan Levent!” Ujar Elif.
“Kita harus keluar sekarang, Nona Elif!”
Ajak Levent.
“Tak bisa. Aku punya banyak kerjaan hari
ini,” Tolak Elif.
“Ayolah, kau akan membuatku marah jika
terus-terusan menolak ajakanku kali ini....”
“Bukan seperti itu, hanya saja waktunya
sedang tidak bagus...”
“Kita harus mendiskusikan topik penting
untuk perusahaan, dan aku dapat menunjukkanmu kantor baru kita.”
“Baiklah, dimana?” Elif akhirnya
menerima ajakan Levent.
“Itu kejutan!” Jawab Levent sembari
tersenyum tipis.
“Sekarang benar-benar penasaran....” Elif
mengambil jaketnya lalu pergi bersama Levent.
Di supermarket, Asli memborong banyak
pernak-pernik bayi. Dia tampak begitu antusias meski kondisi mentalnya sedang
kurang bagus. Dia terus saja meracau tentang jenis kelamin anaknya.
Sementara itu, Omer pulang ke rumah
dengan wajah suntuk. Ia melihat ada Melike sedang merapikan meja di teras depan
rumahnya. “Selamat pagi. Sesuatu pasti terjadi semalam. Kakakmu baru pulang
subuh tadi. Kenapa kau pulang terlambat?” Tanya Melike.
“Aku punya beberapa pekerjaan,” Jawab
Omer dengan acuh.
Melike lantas menyindir Omer secara
halus. Omer marah dan membentak kakak iparnya itu.
“Demi Tuhan, diamlah! Diamlah agar aku
tidak marah padamu!”
Omer lalu pergi ke kamarnya di lantai
bawah. Melike hanya menyeringai kesal lalu pergi mencari ibu mertuanya.
Di supermarket, Asli hendak membayar
semua belanjaannya dengan kartu kredit. Tingkahnya gila. Saat kasir
memberitahunya kalau kartu kreditnya tak bisa digunakan, Asli sangat marah. Ia
lalu pergi meninggalkan kasir. Sebelum pergi, Asli sempat mengutil boneka kecil
lalu ia sembunyikan ke dalam tas. Saat melewati pintu keluar supermarket, alarm
berbunyi. Dua petugas lantas mengejar Asli dan membawanya masuk ke pos
keamanan. Asli memarahi mereka dan mengancam akan menuntut mereka semua.
Omer berganti baju di dalam kamar. Ia
melihat foto dirinya bersama Sibel dalam bingkai di atas meja. Langsung saja ia
ambil foto itu dan dibanting ke tembok hingga kacanya pecah.
Ibu Elvan masuk dan terkejut. “Ya Allah.
Ada apa? Kenapa kau seperti ini?”
Omer duduk dan menangis di depan ibunya.
Elvan semakin takut.
“Apa yang terjadi?” Tanya balik Omer.
“Aku telah terbangun, Bu. Mataku telah terbuka. Aku menemukan bahwa Sibel.....”
Diam-diam Melike menguping dari luar
pintu.
“Apa yang kau katakan, Nak?” Elvan
penasaran.
“Dia (Sibel) itu pembohong, Bu. Dia
melakukan pekerjaan kotor. Dia seorang kurir dalam bisnis pencucian uang....”
Ujar Omer dengan sangat emosional hingga ia lalu menjotos tembok dan pangkal
jarinya terasa sakit.
Ibu Elvan terbeliak melihat anaknya
seperti itu.
“Dia ada dalam mobil itu untuk
mendapatkan uang dari pria itu (Ahmed Denizer)......” Lanjut Omer.
Melike panik, dan berlari memanggil
suaminya yang sedang tidur di kamar.
“Huseyin. Huseyiin. Bangun. Ya ampun”
Panggil Melike.
“Ada apa Melike?” Tanya Huseyin
malas-malasan.
“Huseyin bangun. Ini bukan saatnya
tidur. Keadaan Omer sangat buruk.”
Barulah Huseyin bangun dari tidurnya.
“Apa yang terjadi pada Omer?”
“Tentang Sibel,” Jawab Melike.
Omer dan ibunya duduk berbincang.
“Dulu dia menyebutku keajaiban dalam
hidupnya. Kini aku mengerti yang dia maksudnya. Seorang polisi yang tidak mampu
melihat seorang kurir pencucian uang di depannya, itulah sebuah keajaiban, Bu.”
Omer terus saja mengolok dirinya sendiri.
“Jangan lakukan ini, Nak! Jangan kau
sia-siakan dirimu sendiri seperti ini!” Pinta Elvan sembari menangis.
Omer bangkit, “Aku tidak bisa menghukum
diriku sendiri, Bu! Tak bisa. Kemarin aku sangat sedih, dan hari ini aku sangat
marah.”
Omer lalu duduk lagi di depan ibunya,
“ketika dia memegang tanganku. Dia tak ubahnya orang asing di sampingku. Saat
itu aku pikir dialah suka dukaku, Bu. Aku tak bisa melakukan apa-apa lagi, Bu.
Dia sudah mencabut dirinya sendiri dari sini (hatinya Omer) dan terlempar
keluar....dan hatiku sekarang rasanya sangat hancur.”
Elvan menangis dan memeluk Omer sembari
menepuk-nepuk punggungnya.
Huseyin lantas datang dan duduk di
sebelah Omer. Dia tampak khawatir.
“Edem (sebutannya untuk Omer!”
Omer hanya menoleh Huseyin dengan
lelehan air mata. “Kebohongan, Kakak!”
Huseyin lantas berkata, “Inilah hidup!”
Omer lalu bersandar di lengan kakaknya.
Elif dan Levent baru saja melihat-lihat
kantor baru Denizer Holding. Mereka berbincang sepanjang perjalann. Levent
memberitahu Elif bahwa gedungnya yang lama sudah menemukan pembelinya. Itu membuat
Elif senang.
“Itulah berita yang ingin kudengar hari
ini,”Ucap Elif.
“Mungkin kita bisa pergi merayakannya di
restoran terdekat?” Levent mencoba mengajak Elif.
“Aku harap ini tak terdengar seperti aku
tak tahu berterimakasih, tapi aku harus balik ke perusahaan.... aku punya
banyak pekerjaan yang harus kuselesaikan. Tapi mungkin lain kali?” Elif
berusaha membuat Levent tak marah.
“Oke, aku akan mengingatnya.”
“Oke.”
“Ayo kita pergi!”
Elif dan Levent kembali ke perusahaan.
Omer memainkan korek apinya saat bersama
ibu dan kakaknya di teras. Huseyin lantas menghentikan tangan Omer.
