Sinopsis Lengkap Cinta Elif episode 19 Senin 26 Oktober 2015



GAMBAR





Sinopsis Lengkap #CintaElif episode 19 Senin 26 Oktober 2015




Di dalam kamar hotel, Omer tak berhenti minum. Ia lalu bersandar ke tembok dan menjatuhkan wajahnya. Elif menghampirinya dan menyuruhnya, “Istirahatlah sebentar, Omer! Kau akan merasa lebih baik!”

Omer pun rebahan di atas kasur. Elif melepas sepatunya. Omer diam saja. Elif lantas menyelimutinya, kemudian mereka saling berpandangan. Elif menatap Omer dengan penuh cinta. Omer lalu mengatakan sesuatu.
“Ada hutan yang tersembunyi di dalam matamu. Kutahu saat melihatmu pertama kali dulu....”
Elif hanya tersenyum haru mendengar ucapan Omer itu. Pelan-pelan Omer pun terpejam. Elif masih duduk memandanginya di samping. Tahu-tahu Elif membelai pelan sisi wajah Omer. Gadis itu lantas mengecup pipi (dekat bibir) Omer. 

Setelah itu Elif duduk menjauh ke sebuah sofa dekat jendela. Di sana ia masih mengawasi Omer dengan senyuman.

Malam berganti pagi. Elif ketiduran di sofa. Saat terbangun, ia sudah tak mendapati Omer di kamar bersamanya. Elif memanggil Omer dua kali, namun tak ada sahutan. Omer meninggalkan pesan sebuah gambar emoticon senyum di kertas. Dia sudah pergi. Elif tersenyum kecewa.

Omer mendatangi rumah Pelin. Pelin tampak kesal dengan kedatangan Omer yang tiba-tiba.
“Ya ampun, jam berapa ini? Aku masih tidur pulas....”
“Ini sudah jam sepuluh pagi,” Jawab Omer lalu masuk ke dalam ruang tamu Pelin. “Aku butuh menyampaikan sesuatu padamu.”
“Masuklah!” Ajak Pelin. “Apa kau baik-baik saja?”
Omer tak menjawab, malah membicarakan Sibel. “Identitas palsunya Sibel. Apa lagi yang kita tahu tentang Emine Kazim (nama samaran Sibel)?”

Taner mendatangi seorang ahli berlian di sebuah toko perhiasan. Ia membawa sebutir berlian pink miliknya untuk diperiksa keasliannya.
Di perusahaan Denizer, Elif duduk besama Bahar di ruang kerja Elif. 
“Tolong jangan memarahiku, tapi laki-laki ini mulai melihatmu seperti seekor burung yang ada di tangan,” Ucap Bahar.
“Itukah yang kau pikirkan?” Tanya Elif.
“Tentu. Tidakkah kau menyadarinya? Situasi ini akan menjadi buruk. Tak ada yang baik dari Omer untukmu. Kau harus menerima semua ini. Terlihat jelas dari sikapnya. Kau akui bahwa kau mencintainya, tapi pria itu tidak berkata sebaliknya. Tolong, lupakanlah dia mulai dari sekarang!” Bahar terus saja memprovokasi Elif.
“Aku harap itu semudah yang kau katakan, Bahar.”
“Sebetulnya itu sangat mudah. Cuma saja kau tidak tahu.”
“Aku tak tahu....”
“Jangan meladeninya setiap kali dia menghubungimu. Jangan mengikutinya terus, sampai kau menemukan waktu yang tepat. Sementara sekarang jelas-jelas kau berlari mengekorinya.”
“Apa kau pikir aku tidak menyadari hal itu, Bahar? Tiada  momen yang membuatku tidak memarahi diriku sendiri (gara-gara Omer), tapi ada sesuatu yang mendorongku terus ke arah Omer seperti magnet. Dimanapun aku memiliki masalah, selalu kutemukan diriku di sampingnya. Ufff yeaaah. Ini benar-benar konyol!”
 Di ruang tamunya, Pelin membawakan Omer teh hangat sembari memberitahunya sesuatu.
 “Aku sudah pergi ke alamat yang aku temukan di data kependudukan kemarin. Ada seorang gadis bernama Emine Kazim. Sayangnya dia sudah meninggal tiga tahun yang lalu. Ketika kerabatnya hendak pergi untuk menghapus data kependudukannya, muncul seseorang yang menghentikan mereka. Mereka memberi banyak uang. Keluarga itu sangat miskin, makanya menerimanya. Mereka tidak menghapus data kependudukan Emine Kazim. Mereka menerima uang secara rutin sampai.....”
“Sampai Sibel mati,” Lanjut Omer.
Pelin mengangguk.
“Apakah dia (Sibel) pergi ke Roma?” tanya Omer.
Pelin mengangguk lagi. “Lebih dari tiga tahun yang lalu, dia telah melakukan perjalanan ke tempat-tempat tertentu dan hanya menginap sehari saja lalu pulang.”
Omer tak habis pikir. “Dia (Sibel) berkata bahwa dia belum pernah pergi ke Roma. Dia bilang pergi ke Roma adalah impiannya. Bagaimana bisa aku percaya akan semua kebohongan-kebohogannya?”
“Kamu tidak tahu!” Ucap Pelin.
“Pelin, aku berusaha untuk mencari tahu. Aku berusaha mencari tahu. Bagaimana bisa aku sebuta itu?” Omer tampak begitu marah pada dirinya sendiri.
“Omer, dulu kau sedang jatuh cinta. Cinta adalah sesuatu yang dapat membuat apapun terjadi pada diri kita. Sibel dulu mencintaimu. Aku melihatnya, caranya memandangmu. Aku rasa dia menyesalinya. Mungkin dia sedang mencari jalan keluar....”
Omer bangkit dan meninggikan nada bicaranya, “Tak ada yang bisa membuatku mempercayai itu. Tak seorangpun.”
Pelin lalu menyuruh Omer untuk tenang. “Tinggalah disini bila kau mau. Kita bisa bicara. You telah melewati malam yang sangat sulit.”
“Memang sulit. Sangat sulit. Alhamdulillah, ada Elif di sampingku.”
Pelin tersenyum mendengar itu.
Omer melanjutkan omongannya, “Dia sendiri tak tahu apa yang harus diperbuatnya untukku. Aku juga membawanya ke dalam situasiku yang sulit. Pelin, maafkan aku. Aku menghancurkan isi rumahmu kemarin. Aku kehilangan akal.”
“Kau ini apa-apaan! Jika dengan menghancurkan sesuatu kau bisa lebih baik, aku tak keberatan....” Kata Pelin. “Itu cukup membuatmu lebih baik, Omer! Berhenti menyalahkan dirimu sendiri!”
Omer mengangguk lalu pamitan, “Sampai jumpa!”

