Huseyin lalu menoleh ke arah keranjang bayi di atas lemari (tempatnya
menyembunyikan berlian). Setelah ia ambil keranjang itu dan dirogoh dalamnya,
ternyata berlian-berliannya sudah raib. Huseyin tampak murka.
Di ruang keluarga, Elif
menunjukkan video rekaman CCTV Asli yang mendorong ibunya hingga tewas pada
Omer.
“Dimana mereka merekam ini? Tuan
Tayyar bilang bahwa mereka sudah mematikan kamera CCTV nya.” Tanya Omer.
“Paman Tayyar bilang padaku
kalau seseorang telah mencuri rekamannya.” Jawab Elif. “Pria itu... Metin...
tak ada halangan baginya melakukan sesuatu. Omer, jika Asli melihat ini, itu
akan mengakhiri hidupnya. Meski itu kecelakaan, tapi dia akan menyalahkan
dirinya atas kematian ibuku.”
“Tenang Elif!”
“Bagaimana bisa aku tenang?
Bagaimana bisa kami tenang setelah semua yang telah kami lalui ini? Dan
bagaimana ini? Bagaimana Asli akan memikul beban ini? Asli sudah pernah mencoba
bunuh diri sekali. Dia bisa melakukannya lagi...”
“Hentikan! Wita butuh berpikir
utuh. Kita akan menghentikan Metin dei Asli. Kita akan melindungi kakakmu.
Metin tak akan bisa mengancam kakakmu.”
“Lalu Nilufer?”
“Bukankah kau bilang dia sekarang
berada di tangan yang aman? Metin tak akan bisa menculiknya.”
“Dimanapun aku menyembunyikan
Nilufer, dia tidak akan pernah bisa aman.”
“Aku tak mengerti...”
“Nilufer jatuh cinta pada
Metin.”
“Bagaimana bisa? Pria yang
menculik kalian....”
“Karena adikku sangat bodoh.
Saking bodohnya dia, dia tak tahu dengan jelas masalah yang dibuatnya. Aku dan
adikku.... kami seperti permainan yang dimainkan seorang psikopat.” Elif lalu
duduk di sofa. Ia menangis.
Omer lalu duduk di sebelahnya,
“Elif! Kau tak perlu menangis seperti ini lagi dan bereaksi seperti ini. Ambil
napas yang dalam dan tenanglah! Aku disisimu. Kita akan menyelesaikan semua
ini. Komandan Sami juga sangat mempercayaimu. Kau tidak sendirian, Elif!”
“Kau keliru. Saat ayahku
meninggal, satu sayapku patah. Saat ibuku meninggal, aku kehilangan satu
sayapku lagi. Aku tak punya sayap lagi yang tertinggal. Tapi karena ini sudah
terjadi, aku harus melewatinya dengan berbagai cara. Aku akan berdiri di atas
kedua kakiku sendiri seperti yang kulakukan sebelumnya. Aku akan menyelesaikan
semua ini dan menghadirkan rumah yang penuh kedamaian untuk saudari-saudariku
lagi.”
“Aku tahu betapa kuatnya
dirimu.”
“Kau bilang bahwa kau ada di
sisiku, jadi tangkaplah penjahat-penjahat kotor bertangan merah dan hilangkan
mereka dari hidupku! Setelah itu, aku akan melanjutkan hidupku dari tempat
dimana aku meninggalkannya.”
“Sevim!” Huseyin menghampiri
istri simpanannya yang sedang menyiapkan makan malam. Huseyin membawa keranjang
bayi yang kosong.
“Ya...” Sahut Sevim yang meletakkan
makanan di atas meja.
“Aku meletakkan sesuatu di sini.
Dimana itu sekarang?” tanya Huseyin.
“Apa yang kau taruh disana?”
“Tak penting apa itu, dimana kau
menyembunyikannya?’
“Aku tak pernah menyentuhnya.”