“Kau dulu berada di Van. Kau pulang Cuma
dua tiga hari dalam sebulan. Bagaimana kau akan mencari tahu yang dilakukan
gadis itu (Sibel)?” Tanya Huseyin.
“Itu pekerjaanku, aku sudah berusaha
mencari tahu....” Jawab Omer.
“Terkadang kita tidak bisa menghentikan
takdir, Nak. Dan ini sudah tertulis dalam takdirmu. Tanyakan pada dirimu
sendiri apa yang kurang diberikan Allah dan kau tidak mematuhinya......” Elvan
berusaha menasehati Omer.
“Omer, kau hidup jauh di sana. Akulah
sering yang melihatnya (Sibel). Jika aku berada di posisimu, aku tak akan
pernah memunculkan gadis itu lagi dalam pkiran.....” Saran Huseyin.
Melike muncul dan menyela, “Tentu saja
jangan! Maksudku, tak seorangpun yang mau mendengarkanku. Aku pernah bilang,
ada sesuatu tentang gadis itu (Sibel). Kalian semua berkata dia itu
miskin......”
Huseyin kesal, “Apakah ini waktu yang
tepat untuk membicarakan hal ini, Melike?”
“Ya, tentu saja....” Jawab Melike tegas.
“Omer bukan Cuma adikmu, tapi dia juga adikku. Jiwanya bukan satu-satunya yang
terbakar, dan kau bukan satu-satunya yang marah. Aku juga marah. Yang terjadi
biarlah terjadi. Setiap keburukan datang dengan himah di belakangnya. Dia sudah
mati dan kau (Omer) sudah menolongnya. Bagaimana jika dulu kau menikahinya?
Bagaimana jika kalian punya anak dulu? Bagaimana jika dia menjadikanmu rekan
dalam pekerjaan kotornya?”
Omer marah dan langsung pergi. Huseyin
marah pada istrinya dan mengejar Omer, namun Omer keburu pergi jauh.
Di perusahaan Denizer, Elif dan Levent
yang baru kembali, melihat ada Omer duduk di ruang tunggu. Elif langsung saja
menemui Omer. Levent tampak sedikit kesal dan berlalu ke kantornya.
“Omer!”
“Apa kabarmu?”
“Kenapa kau kesini? Apa kau menemukan sesuatu?
Itukah kenapa kau datang?” Tanya balik Elif.
“Tidak, aku tak menemukan sesuatu. Aku
datang untuk berterimakasih.”
“Benarkah?”
“Aku sangat buruk semalam. Kepalaku
sudah mendingan sekarang. Aku harap semalam aku tidak bicara hal-hal omong
kosong....” Ujar Omer.
“Semalam kau lebih banyak mendengkur...”
“Benarkah?”
“Mafkan aku soal itu....”
“Tak masalah. Maksudku, itu memang
kebiasaan buruk tapi tak berbahaya....” Olok Elif.
Omer tersenyum, “Sekarang kau mencoba
membuatku merasa malu akan hal itu? Jelas kau tak terganggu akan hal itu.”
Mereka lalu saling berpandangan tanpa
berkedip sekalipun.
“Aku punya usul jika kau tak ada
pekerjaan lagi... jika jadwalmu sedang kosong....bisakah kita makan sesuatu?
Kita bisa mencoba makan Sushi, atau tiramisu. Bagaimana?” Ajak Omer.
Elif lalu mengingat nasehat
Bahar sebelumnya agar menolak setiap kali Omer mengajaknya dan tak mengikuti
apa saja yang dimintanya.
“Omer, aku sibuk hari ini....”
Tiba-tiba Elif bertampang dingin pada Omer. “Aku punya banyak pekerjaan yang harus
kuselesaikan.”
Omer terlihat kecewa namun
mencoba senyum. “Baiklah, kita bisa makan bareng di lain waktu....”
“Oke, lain waktu....”
“Lain waktu....semoga pekerjanmu
dimudahkan...” Omer kehabisan kata.
“Terima kasih, begitupun
untukmu....” Begitupun Elif.
Mereka lalu berpisah. Elif
merasa tak enak hati dan menyalahkan dirinya karena menolak Omer. Dia lalu
bertemu Bahar.
“Elif, katakan apa yang kau
lakukan?”
“Aku dengarkan apa yang kau
katakan... dan aku baru saja menolaknya.” Jawab Elif dengan begitu berapi-api.
“Menolak Siapa?” Bahar bingung.
“Omer!”
“Ya Tuhan.”
“Dia mengundangku ke suatu
tempat untuk yang pertama kalinya, dan aku menolak ajakannya....” Elif terlihat
begitu menyesal. “Ya Tuhan, apa yang sudah kulakukan?”
“Kau melakukan hal yang tepat
Elif!” Bujuk Bahar.
Tapi Elif tetap saja tak
membenarkan perbuatannya. Ia pun berbalik dan berlari mengejar Omer.
Sampai di luar gedung, Elif
berteriak memanggil Omer yang sudah pergi dengan mobilnya. Namun Omer tak
mendengarnya. Elif terus saja berlari hingga ia hampir tertabrak mobilnya Omer.
Omer turun dari mobil dan bertanya cemas, “Elif apa yang kau lakukan? Aku
hampir menabrakmu.”
“Tak ada apa-apa. Ayo masuk!”
Tahu-tahu Elif masuk dan duduk di jok sampingnya Omer.
“Bukankah kau punya pekerjaan?” Tanya Omer.
“Tak ada. Maksudku, tadinya ada.
Aku punya rapat tapi sudah kubatalkan.....” Jawab Elif sembari senyum-senyum
malu.
Omer hanya tersenyum sambil
menghela napas.
“Ayo, menyetirlah!” Suruh Elif.
“Tidakkah kau katakan kita mau
kemana?”
“Tempat dimana kita berdua bisa
menenangkan diri. Jangan takut. Akan kutunjukkan jalannya.”
“Ahhh, sekarang kau ingin
menjadi pengendali?”
“Akhirnya kau paham....”
Zerrin dan Taner baru saja
membebaskan Asli dari kantor polisi. Taner tampah memarahi Asli. Asli lalu
pergi begitu saja ke dalam mobil. Taner lalu berbiacara dengan Zerrin.
“Dia akan kembali tenang
sesampainya di rumah,” Ucap Taner.
“Kita tidak akan pulang ke
rumah...” Kata Zerin.
“Kita akan kemana?” Tanya Taner.
“Kita akan ke rumah sakitnya
Tayyar.” Jawab Zerrin. Dia sudah tegas ingin mengaborsi kandungan Asli secara
diam-diam.