Bahar mendatangi ruang kerja Levent.
“Sayang!” Panggil Bahar tergesa-gesa.
“Apa yang terjadi Bahar?” Tanya Levent.
“Tinggalkan apapun yang kau kerjakan sekarang, dan kemarilah....”
“Kenapa?”
“Harus kau fokus pada hubunganmu sendiri dengan Elif! Bangun dan ajaklah dia ke suatu tempat sekarang!”
“Sekarang? Aku harus bekerja sekarang.”
“Hei, pekerjaanmu yang asli adalah Elif. Gadis itu sekarang sedang kalut. Inilah waktu yang bagus untuk berada di sisinya.”
“Oke, tapi kemana aku harus mengajaknya, Bahar?”
“Aku sudah mengundangnya ke banyak tempat tapi dia tak pernah mau peduli.”
“Pikirkan sesuatu yang pintar. Undang dia ke tempat yang tak mungkin ditolaknya!” Paksa Bahar.
Levent hanya bisa menghela napas.
Di ruang kerjanya, Elif sedang sibuk dengan ponselnya. Levent lalu datang.
 “Masuklah Tuan Levent!” Ujar Elif.
“Kita harus keluar sekarang, Nona Elif!” Ajak Levent.
“Tak bisa. Aku punya banyak kerjaan hari ini,” Tolak Elif.
“Ayolah, kau akan membuatku marah jika terus-terusan menolak ajakanku kali ini....”
“Bukan seperti itu, hanya saja waktunya sedang tidak bagus...”
“Kita harus mendiskusikan topik penting untuk perusahaan, dan aku dapat menunjukkanmu kantor baru kita.”
“Baiklah, dimana?” Elif akhirnya menerima ajakan Levent.
“Itu kejutan!” Jawab Levent sembari tersenyum tipis.
“Sekarang benar-benar penasaran....” Elif mengambil jaketnya lalu pergi bersama Levent.

Di supermarket, Asli memborong banyak pernak-pernik bayi. Dia tampak begitu antusias meski kondisi mentalnya sedang kurang bagus. Dia terus saja meracau tentang jenis kelamin anaknya.
 Sementara itu, Omer pulang ke rumah dengan wajah suntuk. Ia melihat ada Melike sedang merapikan meja di teras depan rumahnya. “Selamat pagi. Sesuatu pasti terjadi semalam. Kakakmu baru pulang subuh tadi. Kenapa kau pulang terlambat?” Tanya Melike.

“Aku punya beberapa pekerjaan,” Jawab Omer dengan acuh.
Melike lantas menyindir Omer secara halus. Omer marah dan membentak kakak iparnya itu.
“Demi Tuhan, diamlah! Diamlah agar aku tidak marah padamu!”
Omer lalu pergi ke kamarnya di lantai bawah. Melike hanya menyeringai kesal lalu pergi mencari ibu mertuanya.








Di supermarket, Asli hendak membayar semua belanjaannya dengan kartu kredit. Tingkahnya gila. Saat kasir memberitahunya kalau kartu kreditnya tak bisa digunakan, Asli sangat marah. Ia lalu pergi meninggalkan kasir. Sebelum pergi, Asli sempat mengutil boneka kecil lalu ia sembunyikan ke dalam tas. Saat melewati pintu keluar supermarket, alarm berbunyi. Dua petugas lantas mengejar Asli dan membawanya masuk ke pos keamanan. Asli memarahi mereka dan mengancam akan menuntut mereka semua.

Omer berganti baju di dalam kamar. Ia melihat foto dirinya bersama Sibel dalam bingkai di atas meja. Langsung saja ia ambil foto itu dan dibanting ke tembok hingga kacanya pecah.
Ibu Elvan masuk dan terkejut. “Ya Allah. Ada apa? Kenapa kau seperti ini?”
Omer duduk dan menangis di depan ibunya. Elvan semakin takut.
 “Apa yang terjadi?” Tanya balik Omer. “Aku telah terbangun, Bu. Mataku telah terbuka. Aku menemukan bahwa Sibel.....”
Diam-diam Melike menguping dari luar pintu.
“Apa yang kau katakan, Nak?” Elvan penasaran.
“Dia (Sibel) itu pembohong, Bu. Dia melakukan pekerjaan kotor. Dia seorang kurir dalam bisnis pencucian uang....” Ujar Omer dengan sangat emosional hingga ia lalu menjotos tembok dan pangkal jarinya terasa sakit.
Ibu Elvan terbeliak melihat anaknya seperti itu.
“Dia ada dalam mobil itu untuk mendapatkan uang dari pria itu (Ahmed Denizer)......” Lanjut Omer.
Melike panik, dan berlari memanggil suaminya yang sedang tidur di kamar.
“Huseyin. Huseyiin. Bangun. Ya ampun” Panggil Melike.
“Ada apa Melike?” Tanya Huseyin malas-malasan.
“Huseyin bangun. Ini bukan saatnya tidur. Keadaan Omer sangat buruk.”
Barulah Huseyin bangun dari tidurnya. “Apa yang terjadi pada Omer?”
“Tentang Sibel,” Jawab Melike.
 Omer dan ibunya duduk berbincang.
“Dulu dia menyebutku keajaiban dalam hidupnya. Kini aku mengerti yang dia maksudnya. Seorang polisi yang tidak mampu melihat seorang kurir pencucian uang di depannya, itulah sebuah keajaiban, Bu.” Omer terus saja mengolok dirinya sendiri.
“Jangan lakukan ini, Nak! Jangan kau sia-siakan dirimu sendiri seperti ini!” Pinta Elvan sembari menangis.
Omer bangkit, “Aku tidak bisa menghukum diriku sendiri, Bu! Tak bisa. Kemarin aku sangat sedih, dan hari ini aku sangat marah.”
Omer lalu duduk lagi di depan ibunya, “ketika dia memegang tanganku. Dia tak ubahnya orang asing di sampingku. Saat itu aku pikir dialah suka dukaku, Bu. Aku tak bisa melakukan apa-apa lagi, Bu. Dia sudah mencabut dirinya sendiri dari sini (hatinya Omer) dan terlempar keluar....dan hatiku sekarang rasanya sangat hancur.”
Elvan menangis dan memeluk Omer sembari menepuk-nepuk punggungnya.
Huseyin lantas datang dan duduk di sebelah Omer. Dia tampak khawatir.
“Edem (sebutannya untuk Omer!”
Omer hanya menoleh Huseyin dengan lelehan air mata. “Kebohongan, Kakak!”
Huseyin lantas berkata, “Inilah hidup!”
Omer lalu bersandar di lengan kakaknya.

Elif dan Levent baru saja melihat-lihat kantor baru Denizer Holding. Mereka berbincang sepanjang perjalann. Levent memberitahu Elif bahwa gedungnya yang lama sudah menemukan pembelinya. Itu membuat Elif senang. 
“Itulah berita yang ingin kudengar hari ini,”Ucap Elif.
“Mungkin kita bisa pergi merayakannya di restoran terdekat?” Levent mencoba mengajak Elif.
“Aku harap ini tak terdengar seperti aku tak tahu berterimakasih, tapi aku harus balik ke perusahaan.... aku punya banyak pekerjaan yang harus kuselesaikan. Tapi mungkin lain kali?” Elif berusaha membuat Levent tak marah.
“Oke, aku akan mengingatnya.”
“Oke.”
“Ayo kita pergi!”
Elif dan Levent kembali ke perusahaan.