Omer dan Elif sedang melakukan
perjalanan ke suatu tempat dengan mengendarai mobil. Omer bertanya mereka akan
kemana. Elif terus saja mengarahkan jalan. Omer meledek Elif. “Jadi sekarang
kau jadi tukang perintah?”
Elif lalu memberitahu Omer bahwa
mereka akan pergi ke Polonezkoy. Omer agak ragu karena tempat itu cukup jauh.
Omer takut keluarganya Elif akan khawatir begitupun keluarga Omer sendiri
karena dia pergi tiba-tiba.
Elif pun mengambil ponsel milik
Omer dan menelepon rumah Omer.
Di rumah Omer, Ibu Elvan tampak
sedang merapikan mesin jahitnya. Melike yang sedang menyapu menuyuruh mertuanya
itu bergeser. Namun Ibu Elvan masih marah dan tetap mengacuhkannya. Melike pun
kesal, “Oke, teruslah tidak bicara denganku! Memang sebaiknya aku berbohong
soal Sibel. Kenapa aku selalu menjadi dianggap jahat setiap kali aku berkata
jujur?”
Lalu telepon berdering. Ibu
Elvan mengangkatnya. Melike tampak penasaran siapa yang menelepon.
“Halo....” Sapa Ibu Elvan saat
mengangkat teleponnya.
“Halo, Bu. Ini Elif. Bagaimana
kabarmu?” Sahut Elif.
“Aku baikku, anakku. Bagaimana
kabarmu.”
“Aku baik. Aku sekarang bersma
Omer. Kami sedang pergi ke tempat yang cukup jauh untuk menenangkan pikiran.
Omer tidak ingin membuatmu khawatir makanya dia memintaku untuk mengabarimu.”
“Terima kasih, Nak. Semoga Allah
memberkatimu, Nak karena kau tidak meninggalkan Putraku sendirian hari ini....”
“Jangan berkata seperti itu!
Semoga harimu baik.”
“Begitupun dirimu, Nak. Terima
kasih juga.”
Ibu Elvan menutup teleponnya.
Melike tampak penasaran.
“Apa yang terjadi, Bu? Siapa
yang menelepon? Wajahmu tampak berseri-seri,” Tanya Melike.
Ibu Elvan tetap acuh dan pergi
begitu saja meninggalkan menantunya itu. Melike terlihat merengut geregetan.
Kembali ke Elif dan Omer yang
sedang mengemudikan mobilnya di jalan. Keduanya berbincang-bincang dan
menikmati perjalanan. Omer mulai bisa tersenyum lagi dan wajahnya kembali
berseri. Elif kembali mengarahkan jalan.
“Oke. Polonezkoy.”
Melike menemui Ibu Elvan di
teras depan. Melike masih saja membahas soal siapa yang menelepon tadi.
“Aku sudah membersihkan isi
rumah....”
“Terima kasih....”
“Bu, kumohon, kau tahu aku bisa
mati penasaran. Siapa yang menelepon tadi?”
Ibu Elvan masih acuh tak mau
menjawab. Melike kesal dan berujar, “Semoga Allah mengampuniku. Aku sungguh
seperti orang asing bagimu. Usiaku masih 19 tahun saat masuk ke rumah ini. Aku
tumbuh bersamamu. Aku sudah menganggapmu sebagai ibuku dan Omer sebagai adikku.
Tapi lihat perlakuanmu sekarang. Sepertinya aku begitu buruk hingga kau tak mau
mengatakan siapa yang menelepon tadi. Oke. Tapi itu memang lebih baik. Akan
lebih baik. Aku tahu posisiku di rumah ini.”
Ibu Elvan mulai kasihan. “Aku
tak membeda-bedakanmu dari anak-anakku..... tak ada istilah pertama kedua,
Melike. Jika aku marah, itu semua karena kau lancang dan kau pantas dimarahi.
Masukkan semua ini ke dalam kepalamu dan pikirkan kenapa kami bersikap seperti
ini kepadamu.”
Melike tampak menahan napas.
“Yang menelepon tadi, Elif,”
Akhirnya Ibu Elvan memberitahu Melike. “Dia bilang sedang keluar bersama Omer.
Katanya mereka sedang melakukan sesuatu ke tempat yang agak jauh dan kita
disuruh untuk tidak perlu khawatir. Kau pun tak perlu khawatir. Oke?”
“Bu, apa maksudnya dengan melakukan
sesuatu?”
“Entahlah. Urus saja
pekerjaanmu!”
Ibu Elvan lalu masuk ke dalam
rumah. Melike segera menelepon suaminya dan memberitahu Huseyin tentang Omer
dan Elif.
Huseyin keluar dari ruang
kerjanya, mengabari Arda dan Pelin bahwa Omer telah ditemukan dan sedang
bersama Elif. Huseyin mengungkapkan rasa penasarannya akan hubungan Elif dengan
Omer, lantaran Elif orang kaya tapi begitu mempedulikan Omer.
Pelin meyakinkan Huseyin kalau
Omer dan Elif Cuma berteman saja, seperti Pelin dengan Arda. Mendengar hal itu,
Arda langsung menahan kecewanya karena sebenarnya dia punya perasaan cinta pada
Pelin.
Huseyin pun kembali ke ruang
kerjanya.
Pelin mulai ikut penasaran dan
menanyakan hubungan Omer dengan Elif kepada Arda. Namun Arda mengaku tak tahu
apapun.
Seorang petugas polisi datang
mencari Omer, dan mengabari kalau mereka mengetahui ada seorang pria (Taner)
berniar menjual berlian di Grand Bazar. Arda pun langsung menghubungi seseorang
untuk menyelidikinya.
Zerrin dan Taner membawa Asli ke
rumah sakit milik Tayyar. Asli di bawa ke sebuah ruangan dengan menggunakan
kursi roda. Kondisinya tampak lemah dan tatapannya kosong. Zerrin berniat
menggugurkan kandungan Asli secara rahasia. Hanya dia dan Tayyar yang tahu.
Elif dan Omer berjalan kaki di
sebuah desa wisata di Polonezkoy. Elif berlagak seperti pemandu wisata yang
menjelaskan banyak hal tentang tempat itu. Omer terlihat mengagumi keindahnnya.
Kembali ke rumah sakit. Zerrin,
Tayyar dan Taner tampak duduk menunggu di kursi lorong rumah sakit. Seorang suster
keluar dari ruang rawat Asli dan memberitahu bahwa dokter telah memberi Asli
obat penenang.
Taner lalu bertanya pada Zerrin,
“Haruskah kita mengabari Elif dan Nilufer?”