Omer memainkan korek apinya saat bersama ibu dan kakaknya di teras. Huseyin lantas menghentikan tangan Omer.
“Kau dulu berada di Van. Kau pulang Cuma dua tiga hari dalam sebulan. Bagaimana kau akan mencari tahu yang dilakukan gadis itu (Sibel)?” Tanya Huseyin.
“Itu pekerjaanku, aku sudah berusaha mencari tahu....” Jawab Omer.
“Terkadang kita tidak bisa menghentikan takdir, Nak. Dan ini sudah tertulis dalam takdirmu. Tanyakan pada dirimu sendiri apa yang kurang diberikan Allah dan kau tidak mematuhinya......” Elvan berusaha menasehati Omer.
“Omer, kau hidup jauh di sana. Akulah sering yang melihatnya (Sibel). Jika aku berada di posisimu, aku tak akan pernah memunculkan gadis itu lagi dalam pkiran.....” Saran Huseyin.
Melike muncul dan menyela, “Tentu saja jangan! Maksudku, tak seorangpun yang mau mendengarkanku. Aku pernah bilang, ada sesuatu tentang gadis itu (Sibel). Kalian semua berkata dia itu miskin......”
Huseyin kesal, “Apakah ini waktu yang tepat untuk membicarakan hal ini, Melike?”
“Ya, tentu saja....” Jawab Melike tegas. “Omer bukan Cuma adikmu, tapi dia juga adikku. Jiwanya bukan satu-satunya yang terbakar, dan kau bukan satu-satunya yang marah. Aku juga marah. Yang terjadi biarlah terjadi. Setiap keburukan datang dengan himah di belakangnya. Dia sudah mati dan kau (Omer) sudah menolongnya. Bagaimana jika dulu kau menikahinya? Bagaimana jika kalian punya anak dulu? Bagaimana jika dia menjadikanmu rekan dalam pekerjaan kotornya?”
 Omer marah dan langsung pergi. Huseyin marah pada istrinya dan mengejar Omer, namun Omer keburu pergi jauh.
 Di perusahaan Denizer, Elif dan Levent yang baru kembali, melihat ada Omer duduk di ruang tunggu. Elif langsung saja menemui Omer. Levent tampak sedikit kesal dan berlalu ke kantornya.
“Omer!”
“Apa kabarmu?”
“Kenapa kau kesini? Apa kau menemukan sesuatu? Itukah kenapa kau datang?” Tanya balik Elif.
“Tidak, aku tak menemukan sesuatu. Aku datang untuk berterimakasih.”
“Benarkah?”
“Aku sangat buruk semalam. Kepalaku sudah mendingan sekarang. Aku harap semalam aku tidak bicara hal-hal omong kosong....” Ujar Omer.
“Semalam kau lebih banyak mendengkur...”
“Benarkah?”
“Mafkan aku soal itu....”
“Tak masalah. Maksudku, itu memang kebiasaan buruk tapi tak berbahaya....” Olok Elif.
Omer tersenyum, “Sekarang kau mencoba membuatku merasa malu akan hal itu? Jelas kau tak terganggu akan hal itu.”
Mereka lalu saling berpandangan tanpa berkedip sekalipun.
“Aku punya usul jika kau tak ada pekerjaan lagi... jika jadwalmu sedang kosong....bisakah kita makan sesuatu? Kita bisa mencoba makan Sushi, atau tiramisu. Bagaimana?” Ajak Omer.
Elif lalu mengingat nasehat Bahar sebelumnya agar menolak setiap kali Omer mengajaknya dan tak mengikuti apa saja yang dimintanya.
“Omer, aku sibuk hari ini....” Tiba-tiba Elif bertampang dingin pada Omer. “Aku punya banyak pekerjaan yang harus kuselesaikan.”
Omer terlihat kecewa namun mencoba senyum. “Baiklah, kita bisa makan bareng di lain waktu....”
“Oke, lain waktu....”
“Lain waktu....semoga pekerjanmu dimudahkan...” Omer kehabisan kata.
“Terima kasih, begitupun untukmu....” Begitupun Elif.
Mereka lalu berpisah. Elif merasa tak enak hati dan menyalahkan dirinya karena menolak Omer. Dia lalu bertemu Bahar.
“Elif, katakan apa yang kau lakukan?”
“Aku dengarkan apa yang kau katakan... dan aku baru saja menolaknya.” Jawab Elif dengan begitu berapi-api.
“Menolak Siapa?” Bahar bingung.
“Omer!”
“Ya Tuhan.”
“Dia mengundangku ke suatu tempat untuk yang pertama kalinya, dan aku menolak ajakannya....” Elif terlihat begitu menyesal. “Ya Tuhan, apa yang sudah kulakukan?”
“Kau melakukan hal yang tepat Elif!” Bujuk Bahar.
Tapi Elif tetap saja tak membenarkan perbuatannya. Ia pun berbalik dan berlari mengejar Omer. 

Sampai di luar gedung, Elif berteriak memanggil Omer yang sudah pergi dengan mobilnya. Namun Omer tak mendengarnya. Elif terus saja berlari hingga ia hampir tertabrak mobilnya Omer. Omer turun dari mobil dan bertanya cemas, “Elif apa yang kau lakukan? Aku hampir menabrakmu.”
“Tak ada apa-apa. Ayo masuk!” Tahu-tahu Elif masuk dan duduk di jok sampingnya Omer.





“Bukankah kau punya pekerjaan?” Tanya Omer.
“Tak ada. Maksudku, tadinya ada. Aku punya rapat tapi sudah kubatalkan.....” Jawab Elif sembari senyum-senyum malu.
Omer hanya tersenyum sambil menghela napas.
“Ayo, menyetirlah!” Suruh Elif.
“Tidakkah kau katakan kita mau kemana?”
“Tempat dimana kita berdua bisa menenangkan diri. Jangan takut. Akan kutunjukkan jalannya.”
“Ahhh, sekarang kau ingin menjadi pengendali?”
“Akhirnya kau paham....”

Zerrin dan Taner baru saja membebaskan Asli dari kantor polisi. Taner tampah memarahi Asli. Asli lalu pergi begitu saja ke dalam mobil. Taner lalu berbiacara dengan Zerrin.
“Dia akan kembali tenang sesampainya di rumah,” Ucap Taner.
“Kita tidak akan pulang ke rumah...” Kata Zerin.
“Kita akan kemana?” Tanya Taner.
“Kita akan ke rumah sakitnya Tayyar.” Jawab Zerrin. Dia sudah tegas ingin mengaborsi kandungan Asli secara diam-diam.

Omer dan Elif sedang melakukan perjalanan ke suatu tempat dengan mengendarai mobil. Omer bertanya mereka akan kemana. Elif terus saja mengarahkan jalan. Omer meledek Elif. “Jadi sekarang kau jadi tukang perintah?”
Elif lalu memberitahu Omer bahwa mereka akan pergi ke Polonezkoy. Omer agak ragu karena tempat itu cukup jauh. Omer takut keluarganya Elif akan khawatir begitupun keluarga Omer sendiri karena dia pergi tiba-tiba.
Elif pun mengambil ponsel milik Omer dan menelepon rumah Omer.