“Jangan! Jangan menyusahkan
mereka saat ini. Aku bilang ke Nilufer kalau Asli akan menginap di rumah sakit
ini dan pulang besok pagi. Aku tidak mengizinkannya datang kemari. Dan kalau
Elif tahu, dia akan melarang kita membawa Asli kesini. Kita hanya akan berdebat
percuma. Biar kujelaskan saja semuanya nanti pada mereka,” Ucap Zerrin.
“Baiklah. Seperti maumu,” Taner
tak bisa berbuat apa-apa.
Dokter keluar dari ruang rawat
Asli. Zerrin menanyakan kabarnya. Dokter bilang bahwa Asli baru saja minum obat
tidur dan dia akan istirahat semalaman, dan besok operasinya akan dijalankan.
Zerrin lalu masuk melihat
kondisi Asli. Dia duduk di sebelahnya dan menggenggam tangannya sembari
menangis. “Oh malaikatku.... maafkan aku, anakku!”
Taner dan Tayar berduaan di
lorong rumah sakit.
“Jangan takut, dia akan
baik-baik saja!” Kata Tayyar menenangkan Taner.
Di saat yang sama, Huseyin,
Arda, dan Pelin datang menghampiri mereka. Taner tampak shock. Begitupun
Tayyar.
“Ada apa?” Tanya Tayyar.
“Kami butuh menanyai Tuan Taner
dengan beberapa pertanyaan.” Jawab Huseyin.
“Aku sudah pergi ke kantor
polisi dan sudah menjawab semua pertanyaan kalian (saat Asli ditangkap dulu),”
Kata Taner.
“Tak ada yang perlu
ditakutkan....” Sela Tayyar ke arah Taner.
Tayyar lalu memberitahu Huseyin,
“Entah untuk kasus apa, ruang kerjaku terbuka untukmu.... jadi kalian bisa
menggunakannya dengan nyamat. Selamat datang!”
Tayyar menawarkan ruang kerjanya
di rumah sakit itu untuk interogasi Taner. Setelah itu Tayyar mengantar Taner,
Huseyin, Arda dan Pelin ke ruang kerjanya.
Di rumahnya, Nilufer sibuk
mencari tahu nomor ponsel Metin. Dia menghubungi rumah sakit tempat Metin
dirawat dulu untuk menanyakan nomor Metin. Tapi tak diberitahu dengan alasan
privasi. Nilufer pun menyerah.
Di ruang kerja Tayyar, Huseyin
mulai menginterogasi Taner.
“Ketika kau pergi ke toko
perhiasan dengan berlian di tanganmu, kau otomatis menjadi seorang tersangka.
Tidakkah kau menyadari hal itu?”
“Lihat! Aku tak melakukan
apapun.” Sangkal Taner.
“Dimana kau saat malam
pembunuhan?” Tanya Huseyin.
Sementara itu, diam-diam Tayyar masuk ke lemari rahasia sehingga dia bisa menguping pembicaraan Huseyin dan Taner di ruang sebelahnya.
Sementara itu, diam-diam Tayyar masuk ke lemari rahasia sehingga dia bisa menguping pembicaraan Huseyin dan Taner di ruang sebelahnya.
“Aku sudah bilang, aku
meninggalkan pesta, lalu pulang ke rumah, dan tidur.” Jawab Taner.
“Apakah berliannya ada padamu
sekarang ini?” Huseyin kembali mencecar.
“Ya.”
“Kau harus memberikannya kepada
kami!”
Taner mengeluarkan sebutir
berliannya dari saku jasnya. Huseyin melihatnya. Berlian pink itupun jatuh di
meja.
“Bagaimana bisa berlian ini ada
di tanganmu? Apakah memang ada di keluarga itu?”
“Tidak. Aku tidak tahu.
Kutemukan ini di lemari pakaiannya Asli.”
Semua tampak terkejut. “Kapan?”
tanya Huseyin.
“Di hari ketika polisi datang
menggeledah rumah kami...kutemukan ini saat mencari pakaian Asli.” Jawab Taner.
“Oke. Tapi kami sudah
menggeledah ruangan Asli saat dia diinterogasi waktu itu. Kenapa kami tidak
menemukannya?” Tambah Arda.
“Aku tidak tahu. Mungkin dia
(Asli) meletakkan berlian itu di sana setelah kalian meninggalkan rumah kami.”
Kilah Taner.
“Kenapa kau tak memberikan
berlian itu kepada kami waktu itu?” Tanya Pelin.
“Untuk melindungi Asli. Aku
takut kalian akan menginterogasinya lagi. Di samping itu, aku tidak tahu
berlian ini asli ataukah palsu. Aku bersumpah pada kalian bahwa aku tak
melakukan hal yang salah.” Jelas Taner.
“Baiklah Bung....!” Ucap
Huseyin. “Kami mengerti.”
Huseyin lalu memasukkan berlian
pink itu ke dalam kantong barang bukti.
“Semua pertanyaan itu akan kami
tanyakan untuk lain waktu. Mulai dari sekarang, kau harus menemui kita terlebih
dahulu jika kau menemukan sesuatu. Sepakat?” Suruh Huseyin.
“Pak, kondisinya Asli belum
diketahui. Seluruh keluarga tidak tahu tentang berlian itu. Akankah kalian
memberitahu mereka?” Taner ketakutan.
“Semua informasi dalam
interogasi selalu kami rahasiakan. Jangan takut!”
Huseyin lalu mengajak Pelin dan
Arda pergi. Taner masih menguping.
Di luar rumah sakit, Arda
menanyakan sesuatu pada Huseyin.
“Bos, apa yang akan kita perbuat pada laki-laki
tadi (Taner)? Omer juga mencurigainya.”
“Pria itu menyembunyikan
sesuatu, tak diragukan lagi, tapi kita tak bisa menahannya karena kita harus
punya cukup bukti lagi.”
Huseyin lalu menyuruh Arda untuk
menugasi beberapa petugas agar terus memata-matai Taner. Setelah itu mereka
pergi.
Di Polonezkoy, Elif dan Omer
menghampiri wahana ATV. Omer mengajak Elif mengemudikannya, namun Elif tampak takut
dan malah mengajak Omer ke kolam renang saja. Omer tersenyum dan semakin
menggoda ketakutan Elif.
Omer lalu menunggangi salah satu
ATV dan mengajak Elif duduk di boncengannya. Elif bercerita bahwa dia punya
trauma di masa lalu karena pernah menabrak pohon saat mengemudikan ATV, namun
Omer meyakinkannya bahwa tak akan terjadi apa-apa.