Di rumah Omer, Ibu Elvan tampak sedang merapikan mesin jahitnya. Melike yang sedang menyapu menuyuruh mertuanya itu bergeser. Namun Ibu Elvan masih marah dan tetap mengacuhkannya. Melike pun kesal, “Oke, teruslah tidak bicara denganku! Memang sebaiknya aku berbohong soal Sibel. Kenapa aku selalu menjadi dianggap jahat setiap kali aku berkata jujur?”
Lalu telepon berdering. Ibu Elvan mengangkatnya. Melike tampak penasaran siapa yang menelepon.
 “Halo....” Sapa Ibu Elvan saat mengangkat teleponnya.
“Halo, Bu. Ini Elif. Bagaimana kabarmu?” Sahut Elif.
“Aku baikku, anakku. Bagaimana kabarmu.”
“Aku baik. Aku sekarang bersma Omer. Kami sedang pergi ke tempat yang cukup jauh untuk menenangkan pikiran. Omer tidak ingin membuatmu khawatir makanya dia memintaku untuk mengabarimu.”
“Terima kasih, Nak. Semoga Allah memberkatimu, Nak karena kau tidak meninggalkan Putraku sendirian hari ini....”
“Jangan berkata seperti itu! Semoga harimu baik.”
“Begitupun dirimu, Nak. Terima kasih juga.”
Ibu Elvan menutup teleponnya. Melike tampak penasaran.
“Apa yang terjadi, Bu? Siapa yang menelepon? Wajahmu tampak berseri-seri,” Tanya Melike.
Ibu Elvan tetap acuh dan pergi begitu saja meninggalkan menantunya itu. Melike terlihat merengut geregetan.
 Kembali ke Elif dan Omer yang sedang mengemudikan mobilnya di jalan. Keduanya berbincang-bincang dan menikmati perjalanan. Omer mulai bisa tersenyum lagi dan wajahnya kembali berseri. Elif kembali mengarahkan jalan.
“Oke. Polonezkoy.”

Melike menemui Ibu Elvan di teras depan. Melike masih saja membahas soal siapa yang menelepon tadi.
“Aku sudah membersihkan isi rumah....”
“Terima kasih....”
“Bu, kumohon, kau tahu aku bisa mati penasaran. Siapa yang menelepon tadi?”
Ibu Elvan masih acuh tak mau menjawab. Melike kesal dan berujar, “Semoga Allah mengampuniku. Aku sungguh seperti orang asing bagimu. Usiaku masih 19 tahun saat masuk ke rumah ini. Aku tumbuh bersamamu. Aku sudah menganggapmu sebagai ibuku dan Omer sebagai adikku. Tapi lihat perlakuanmu sekarang. Sepertinya aku begitu buruk hingga kau tak mau mengatakan siapa yang menelepon tadi. Oke. Tapi itu memang lebih baik. Akan lebih baik. Aku tahu posisiku di rumah ini.”
Ibu Elvan mulai kasihan. “Aku tak membeda-bedakanmu dari anak-anakku..... tak ada istilah pertama kedua, Melike. Jika aku marah, itu semua karena kau lancang dan kau pantas dimarahi. Masukkan semua ini ke dalam kepalamu dan pikirkan kenapa kami bersikap seperti ini kepadamu.”
Melike tampak menahan napas.
“Yang menelepon tadi, Elif,” Akhirnya Ibu Elvan memberitahu Melike. “Dia bilang sedang keluar bersama Omer. Katanya mereka sedang melakukan sesuatu ke tempat yang agak jauh dan kita disuruh untuk tidak perlu khawatir. Kau pun tak perlu khawatir. Oke?”
“Bu, apa maksudnya dengan melakukan sesuatu?”
“Entahlah. Urus saja pekerjaanmu!”
Ibu Elvan lalu masuk ke dalam rumah. Melike segera menelepon suaminya dan memberitahu Huseyin tentang Omer dan Elif. 

 Huseyin keluar dari ruang kerjanya, mengabari Arda dan Pelin bahwa Omer telah ditemukan dan sedang bersama Elif. Huseyin mengungkapkan rasa penasarannya akan hubungan Elif dengan Omer, lantaran Elif orang kaya tapi begitu mempedulikan Omer. 

Pelin meyakinkan Huseyin kalau Omer dan Elif Cuma berteman saja, seperti Pelin dengan Arda. Mendengar hal itu, Arda langsung menahan kecewanya karena sebenarnya dia punya perasaan cinta pada Pelin.
Huseyin pun kembali ke ruang kerjanya.
Pelin mulai ikut penasaran dan menanyakan hubungan Omer dengan Elif kepada Arda. Namun Arda mengaku tak tahu apapun.
Seorang petugas polisi datang mencari Omer, dan mengabari kalau mereka mengetahui ada seorang pria (Taner) berniar menjual berlian di Grand Bazar. Arda pun langsung menghubungi seseorang untuk menyelidikinya.

Zerrin dan Taner membawa Asli ke rumah sakit milik Tayyar. Asli di bawa ke sebuah ruangan dengan menggunakan kursi roda. Kondisinya tampak lemah dan tatapannya kosong. Zerrin berniat menggugurkan kandungan Asli secara rahasia. Hanya dia dan Tayyar yang tahu.


Elif dan Omer berjalan kaki di sebuah desa wisata di Polonezkoy. Elif berlagak seperti pemandu wisata yang menjelaskan banyak hal tentang tempat itu. Omer terlihat mengagumi keindahnnya.

Kembali ke rumah sakit. Zerrin, Tayyar dan Taner tampak duduk menunggu di kursi lorong rumah sakit. Seorang suster keluar dari ruang rawat Asli dan memberitahu bahwa dokter telah memberi Asli obat penenang.
Taner lalu bertanya pada Zerrin, “Haruskah kita mengabari Elif dan Nilufer?”
“Jangan! Jangan menyusahkan mereka saat ini. Aku bilang ke Nilufer kalau Asli akan menginap di rumah sakit ini dan pulang besok pagi. Aku tidak mengizinkannya datang kemari. Dan kalau Elif tahu, dia akan melarang kita membawa Asli kesini. Kita hanya akan berdebat percuma. Biar kujelaskan saja semuanya nanti pada mereka,” Ucap Zerrin.
“Baiklah. Seperti maumu,” Taner tak bisa berbuat apa-apa.
Dokter keluar dari ruang rawat Asli. Zerrin menanyakan kabarnya. Dokter bilang bahwa Asli baru saja minum obat tidur dan dia akan istirahat semalaman, dan besok operasinya akan dijalankan. 
 Zerrin lalu masuk melihat kondisi Asli. Dia duduk di sebelahnya dan menggenggam tangannya sembari menangis. “Oh malaikatku.... maafkan aku, anakku!”
Taner dan Tayar berduaan di lorong rumah sakit.
“Jangan takut, dia akan baik-baik saja!” Kata Tayyar menenangkan Taner.
 Di saat yang sama, Huseyin, Arda, dan Pelin datang menghampiri mereka. Taner tampak shock. Begitupun Tayyar.
“Ada apa?” Tanya Tayyar.
“Kami butuh menanyai Tuan Taner dengan beberapa pertanyaan.” Jawab Huseyin.
“Aku sudah pergi ke kantor polisi dan sudah menjawab semua pertanyaan kalian (saat Asli ditangkap dulu),” Kata Taner.
“Tak ada yang perlu ditakutkan....” Sela Tayyar ke arah Taner.
Tayyar lalu memberitahu Huseyin, “Entah untuk kasus apa, ruang kerjaku terbuka untukmu.... jadi kalian bisa menggunakannya dengan nyamat. Selamat datang!”
Tayyar menawarkan ruang kerjanya di rumah sakit itu untuk interogasi Taner. Setelah itu Tayyar mengantar Taner, Huseyin, Arda dan Pelin ke ruang kerjanya.