Dengan terpaksa, Elif duduk di
boncengan Omer. Wajahnya begitu dekat dengan wajah Omer. Namun Elif sungkan
untuk berpegangan. Saat Omer mulai menghidupkan mesin ATVnya, Elif seperti akan
terjatuh. Omer lalu menyuruh Elif melingkarkan tangannya ke pinggang Emar.
Debar-debar asmara di antara semakin menyala seiring Omer mulai mengemudikan
ATV nya.
Keduanya mengelilingi tempat
berbukit dan berumput yang sangat indah. Lagu “Buklum Buklum Sarkisi” mengiri
adegan keduanya. Hingga sampailah di sebuah danau, mereka duduk di tepiannya.
Elif terus saja memandangi Omer saat pria itu melempari danau dengan kerikil.
Omer pun sesekali melirik ke arah Elif saat tersenyum.
Setelah itu keduanya makan siang di kafe. Elif bertanya, apakah Omer menyukai makananya. Omer menjawab, tentu saja dia harus suka karena harganya mahal. Omer lalu tertawa dan membujuk Elif agar tidak marah.
Setelah itu keduanya makan siang di kafe. Elif bertanya, apakah Omer menyukai makananya. Omer menjawab, tentu saja dia harus suka karena harganya mahal. Omer lalu tertawa dan membujuk Elif agar tidak marah.
Adegan berikutnya, Omer dan Elif
saling menceritakan kisah masa kecilnya. Di akhir cerita mereka, keduanya
saling berpandangan bagaikan mata mereka tertarik magnet asmara.
Hari berganti malam. Elif dan
Omer berbaring di atas rerumputan yang dialasi tikar, persis di bawah pepohonan
yang sejuk. Keduanya sama-sama memandangi bulan sabit di langit.
Omer lalu bertanya, “Apa kau percaya takdir?”
Omer lalu bertanya, “Apa kau percaya takdir?”
“Kadang-kadang,” Jawab Elif.
“Dimanapun sesuatu yang buruk terjadi padaku, aku berpikir bahwa semua itu akan
berakhir indah atau aku akan menyukainya.”
“Pemikiranmu ini benar-benar menarik,”Puji
Omer.
“Dan kau?” Tanya balik Elif.
“Ada beberapa jenis takdir. Tapi
pilihan kitalah yang menentukan bagaimana akhirnya. Sayangnya aku sangat tak
bangga dengan pilihanku sekarang ini.” Omer kembali terlihat bersedih.
Elif lalu menolehnya, “Kau tidak
sendirian....baiklah, jika kau diberi kesempatan untuk menulis (takdirmu) ulang
kembali dari awal, apa yang kau inginkan?”
“Ketika seseorang menjadi
polisi, dia menyaksikan hal-hal yang dipenuhi masalah. Kau menyakinkan
kejadian-kejadian yang membuatmu malu sebagai manusia. Suami yang membunuh
istrinya... atau anak-anak yang menjual narkoba. Mereka berjuang demi uang.
Itulah dunia. Keinginanku adalah menjadikan dunia kecilku tanpa
kebohongan-kebohongan....tapi orang-orang akan selalu berkhianat. Aku harap...
aku harap kita tidak saling berbohong. Itu saja.”
“Tanpa kebohongan, sebuah
kejujuran tidak akan ada artinya....” Ujar Elif dengan tatapan sendu ke arah
Omer.
Zerrin dan Taner sedang menjaga
Asli yang terlelap di ruang rawatnya. Zerrin terus saja menangis sembari
menggenggam tangan Asli. Dia bercerita bahwa betapa bahagianya dia saat
mengandung Asli dulu. Betapa cantiknya Asli saat dilahitkan. Zerin tak pernah
menyangka kenapa Asli bisa memiliki penyakit (mental) seperti ini. Taner
menyuruh Zerrin untuk tidak menyalahkan diri. Zerrin bersumpah bahwa dia akan
terus menjaga putrinya.
Dokter lantas datang.
“Bagaimana keadannya? Apakah dia
masih tidur?”
“Ya, dia tidak bangun-bangun!”
Jawab Taner.
“Baiklah, aku akan kembali
nanti.”
Taner mengejar dokternya dan
bertanya. “Dok, istri saya sedang hamil. Haruskah dia melanjutkan
pengobatannya?”
“Benarkah? Aku tidak
mengetahuinya,” Jawab Dokternya.
“Asli tidak ingin ibunya tahu.
Apa yang harus kita lakukan?”
“Pertama, biar keadaan Asli
lebih baik dulu... lalu kita bicarakan lagi hal ini. Kami akan mengubah
dosisnya. Jangan takut!”
Kembali ke Omer dan Elif.
Keduanya masih berbaring dan saling berpandangan. Omer pelan-pelan mendekatkan
wajahnya ke Elif dan hampir menciumnya, namun ia keburu sadar dan memalingkan
wajahnya.
“Ini sudah larut. Sebaiknya kita
pulang....” Ucap Omer.
“Oke. Ayo pulang. Lalu lintas
tidak ramai saat ini...” Sahut Elif.
“Kau benar!” Omer bangkit, lalu
mengulurkan tangannya dan membantu Eif berdiri.
Mereka lalu berdebat lucu soal
pembayaran (wahana, kafe, dan tempat menyewa selama mereka berada di Polonezkoy
seharian). Namun Elif memaksa untuk membayarnya karena pembayaran harus
menggunakan kartu member.
Di tempat terpisah, Arda dan
Pelin mendatangi rekan kerjanya yang bertugas mencari rekaman CCTV di keluarga
Denizer. Pelin menanyakan rekaman yang terhapus di malam pembunuhan. Namun
seorang petugas memberitahu Pelin bahwa yang mengerjakannya adalah Ferhat, dan
sepertinya Ferhat belum bisa menemukannya. Pelin menyutuh Ferhat untuk fokus pada
kasus itu dan meninggalkan pekerjaannya yang lain.
Setelah itu Pelin dan Arda
membicarakan Cidem (istrinya Arda) di lorong lantai dua kantor polisi. Arda
tampak tak suka membahas hal itu. Pelin meyakinkan Arda kalau dirinya tak sakit
hati lagi karena ucapan istrinya Arda beberapa waktu sebelumnya. Pelin
menyarankan Arda untuk mencari jalan keluar masalah pernikahannya. Dia juga
menyarankan sebaikanya mereka sendiri tak bekerja bersama lagi saat di luar
agar Cidem tak salah paham. Namun Arda memberitahu Pelin kalau istrinya itu
sedang marah dan mereka sedang mengurus perceraian.
Omer mengantar Elif di depan
rumahnya. Elif mengucapkan terimakasih untuk hari yang indah ini. Justru Omer
yang berbalik berterimakasih.