Di rumahnya, Nilufer sibuk mencari tahu nomor ponsel Metin. Dia menghubungi rumah sakit tempat Metin dirawat dulu untuk menanyakan nomor Metin. Tapi tak diberitahu dengan alasan privasi. Nilufer pun menyerah.
Di ruang kerja Tayyar, Huseyin mulai menginterogasi Taner.
“Ketika kau pergi ke toko perhiasan dengan berlian di tanganmu, kau otomatis menjadi seorang tersangka. Tidakkah kau menyadari hal itu?”
“Lihat! Aku tak melakukan apapun.” Sangkal Taner.
“Dimana kau saat malam pembunuhan?” Tanya Huseyin.
 Sementara itu, diam-diam Tayyar masuk ke lemari rahasia sehingga dia bisa menguping pembicaraan Huseyin dan Taner di ruang sebelahnya.
“Aku sudah bilang, aku meninggalkan pesta, lalu pulang ke rumah, dan tidur.” Jawab Taner.
“Apakah berliannya ada padamu sekarang ini?” Huseyin kembali mencecar.
“Ya.”
“Kau harus memberikannya kepada kami!”
Taner mengeluarkan sebutir berliannya dari saku jasnya. Huseyin melihatnya. Berlian pink itupun jatuh di meja.
“Bagaimana bisa berlian ini ada di tanganmu? Apakah memang ada di keluarga itu?”
“Tidak. Aku tidak tahu. Kutemukan ini di lemari pakaiannya Asli.”
Semua tampak terkejut. “Kapan?” tanya Huseyin.
“Di hari ketika polisi datang menggeledah rumah kami...kutemukan ini saat mencari pakaian Asli.” Jawab Taner.
“Oke. Tapi kami sudah menggeledah ruangan Asli saat dia diinterogasi waktu itu. Kenapa kami tidak menemukannya?” Tambah Arda.
“Aku tidak tahu. Mungkin dia (Asli) meletakkan berlian itu di sana setelah kalian meninggalkan rumah kami.” Kilah Taner.
“Kenapa kau tak memberikan berlian itu kepada kami waktu itu?” Tanya Pelin.
“Untuk melindungi Asli. Aku takut kalian akan menginterogasinya lagi. Di samping itu, aku tidak tahu berlian ini asli ataukah palsu. Aku bersumpah pada kalian bahwa aku tak melakukan hal yang salah.” Jelas Taner.
“Baiklah Bung....!” Ucap Huseyin. “Kami mengerti.”
Huseyin lalu memasukkan berlian pink itu ke dalam kantong barang bukti.
“Semua pertanyaan itu akan kami tanyakan untuk lain waktu. Mulai dari sekarang, kau harus menemui kita terlebih dahulu jika kau menemukan sesuatu. Sepakat?” Suruh Huseyin.
“Pak, kondisinya Asli belum diketahui. Seluruh keluarga tidak tahu tentang berlian itu. Akankah kalian memberitahu mereka?” Taner ketakutan.
“Semua informasi dalam interogasi selalu kami rahasiakan. Jangan takut!”
Huseyin lalu mengajak Pelin dan Arda pergi. Taner masih menguping.
Di luar rumah sakit, Arda menanyakan sesuatu pada Huseyin.
“Bos,  apa yang akan kita perbuat pada laki-laki tadi (Taner)? Omer juga mencurigainya.”
“Pria itu menyembunyikan sesuatu, tak diragukan lagi, tapi kita tak bisa menahannya karena kita harus punya cukup bukti lagi.”
Huseyin lalu menyuruh Arda untuk menugasi beberapa petugas agar terus memata-matai Taner. Setelah itu mereka pergi.

Di Polonezkoy, Elif dan Omer menghampiri wahana ATV. Omer mengajak Elif mengemudikannya, namun Elif tampak takut dan malah mengajak Omer ke kolam renang saja. Omer tersenyum dan semakin menggoda ketakutan Elif.
Omer lalu menunggangi salah satu ATV dan mengajak Elif duduk di boncengannya. Elif bercerita bahwa dia punya trauma di masa lalu karena pernah menabrak pohon saat mengemudikan ATV, namun Omer meyakinkannya bahwa tak akan terjadi apa-apa. 



Dengan terpaksa, Elif duduk di boncengan Omer. Wajahnya begitu dekat dengan wajah Omer. Namun Elif sungkan untuk berpegangan. Saat Omer mulai menghidupkan mesin ATVnya, Elif seperti akan terjatuh. Omer lalu menyuruh Elif melingkarkan tangannya ke pinggang Emar. Debar-debar asmara di antara semakin menyala seiring Omer mulai mengemudikan ATV nya.










Keduanya mengelilingi tempat berbukit dan berumput yang sangat indah. Lagu “Buklum Buklum Sarkisi” mengiri adegan keduanya. Hingga sampailah di sebuah danau, mereka duduk di tepiannya. Elif terus saja memandangi Omer saat pria itu melempari danau dengan kerikil. Omer pun sesekali melirik ke arah Elif saat tersenyum.



 Setelah itu keduanya makan siang di kafe. Elif bertanya, apakah Omer menyukai makananya. Omer menjawab, tentu saja dia harus suka karena harganya mahal. Omer lalu tertawa dan membujuk Elif agar tidak marah.
Adegan berikutnya, Omer dan Elif saling menceritakan kisah masa kecilnya. Di akhir cerita mereka, keduanya saling berpandangan bagaikan mata mereka tertarik magnet asmara.
Hari berganti malam. Elif dan Omer berbaring di atas rerumputan yang dialasi tikar, persis di bawah pepohonan yang sejuk. Keduanya sama-sama memandangi bulan sabit di langit. 