“Dunia tak lagi terlihat gelap
seperti yang terlihat di mataku semalam, terima kasih untukmu...” Ucap Omer.
“Itu membuatku bahagia karena
kau melewati hari yang indah seharian ini....” Kata Elif.
“Sangat indah, sungguh, hari ini
sangatlah indah....” Balas Omer.
Elif tersenyum. “Oke.”
“Oke.”
Omer dan Omer bebarengan hendak
saling mencium, namun tertahan. Elif lalu mengecup duluan pipi Omer. Setelah
mengucapkan selamat malam, ia turun dari mobil dan melambaikan tangan.
Di ruang tamu, Elif dipanggil
Nilufer yang sedang duduk sendirian di sofa. Nilufer memberitahu Elif kalau
Asli dibawa ibu mereka ke rumah sakit. Elif terkejut dan bertanya kenapa dia
tak diberitahu. Elif kembali bertanya, Asli di bawah ke rumah sakit mana.
Nilufer tak tahu. Elif mencoba menelepon ibunya sembari naik ke tangga.
Omer pulang ke rumah dan
bergabung dengan Huseyin, ibunya, juga Melike di teras. Wajah Omer terlihat
begitu sumringah, hingga membuat keluarganya penasaran bercampur senang. Sikap
Omer pun jauh lebih manis pada Melike. Dia bahkan memuji teh buatan kakak iparnya
itu. Ibunya tersenyum dan menawarkan makan malam. Namun Omer menolak karena dia
sudah makan.
Saat Ibu Elvan dan Melike masuk
ke dapur, Huseyin memberitahu Omer soal berlian di tangan Taner. Omer tampak
terkejut.
Keesokan paginya, di rumah
Tayyar, Pinar berniat keluar rumah sendirian dengan mengendarai mobilnya. Saat
akan keluar pagar, Pinar melihat Omer menunggunya di tepi jalan. Keduanya lalu
berbincang meski Pinar tampak tak menyukai kemunculan Omer.
“Kita harus bicara!” Ucap Omer.
“Aku tak punya waktu.” Kata
Pinar mendekat ke arah Omer. “Selain itu, adakah yang harus kita bicarakan?
Mereka tahu bahwa kau seorang polisi bukan dari mulutku. Aku tetap menjaga
janjiku.
“Apakah berlianya ada padamu?”
Tanya Omer.
“Aku tak mengerti. Kenapa kau
menanyaiku hal semacam itu?” Pinar gugup.
“Kita sudah tahu bahwa Taner
memiliki sebutir berlian. Pilih salah satu, kau memberitahuku sekarang, atau
aku akan memanggil kalian berdua ke kantor polisi. Kemudian Asli dan Tayyar
akan tahu segalanya tentang kalian. Itu pilihanmu.”
“Jika berlianya ada pada kami,
kami sudah pergi meninggalkan tempat ini jauh-jauh hari. Kami tidak akan tetap
di sini.”
“Jadi semuanya karena uang?”
“Tidak. Tak semuanya karena
uang. Taner dan aku saling mencintai. Kami butuh uang untuk membangun hidup
kami berdua.”
“Apa kau yakin? Aku rasa, kau
harus berpikir lagi. Seseorang yang merelakan apapun demi kebahagiaan dan
cintanya, tidak akan sanggup tinggal di rumah yang berbeda (seperti Taner dan
Pinar). Jika cinta kalian lebih kuat dari uang, maka kalian seharusnya memilih
cinta kalian bukan memilih uang....” pungkas Omer, setelah itu dia pergi.
Nilufer berhasil menemukan
Metin. Keduanya berdebat di lobi apartemen. Metin lantas membawa Nilufer masuk
ke dalam lift.
Sementara itu, di kantornya, Tayyar memerintahkan anak buahnya untuk menculik Taner dan memaksanya bercerita soal berlian itu. Tapi tanpa melibatkan Metin, karena Metin sudah punya pekerja lain.
Sementara itu, di kantornya, Tayyar memerintahkan anak buahnya untuk menculik Taner dan memaksanya bercerita soal berlian itu. Tapi tanpa melibatkan Metin, karena Metin sudah punya pekerja lain.
Metin dan Nilufer bertengkar di
unit apartemennya.
“Kau tak bisa meninggalkanku.
Kau tak bisa meninggalkanku begitu saja setelah kau memberiku cintamu begitu
banyak. Aku mempercayaimu dan memberikan diriku padamu. Aku sudah membohongi
polisi demi dirimu.” Nilufer mencecar Metin dengan deraian air mata.
“Aku juga berkorban untukmu.
Ayolah jangan membesar-besarkan hal ini.” Metin membela diri.
“Jadi, kau akan meninggalkanku?
Kau memperalatku. Permainanmu telah selesai, pekerjaanmu telah tuntas, dan
sekarang kau meninggalkanku, benar begitu? Apa kau pikir aku akan bisa
melupakan?” Nilufer tak terima.
“Tatap aku! Aku bukan seorang
manajer bank. Saat ini aku seorang pria yang mengelola perusahaan ayahnya. Aku
tak memberitahumu semuanya tentang seperti apa aku ini, atau siapa pria yang
merebut tanpa ayahmu. Aku bukan pria yang baik, tidakkah kau lihat? Tanganku
berlumuran darah. Apapun yang kusentuh menjadi kutukan. Mengertilah kenapa aku
menjauhimu karena aku mencintaimu. Kau harus meninggalkanku dan selamatkan
hidupmu dariku. Apa kau mengerti?” Jelas Metin.
Nilufer mendekati Metin dan
menciumnya.
“Aku tak bisa meninggalkanmu.
Sudah terlambat. Jangan tinggalkan aku! Sudah cukup bagiku setelah tahu bahwa
kau mencintaku, sekalipun aku tidak
pernah melihatmu. Apa kau mengerti? Aku butuh cintamu. Jika aku pergi, aku akan
kembali hampa.”
Mereka pun kembali berciuman.
Zerin pulang ke rumah, dan disambut Huliya.
Zerin pulang ke rumah, dan disambut Huliya.
“Selamat datang Nyonya. Bagaimana
keadaan Nyonya Asli?” Tanya Huliya.
“Dia baik. Pergi kemasi baju ke dalam tas kecil.
Letakkan juga barang-barangnya Asli yang nyaman!” Suruh Zerin.
Huliya pun bergegas naik ke tangga. Di
saat yang sama, Elif turun dan menghampiri ibunya.
“Bu, apa yang terjadi? Bagaimana Asli?”
Tanya Elif. “Kenapa kau tak mengabariku, Bu? Aku meneleponmu semalam tapi tak
kau jawab!”