Omer lalu bertanya, “Apa kau percaya takdir?”
“Kadang-kadang,” Jawab Elif. “Dimanapun sesuatu yang buruk terjadi padaku, aku berpikir bahwa semua itu akan berakhir indah atau aku akan menyukainya.”
“Pemikiranmu ini benar-benar menarik,”Puji Omer.
“Dan kau?” Tanya balik Elif.
“Ada beberapa jenis takdir. Tapi pilihan kitalah yang menentukan bagaimana akhirnya. Sayangnya aku sangat tak bangga dengan pilihanku sekarang ini.” Omer kembali terlihat bersedih.
Elif lalu menolehnya, “Kau tidak sendirian....baiklah, jika kau diberi kesempatan untuk menulis (takdirmu) ulang kembali dari awal, apa yang kau inginkan?”
“Ketika seseorang menjadi polisi, dia menyaksikan hal-hal yang dipenuhi masalah. Kau menyakinkan kejadian-kejadian yang membuatmu malu sebagai manusia. Suami yang membunuh istrinya... atau anak-anak yang menjual narkoba. Mereka berjuang demi uang. Itulah dunia. Keinginanku adalah menjadikan dunia kecilku tanpa kebohongan-kebohongan....tapi orang-orang akan selalu berkhianat. Aku harap... aku harap kita tidak saling berbohong. Itu saja.”
“Tanpa kebohongan, sebuah kejujuran tidak akan ada artinya....” Ujar Elif dengan tatapan sendu ke arah Omer.
Zerrin dan Taner sedang menjaga Asli yang terlelap di ruang rawatnya. Zerrin terus saja menangis sembari menggenggam tangan Asli. Dia bercerita bahwa betapa bahagianya dia saat mengandung Asli dulu. Betapa cantiknya Asli saat dilahitkan. Zerin tak pernah menyangka kenapa Asli bisa memiliki penyakit (mental) seperti ini. Taner menyuruh Zerrin untuk tidak menyalahkan diri. Zerrin bersumpah bahwa dia akan terus menjaga putrinya.
Dokter lantas datang.
“Bagaimana keadannya? Apakah dia masih tidur?”
“Ya, dia tidak bangun-bangun!” Jawab Taner.
“Baiklah, aku akan kembali nanti.”
Taner mengejar dokternya dan bertanya. “Dok, istri saya sedang hamil. Haruskah dia melanjutkan pengobatannya?”
“Benarkah? Aku tidak mengetahuinya,” Jawab Dokternya.
“Asli tidak ingin ibunya tahu. Apa yang harus kita lakukan?”
“Pertama, biar keadaan Asli lebih baik dulu... lalu kita bicarakan lagi hal ini. Kami akan mengubah dosisnya. Jangan takut!”
Kembali ke Omer dan Elif. Keduanya masih berbaring dan saling berpandangan. Omer pelan-pelan mendekatkan wajahnya ke Elif dan hampir menciumnya, namun ia keburu sadar dan memalingkan wajahnya.
“Ini sudah larut. Sebaiknya kita pulang....” Ucap Omer.
“Oke. Ayo pulang. Lalu lintas tidak ramai saat ini...” Sahut Elif.
“Kau benar!” Omer bangkit, lalu mengulurkan tangannya dan membantu Eif berdiri.
Mereka lalu berdebat lucu soal pembayaran (wahana, kafe, dan tempat menyewa selama mereka berada di Polonezkoy seharian). Namun Elif memaksa untuk membayarnya karena pembayaran harus menggunakan kartu member.

Di tempat terpisah, Arda dan Pelin mendatangi rekan kerjanya yang bertugas mencari rekaman CCTV di keluarga Denizer. Pelin menanyakan rekaman yang terhapus di malam pembunuhan. Namun seorang petugas memberitahu Pelin bahwa yang mengerjakannya adalah Ferhat, dan sepertinya Ferhat belum bisa menemukannya. Pelin menyutuh Ferhat untuk fokus pada kasus itu dan meninggalkan pekerjaannya yang lain. 


Setelah itu Pelin dan Arda membicarakan Cidem (istrinya Arda) di lorong lantai dua kantor polisi. Arda tampak tak suka membahas hal itu. Pelin meyakinkan Arda kalau dirinya tak sakit hati lagi karena ucapan istrinya Arda beberapa waktu sebelumnya. Pelin menyarankan Arda untuk mencari jalan keluar masalah pernikahannya. Dia juga menyarankan sebaikanya mereka sendiri tak bekerja bersama lagi saat di luar agar Cidem tak salah paham. Namun Arda memberitahu Pelin kalau istrinya itu sedang marah dan mereka sedang mengurus perceraian.

Omer mengantar Elif di depan rumahnya. Elif mengucapkan terimakasih untuk hari yang indah ini. Justru Omer yang berbalik berterimakasih.
“Dunia tak lagi terlihat gelap seperti yang terlihat di mataku semalam, terima kasih untukmu...” Ucap Omer.
“Itu membuatku bahagia karena kau melewati hari yang indah seharian ini....” Kata Elif.
“Sangat indah, sungguh, hari ini sangatlah indah....” Balas Omer.
Elif tersenyum. “Oke.”
“Oke.”
Omer dan Omer bebarengan hendak saling mencium, namun tertahan. Elif lalu mengecup duluan pipi Omer. Setelah mengucapkan selamat malam, ia turun dari mobil dan melambaikan tangan.

Di ruang tamu, Elif dipanggil Nilufer yang sedang duduk sendirian di sofa. Nilufer memberitahu Elif kalau Asli dibawa ibu mereka ke rumah sakit. Elif terkejut dan bertanya kenapa dia tak diberitahu. Elif kembali bertanya, Asli di bawah ke rumah sakit mana. Nilufer tak tahu. Elif mencoba menelepon ibunya sembari naik ke tangga.

Omer pulang ke rumah dan bergabung dengan Huseyin, ibunya, juga Melike di teras. Wajah Omer terlihat begitu sumringah, hingga membuat keluarganya penasaran bercampur senang. Sikap Omer pun jauh lebih manis pada Melike. Dia bahkan memuji teh buatan kakak iparnya itu. Ibunya tersenyum dan menawarkan makan malam. Namun Omer menolak karena dia sudah makan.
Saat Ibu Elvan dan Melike masuk ke dapur, Huseyin memberitahu Omer soal berlian di tangan Taner. Omer tampak terkejut.
Keesokan paginya, di rumah Tayyar, Pinar berniat keluar rumah sendirian dengan mengendarai mobilnya. Saat akan keluar pagar, Pinar melihat Omer menunggunya di tepi jalan. Keduanya lalu berbincang meski Pinar tampak tak menyukai kemunculan Omer.
“Kita harus bicara!” Ucap Omer.
“Aku tak punya waktu.” Kata Pinar mendekat ke arah Omer. “Selain itu, adakah yang harus kita bicarakan? Mereka tahu bahwa kau seorang polisi bukan dari mulutku. Aku tetap menjaga janjiku.
“Apakah berlianya ada padamu?” Tanya Omer.
“Aku tak mengerti. Kenapa kau menanyaiku hal semacam itu?” Pinar gugup.
“Kita sudah tahu bahwa Taner memiliki sebutir berlian. Pilih salah satu, kau memberitahuku sekarang, atau aku akan memanggil kalian berdua ke kantor polisi. Kemudian Asli dan Tayyar akan tahu segalanya tentang kalian. Itu pilihanmu.”
“Jika berlianya ada pada kami, kami sudah pergi meninggalkan tempat ini jauh-jauh hari. Kami tidak akan tetap di sini.”
“Jadi semuanya karena uang?”
“Tidak. Tak semuanya karena uang. Taner dan aku saling mencintai. Kami butuh uang untuk membangun hidup kami berdua.”
“Apa kau yakin? Aku rasa, kau harus berpikir lagi. Seseorang yang merelakan apapun demi kebahagiaan dan cintanya, tidak akan sanggup tinggal di rumah yang berbeda (seperti Taner dan Pinar). Jika cinta kalian lebih kuat dari uang, maka kalian seharusnya memilih cinta kalian bukan memilih uang....” pungkas Omer, setelah itu dia pergi.
Nilufer berhasil menemukan Metin. Keduanya berdebat di lobi apartemen. Metin lantas membawa Nilufer masuk ke dalam lift.
 Sementara itu, di kantornya, Tayyar memerintahkan anak buahnya untuk menculik Taner dan memaksanya bercerita soal berlian itu. Tapi tanpa melibatkan Metin, karena Metin sudah punya pekerja lain.