“Tak ada yang harus dibesar-besarkan,
Elif.” Kilah Zerin.
“Apa maksud Ibu? Kau membawa sebuah tas.
Jelas sekali dia tidak akan menginap di sana semalam saja. Kau pun tak
memberitahuku kau pergi ke rumah sakit mana.”
“Karena kakakmu tidak ingin seorangpun tahu
keadaannya. Dia akan merasa malu. Tunjukkanlah sedikit pengertianmu.”
“Aku ini adiknya, Bu. Aku ingin berada
di sampingnya. Aku akan ikut juga.”
“Aku dan Asli berjuang melawan krisis
ini sendirian sebelumnya, Elif. Kau tak disini sebelumnya. Dan sekarang,
izinkan dan putrinya akan melakukannya lagi bersama-bersama, bergandengan
tangan, melewati semua ini....Huliya dimana kau?”
“Saya datang Nyonya Zerrin!” Jawab
Hulita.
Setelah itu Zerin mengajak Huliya pergi.
“Bye!”
Elif memberitahu ibunya, “Kabari aku jika
kau butuh sesuatu!”
Elif lalu menarik Huliya dan menanyainya
sebentar, “Huliya, apa Nilufer sudah bangun?”
“Dia bangun pagi-pagi dan bilang menemui
temannya, lalu pergi. Jangan takut. Dia pergi bersama pengawalnya.”
Huliya lalu pergi bersama Zerin ke rumah
sakit.
“Oke.” Ujar Elif di pintu.
Seorang pria mendatangi rumah Nyonya
Fatma. Pria suruhan Metin. Dia mengantarkan pasport untuk Hatice (adik Sibel).
Hatice tampak takut dan ragu saat melihat pasportnya.
Pria suruhan Metin itu lalu menelepon
Metin, “Kak, aku telah memberikan paspornya ke adiknya Sibel. Kau bilang untuk
mengabarimu.”
“Oke. Tunggu perintah lagi dariku.”
Di apartemen Metin, Nilufer menemukan
keping CD yang diberi nama “Nilufer” dalam laci mejanya Metin. Diam-diam
Nilufer menyembunyikannya ke dalam tas tanpa sepengetahuan Metin. Ia lalu
menghampiri Metin dan mengecupnya.
“Kau bicara dengan siapa? Apa ada
masalah?” Tanya Nilufer.
“Kau tak mengenal mereka. Sedikit yang
kau tahu saat kau bersamaku, itu lebih bagus.” Jawab Metin sembari membelai
rambut Nilufer.
Nilufer lantas duduk di depan Metin.
“Kau tidak akan meninggalkanku kan?”
“Aku tak bisa menjanjikan kebahagianmu.
Ini akan berakhir suatu hari nanti.”
“Biarkan hubungan ini terus berlanjunt
seberapapun lamanya. Aku menerima. Kau tetap bersamaku saja itu sudah cukup.”
“Kau lebih gila daripada aku sendiri.
Ayolah, aku harus bekerja, biar kuantar kau pulang!” Ajak Metin.
“Aku datang bersama pengawal. Kau
lanjutkan saja pekerjaanmu.”
“Kau datang ke rumahku dengan membawa
polisi?”
“Apa aku terlihat sebodoh itu?
Pengawalku menunggu di ujung jalan. Aku berputar dari seberang jalan lalu masuk
kesini.”
Metin tersenyum, “Kau memang gadis
tercantik dan paling berani yang aku kenal....”
“Kutinggalkan hatiku bersamamu. Jangan
lupakan itu. Oke?” Ucap Nilufer sebelum pergi.
Bahar menjemput Elif di rumahnya untuk
rapat.
“Selamat pagi. Ayo pergi kalau kau sudah
siap. Tuan Levent menelepon dan bilang pada teknisi kita sudah tiba. Ayolah
jangan membuatnya menunggu!” Ucap Bahar.
“Oke.... ayo pergi!”
Bahar melihat ekspresi Elif yang berbeda
pagi itu. “Ah ah. Ada sesuatu. Apa itu?”
Elif lalu mengajak Bahar ke teras
rumahnya.
“Ada apa?” Bahar penasaran.
“Aku tahu kalau akan membuatmu marah
setelah ini,” Bisik Elif.
“Ya Tuhan, jangan bilang tentang Omer.
Kumohon!” Bahar sewot. “Kau meninggalkan kantor kemarin. Kemana kau pergi?”
“Ayo, duduklah!” Suruh Elif.
Setelah mereka duduk, Elif melanjutkan
ceritanya, “Kemarin kami pergi bersama.”
Ekspresi Bahar tampak dongkol. “Oh oh.
Aku penasaran sekarang. Apa yang kau lakukan bersamanya seharian?”
“Aku tahu kau khawatir dia akan
membuatku sedih, tapi jangan takut. Aku bukan anak kecil lagi. Hmmm... selain
itu, sikapnya lebih normal seiring berjalannya waktu. Sesuatu telah terjadi di
antara kami.”
“Apa maksudnya? Lalu, apa hasilnya?
Apakah dia berkata bahwa dia mencintaimu? Apakah dia menciummu saat kalian
berpisah?” Bahar semakin penasaran.
“Namun ada sura dari dalam diriku yang
mengatakan agar tidak menyerah, Bahar!”
“Ah, Elif. Kadang suara hati kita
hanyalah harapan kita sendiri. Tidak selalu berkata jujur, bisa saja salah.”
“Aku benar-benar telah menghabiskan hari
yang sangat indah bersamanya. Biarkan aku menikmati hal itu.”
“Oke, aku hanya ingin kau selalu
bahagia. Okay, apa yang kau lakukan, kemana kau pergi?”
“Kami pergi ke Polonezky. Melewatkan
semuanya di klub.”
“Super. Waktu selalu hadir dengan cara
yang sangat indah. Dia pria yang beruntung. Akankah dia bisa masuk ke klub itu
jika kau tak disana bersamanya? Mungkin hanya bisa kalau di klub itu terjadi
kelecakaan atau kasus pembunuhan,” Olok Bahar yang meremehkan Omer (kalau Omer
hanyalah orang miskin yang tak mungkin bisa masuk ke klub mewah di Polonezky).
Elif tampak kesal dengan ucapan Bahar.
“Apakah itu salah? Aku membawanya kesana untuk membuat perasaannya lebih baik.
Apa kau pikir dia berniat buruk?”
“Ya Allah, Elif sayang, polisi itu
(Omer) adalah pria yang baik. Maksudku, dia mungkin berpikir bahwa apa yang kau
lakukan itu terlalu berlebihan baginya....” Bahar berpura-pura baik.