Metin dan Nilufer bertengkar di unit apartemennya.
“Kau tak bisa meninggalkanku. Kau tak bisa meninggalkanku begitu saja setelah kau memberiku cintamu begitu banyak. Aku mempercayaimu dan memberikan diriku padamu. Aku sudah membohongi polisi demi dirimu.” Nilufer mencecar Metin dengan deraian air mata.
“Aku juga berkorban untukmu. Ayolah jangan membesar-besarkan hal ini.” Metin membela diri.
“Jadi, kau akan meninggalkanku? Kau memperalatku. Permainanmu telah selesai, pekerjaanmu telah tuntas, dan sekarang kau meninggalkanku, benar begitu? Apa kau pikir aku akan bisa melupakan?” Nilufer tak terima.
“Tatap aku! Aku bukan seorang manajer bank. Saat ini aku seorang pria yang mengelola perusahaan ayahnya. Aku tak memberitahumu semuanya tentang seperti apa aku ini, atau siapa pria yang merebut tanpa ayahmu. Aku bukan pria yang baik, tidakkah kau lihat? Tanganku berlumuran darah. Apapun yang kusentuh menjadi kutukan. Mengertilah kenapa aku menjauhimu karena aku mencintaimu. Kau harus meninggalkanku dan selamatkan hidupmu dariku. Apa kau mengerti?” Jelas Metin.
Nilufer mendekati Metin dan menciumnya.
“Aku tak bisa meninggalkanmu. Sudah terlambat. Jangan tinggalkan aku! Sudah cukup bagiku setelah tahu bahwa kau mencintaku,  sekalipun aku tidak pernah melihatmu. Apa kau mengerti? Aku butuh cintamu. Jika aku pergi, aku akan kembali hampa.”
Mereka pun kembali berciuman. 
 Zerin pulang ke rumah, dan disambut Huliya. 
“Selamat datang Nyonya. Bagaimana keadaan Nyonya Asli?” Tanya Huliya.
“Dia baik.  Pergi kemasi baju ke dalam tas kecil. Letakkan juga barang-barangnya Asli yang nyaman!” Suruh Zerin.
Huliya pun bergegas naik ke tangga. Di saat yang sama, Elif turun dan menghampiri ibunya.

“Bu, apa yang terjadi? Bagaimana Asli?” Tanya Elif. “Kenapa kau tak mengabariku, Bu? Aku meneleponmu semalam tapi tak kau jawab!”
“Tak ada yang harus dibesar-besarkan, Elif.” Kilah Zerin.
“Apa maksud Ibu? Kau membawa sebuah tas. Jelas sekali dia tidak akan menginap di sana semalam saja. Kau pun tak memberitahuku kau pergi ke rumah sakit mana.”
“Karena kakakmu tidak ingin seorangpun tahu keadaannya. Dia akan merasa malu. Tunjukkanlah sedikit pengertianmu.”
“Aku ini adiknya, Bu. Aku ingin berada di sampingnya. Aku akan ikut juga.”
“Aku dan Asli berjuang melawan krisis ini sendirian sebelumnya, Elif. Kau tak disini sebelumnya. Dan sekarang, izinkan dan putrinya akan melakukannya lagi bersama-bersama, bergandengan tangan, melewati semua ini....Huliya dimana kau?”
“Saya datang Nyonya Zerrin!” Jawab Hulita.
Setelah itu Zerin mengajak Huliya pergi. “Bye!”
Elif memberitahu ibunya, “Kabari aku jika kau butuh sesuatu!”
Elif lalu menarik Huliya dan menanyainya sebentar, “Huliya, apa Nilufer sudah bangun?”
“Dia bangun pagi-pagi dan bilang menemui temannya, lalu pergi. Jangan takut. Dia pergi bersama pengawalnya.”
Huliya lalu pergi bersama Zerin ke rumah sakit.
“Oke.” Ujar Elif di pintu.

Seorang pria mendatangi rumah Nyonya Fatma. Pria suruhan Metin. Dia mengantarkan pasport untuk Hatice (adik Sibel). Hatice tampak takut dan ragu saat melihat pasportnya.

Pria suruhan Metin itu lalu menelepon Metin, “Kak, aku telah memberikan paspornya ke adiknya Sibel. Kau bilang untuk mengabarimu.”
“Oke. Tunggu perintah lagi dariku.”


Di apartemen Metin, Nilufer menemukan keping CD yang diberi nama “Nilufer” dalam laci mejanya Metin. Diam-diam Nilufer menyembunyikannya ke dalam tas tanpa sepengetahuan Metin. Ia lalu menghampiri Metin dan mengecupnya.
“Kau bicara dengan siapa? Apa ada masalah?” Tanya Nilufer.
“Kau tak mengenal mereka. Sedikit yang kau tahu saat kau bersamaku, itu lebih bagus.” Jawab Metin sembari membelai rambut Nilufer.
Nilufer lantas duduk di depan Metin. “Kau tidak akan meninggalkanku kan?”
“Aku tak bisa menjanjikan kebahagianmu. Ini akan berakhir suatu hari nanti.”
“Biarkan hubungan ini terus berlanjunt seberapapun lamanya. Aku menerima. Kau tetap bersamaku saja itu sudah cukup.”
“Kau lebih gila daripada aku sendiri. Ayolah, aku harus bekerja, biar kuantar kau pulang!” Ajak Metin.
“Aku datang bersama pengawal. Kau lanjutkan saja pekerjaanmu.”
“Kau datang ke rumahku dengan membawa polisi?”
“Apa aku terlihat sebodoh itu? Pengawalku menunggu di ujung jalan. Aku berputar dari seberang jalan lalu masuk kesini.”
Metin tersenyum, “Kau memang gadis tercantik dan paling berani yang aku kenal....”
“Kutinggalkan hatiku bersamamu. Jangan lupakan itu. Oke?” Ucap Nilufer sebelum pergi.


Bahar menjemput Elif di rumahnya untuk rapat.
“Selamat pagi. Ayo pergi kalau kau sudah siap. Tuan Levent menelepon dan bilang pada teknisi kita sudah tiba. Ayolah jangan membuatnya menunggu!” Ucap Bahar.
“Oke.... ayo pergi!”
Bahar melihat ekspresi Elif yang berbeda pagi itu. “Ah ah. Ada sesuatu. Apa itu?”
Elif lalu mengajak Bahar ke teras rumahnya.
“Ada apa?” Bahar penasaran.
“Aku tahu kalau akan membuatmu marah setelah ini,” Bisik Elif.
“Ya Tuhan, jangan bilang tentang Omer. Kumohon!” Bahar sewot. “Kau meninggalkan kantor kemarin. Kemana kau pergi?”
“Ayo, duduklah!” Suruh Elif. 
 Setelah mereka duduk, Elif melanjutkan ceritanya, “Kemarin kami pergi bersama.”
Ekspresi Bahar tampak dongkol. “Oh oh. Aku penasaran sekarang. Apa yang kau lakukan bersamanya seharian?”
“Aku tahu kau khawatir dia akan membuatku sedih, tapi jangan takut. Aku bukan anak kecil lagi. Hmmm... selain itu, sikapnya lebih normal seiring berjalannya waktu. Sesuatu telah terjadi di antara kami.”
“Apa maksudnya? Lalu, apa hasilnya? Apakah dia berkata bahwa dia mencintaimu? Apakah dia menciummu saat kalian berpisah?” Bahar semakin penasaran.
“Namun ada sura dari dalam diriku yang mengatakan agar tidak menyerah, Bahar!”
“Ah, Elif. Kadang suara hati kita hanyalah harapan kita sendiri. Tidak selalu berkata jujur, bisa saja salah.”
“Aku benar-benar telah menghabiskan hari yang sangat indah bersamanya. Biarkan aku menikmati hal itu.”
“Oke, aku hanya ingin kau selalu bahagia. Okay, apa yang kau lakukan, kemana kau pergi?”
“Kami pergi ke Polonezky. Melewatkan semuanya di klub.”
“Super. Waktu selalu hadir dengan cara yang sangat indah. Dia pria yang beruntung. Akankah dia bisa masuk ke klub itu jika kau tak disana bersamanya? Mungkin hanya bisa kalau di klub itu terjadi kelecakaan atau kasus pembunuhan,” Olok Bahar yang meremehkan Omer (kalau Omer hanyalah orang miskin yang tak mungkin bisa masuk ke klub mewah di Polonezky).
Elif tampak kesal dengan ucapan Bahar. “Apakah itu salah? Aku membawanya kesana untuk membuat perasaannya lebih baik. Apa kau pikir dia berniat buruk?”
“Ya Allah, Elif sayang, polisi itu (Omer) adalah pria yang baik. Maksudku, dia mungkin berpikir bahwa apa yang kau lakukan itu terlalu berlebihan baginya....” Bahar berpura-pura baik.
“Aku tak perah memikirkan hal semacam itu, Bahar. Apa kau bikir dia beranggapan buruk tentangku?”
“Biar dia sendiri menunjukkan aslinya, Elif. Kenapa kau melukai perasaanmu sendiri? Baiklah, jangan biarkan mereka (direksi perusahaan yang akan rapat) menunggu kita. Ayo bangkit dan fokus pada pekerjaan kita!
“Bahar, sepertinya aku tak bisa datang rapat.”
“Apa maksudmu kau tidak bisa datang? Tuan Levent akan marah.”
“Kau bisa mengambil alih. Turuti saja apapun yang mereka inginkan. Aku ingin gambaran detailnya. Aku akan melihatnya nanti saja....” Elif bangun dari duduknya. “Aku harus pergi menemui Omer, atau perasaanku tak akan bisa nyaman....”
Bahar tampak kesal meski ditahan. Ia pun mencoba mengangguk dan tersenyum palsu. Elif lalu mengecup pipi Bahar dan berucap, “Terima kasih sahabatku. Kau memang hebat.”
 Setelah itu dia masuk ke dalam rumah. Sedangkan wajah Bahar dipenuhi ketidak-sukaan karena ambisinya untuk mencomblangi Elif dengan Levent gagal total.


Di kantor polisi, Arda memberi Omer segelas teh. Mereka lalu berbincang.
“Bagaimana kabarmu, Bro? Maafkan aku. Pelin tak memberitahuku. Aku harap bisa ada di sampingmu saat itu (Saat Omer tahu rahasia Sibel). Aku benar-benar marah pada Pelin.” Ucap Arda.
“Jangan marah dengannya. Dia tak tahu harus berbuat apa.”
“Tentu saja aku marah. Kewajibanku untuk mendukung sahabatku.”
“Jika kau ingin membantuku, ayo kita pecahkan kasus bisnis pencucian uang ini. Kita harus terus fokus. Metin adalah sentralnya. Sibel juga mengenal Metin. Pelin pasti sudah memberitahumu.”
“Kita akan menemukannya. Jangan takut. Tak ada yang bisa lepas dari tangan kita. Eh, apa yang terjadi kemarin? Kau meninggalkan pekerjaanmu dan pergi bersama Elif?” Tanya Arda.
Omer tersipu malu. 
Arda lalu meledeknya. “Lihatlah wajahmu bersemu merah. Cepat! Ceritakan apa yang terjadi!”
Di saat yang sama, Elif datang ke kantor polisi untuk menemui Omer. Di lobi utama, Elif bertemu Pelin. Pelin memberitahu Elif bahwa Omer ada di ruang kerjanya dan Elif disuruh langsung masuk saja. Sementara Pelin harus mengerjakan sesuatu di ruangan lain.

Namun saat mendengar Omer sedang berbicara dengan Arda tentang dirinya, Elif pun urung masuk menemui Omer. Dia menguping pembicaraan mereka di pintu.
“Kemarin benar-benar hari yang sangat indah, Sobat! Kami berkeliling, berjalan-jalan, dan makan-makan. Polonezkoy sungguh tempat yang cantik. Kami berdua bermain backgamon dan dia mengalahkanku empat kali. Dia sungguh berbakat, permainannya tidak buruk,” Omer memulai ceritanya.
 “Apa lagi?” Tanya Arda penasaran.
“Apa lagi di sana? Kemarin sungguh hari yang menyenangkan. Itu saja.”
“Bro, jangan marah, tapi aku yakin, saat kau pergi bersamanya ke bar, kau merasakan ada sesuatu pada gadis itu.”
“Apa yang kau katakan? Adakah hal lain yang bisa kupikirkan selain memikirkan perbuatan Sibel hari itu? Sebenarnya aku menganggap Elif sebagai teman.”
“Apa artinya kau menganggap Elif berbeda sekarang? Apa yang berubah? Apakah kau jatuh cinta padanya?” Tanya Arda.
 Elif tampak tegang di dekat pintu. Ia pun penasaran menunggu jawaban Omer.
“Aku tak tahu. Aku selalu merasa bahagia setiap kali melihatnya. Saat dia tak ada di depanku, dia hadir dalam pikiranku selalu. Ini benar-benar aneh. Namanya selalu ada dalam pikiranku. Aku selalu merasa bertanya-tanya apa yang dilakukannya di luar sana. Ketika dia tersenyum, rasanya ada sesuatu yang menghangatkanku di dalam sini. Dan saat dia bersedih, hatiku rasanya hancur.....” Omer menjelaskan perasaannya.

 Elif senyum-senyum sendiri di luar sana. Omer lalu menoleh ke arah Arda. “Apa menurutmu ini cinta?”
Arda menjawab, “Bukan lagi, Bro. Perasaanmu ini cinta yang sangat mendalam pada orang lain (Elif). Ini bukan aku yang ngomong, tapi Erich Fromm. Aku membaca bukunya. Aku belajar bagaimana bicara pada gadis saat aku remaja dulu. Kau benar-benar begitu mencintai gadis itu, Bro! Kau sungguh sedang jatuh cinta. Oke, aku tahu kau tak ingin mengkhianati kenangan Sibel. Tapi ada sesuatu yang terjadi antara kau dan Elif sejak hari itu. Sebut saja itu jodoh atau takdir. Sebut apalah yang kau inginkan. Mungkin semua ini terjadi agar kalian bisa bertemu.”
“Mungkin.....” Ucap Omer.
Elif tampak bahagia mendengarnya. Perasaannya tak karuan. Ia lalu pergi diam-diam, tanpa sepengetahuan Omer. Saat Pelin menyapanya, Elif menyuruh Pelin, “Jangan bilang aku datang kemari. Kumohon jangan bilang Omer kalau kau melihatku!”
Elif lalu mengecup pipi Pelin karena saking senangnya. “Okay, terimakasih!”
Pelin tersenyum keheranan dan kembali ke ruang kerjanya.





DAFTAR SINOPSIS TERKAIT

Sinopsis Lengkap Cinta Elif episode 19 Senin 26 Oktober 2015  Sinopsis Lengkap Cinta Elif episode 19 Senin 26 Oktober 2015 Reviewed by Riris Tania on 07.51 Rating: 5
Diberdayakan oleh Blogger.