“Aku tak perah memikirkan hal semacam
itu, Bahar. Apa kau bikir dia beranggapan buruk tentangku?”
“Biar dia sendiri menunjukkan aslinya,
Elif. Kenapa kau melukai perasaanmu sendiri? Baiklah, jangan biarkan mereka
(direksi perusahaan yang akan rapat) menunggu kita. Ayo bangkit dan fokus pada
pekerjaan kita!
“Bahar, sepertinya aku tak bisa datang
rapat.”
“Apa maksudmu kau tidak bisa datang?
Tuan Levent akan marah.”
“Kau bisa mengambil alih. Turuti saja
apapun yang mereka inginkan. Aku ingin gambaran detailnya. Aku akan melihatnya
nanti saja....” Elif bangun dari duduknya. “Aku harus pergi menemui Omer, atau
perasaanku tak akan bisa nyaman....”
Bahar tampak kesal meski ditahan. Ia pun
mencoba mengangguk dan tersenyum palsu. Elif lalu mengecup pipi Bahar dan
berucap, “Terima kasih sahabatku. Kau memang hebat.”
Setelah itu dia masuk ke dalam rumah.
Sedangkan wajah Bahar dipenuhi ketidak-sukaan karena ambisinya untuk
mencomblangi Elif dengan Levent gagal total.
Di kantor polisi, Arda memberi Omer
segelas teh. Mereka lalu berbincang.
“Bagaimana kabarmu, Bro? Maafkan aku.
Pelin tak memberitahuku. Aku harap bisa ada di sampingmu saat itu (Saat Omer
tahu rahasia Sibel). Aku benar-benar marah pada Pelin.” Ucap Arda.
“Jangan marah dengannya. Dia tak tahu
harus berbuat apa.”
“Tentu saja aku marah. Kewajibanku untuk
mendukung sahabatku.”
“Jika kau ingin membantuku, ayo kita
pecahkan kasus bisnis pencucian uang ini. Kita harus terus fokus. Metin adalah
sentralnya. Sibel juga mengenal Metin. Pelin pasti sudah memberitahumu.”
“Kita akan menemukannya. Jangan takut.
Tak ada yang bisa lepas dari tangan kita. Eh, apa yang terjadi kemarin? Kau
meninggalkan pekerjaanmu dan pergi bersama Elif?” Tanya Arda.
Omer tersipu malu.
Arda lalu meledeknya.
“Lihatlah wajahmu bersemu merah. Cepat! Ceritakan apa yang terjadi!”
Di saat yang sama, Elif datang ke kantor
polisi untuk menemui Omer. Di lobi utama, Elif bertemu Pelin. Pelin memberitahu
Elif bahwa Omer ada di ruang kerjanya dan Elif disuruh langsung masuk saja.
Sementara Pelin harus mengerjakan sesuatu di ruangan lain.
Namun saat mendengar Omer sedang
berbicara dengan Arda tentang dirinya, Elif pun urung masuk menemui Omer. Dia
menguping pembicaraan mereka di pintu.
“Kemarin benar-benar hari yang sangat
indah, Sobat! Kami berkeliling, berjalan-jalan, dan makan-makan. Polonezkoy
sungguh tempat yang cantik. Kami berdua bermain backgamon dan dia mengalahkanku
empat kali. Dia sungguh berbakat, permainannya tidak buruk,” Omer memulai
ceritanya.
“Apa lagi?” Tanya Arda penasaran.
“Apa lagi di sana? Kemarin sungguh hari
yang menyenangkan. Itu saja.”
“Bro, jangan marah, tapi aku yakin, saat
kau pergi bersamanya ke bar, kau merasakan ada sesuatu pada gadis itu.”
“Apa yang kau katakan? Adakah hal lain
yang bisa kupikirkan selain memikirkan perbuatan Sibel hari itu? Sebenarnya aku
menganggap Elif sebagai teman.”
“Apa artinya kau menganggap Elif berbeda
sekarang? Apa yang berubah? Apakah kau jatuh cinta padanya?” Tanya Arda.
Elif tampak tegang di dekat pintu. Ia
pun penasaran menunggu jawaban Omer.
“Aku tak tahu. Aku selalu merasa bahagia
setiap kali melihatnya. Saat dia tak ada di depanku, dia hadir dalam pikiranku
selalu. Ini benar-benar aneh. Namanya selalu ada dalam pikiranku. Aku selalu
merasa bertanya-tanya apa yang dilakukannya di luar sana. Ketika dia tersenyum,
rasanya ada sesuatu yang menghangatkanku di dalam sini. Dan saat dia bersedih,
hatiku rasanya hancur.....” Omer menjelaskan perasaannya.
Elif senyum-senyum sendiri di luar sana.
Omer lalu menoleh ke arah Arda. “Apa menurutmu ini cinta?”
Arda menjawab, “Bukan lagi, Bro. Perasaanmu
ini cinta yang sangat mendalam pada orang lain (Elif). Ini bukan aku yang
ngomong, tapi Erich Fromm. Aku membaca bukunya. Aku belajar bagaimana bicara
pada gadis saat aku remaja dulu. Kau benar-benar begitu mencintai gadis itu,
Bro! Kau sungguh sedang jatuh cinta. Oke, aku tahu kau tak ingin mengkhianati
kenangan Sibel. Tapi ada sesuatu yang terjadi antara kau dan Elif sejak hari
itu. Sebut saja itu jodoh atau takdir. Sebut apalah yang kau inginkan. Mungkin
semua ini terjadi agar kalian bisa bertemu.”
“Mungkin.....” Ucap Omer.
Elif tampak bahagia mendengarnya.
Perasaannya tak karuan. Ia lalu pergi diam-diam, tanpa sepengetahuan Omer. Saat
Pelin menyapanya, Elif menyuruh Pelin, “Jangan bilang aku datang kemari.
Kumohon jangan bilang Omer kalau kau melihatku!”
Elif lalu mengecup pipi Pelin karena
saking senangnya. “Okay, terimakasih!”
Pelin tersenyum keheranan dan kembali ke
ruang kerjanya.
DAFTAR SINOPSIS TERKAIT
Sinopsis Lengkap Cinta Elif episode 19 Senin 26 Oktober 2015
Reviewed by Riris Tania
on
07.51
Rating:
Reviewed by Riris Tania
on
07.51
Rating:










































































