“Sevim!” Huseyin murka dan
membuang keranjang bayi itu ke lantai. Ia lalu mencengkram kuat Sevim. “Lihat
aku! Mungkin kau menemukannya saat itu dibersihkan. Dimana kau menyimpannya?”
“Aku tak mengambilnya.”
“SEVIM!” Sentak Huseyin. “Dimana
kau mengambilnya?”
“Apa yang terjadi. Huseyi? Aku
tak mengerti.” Sevim tampak mengetahui apa-apa. Huseyin pun melepasnya.
“Apa kau keluar hari ini?” tanya
Huseyin.
“Kami pergi ke taman pagi tadi,
lalu menemui temannya Burhan.”
“Kapan kalian kembali?”
“Bagaimana kutahu? Sekitar jam
5, setengah enam, atau 6 sore. Huseyin apa yang terjadi? Apa yang ada di dalam
keranjang itu?”
“Masa depan kita!”
Tayyar membawa pulang Pinar.
Pinar disuruh berbaring di tempat tidurnya.
“Ayo, berbaringlah!
Berbaringlah!”
“Tayyar, apa yang akan kau
lakukan padaku?”
“Aku akan menolongmu agar kau
bisa lebih baik.”
“Tayyar, aku jujur saat
memberitahumu antara aku dan Taner...”
“Sssst.... aku tahu... aku
tahu... tapi kita punya masalah lain. Bayi. Kau tidak tahu? Ada bayi dalam
kandunganmu Pinar. Parahnya, ayahnya tak kuketahui. Entah itu anakku, ataukah
anak si bedebah Taner!”
Tayyar lalu mencekik Pinar,
“Anak siapa itu, Pinar? Siapa ayahnya? Siapa? Cepat katakan! Siapa?”
Tayyar melepas cekikannya. Ia lalu membuat kesepatakan dengan Pinar.
“Kau akan mengandungnya selama sembilan bulan, lalu kau akan melahirkannya. Kau
akan menyusuinya, dan kau akan sangat menyayanginya. Setelah itu, kita akan
menguji DNA nya. Jika itu anakku, tak akan ada masalah. Kita akan melanjutkan
hidup kita. Tapi jika anaknya Taner, semuanya akan berubah. Aku akan membuat
kau membunuh anamu dengan tanganmu sendiri. Aku akan membuat hidupmu menderita
selama mungkin. Apa kau setuju dengan kesepakatan ini?......”
Tayyar lalu menyuruh Pinar
bersitirahat dan menjaga bayinya.
“Ngomong-omong, kau belum
mendengar berita ini karena saat itu kau sedang berada di kapal. Aku turut
berduka. Kita kehilangan Taner. Dia tak bisa menanggung dosa karena membunuh
ayah mertuanya. Rasa bersalahnya telah merenggut hidupnya. Pria malang itu
gantung diri. Semoga Allah mengampuni dosa-dosanya.”
Pinar hanya bisa menangis di
atas tempat tidurnya. Tayyar pun meninggalkannya sendirian.
Di ruang keluarga, Omer masih
bersama Elif.
“Aku sangat lelah.” Ucap Elif.
“Ini malam yang panjang....”
sahut Omer.
“Kau juga terlambat pulang
gara-gara aku. Keluargamu pasti sedang mencemaskanmu.” Elif merasa tak enak
hati.
“Mereka sudah terbiasa. Tak
masalah.”
“Terima kasih.”
“Tak masalah.”
“Biar aku mengantarkanmu ke
pintu!” Elif bangun dari duduknya.
Omer memanggilnya, “Elif, biar
aku menginap di sini malam ini. Jika tidak, aku tak akan tenang.”
“Jangan! Tak perlu. Maksudku,
aku akan baik-baik saja. Kukunci semua pintu. Aku akan memasang alarm. Tak ada
yang perlu ditakutkan.”
Omer lalu terus mendesak dan
meyakinkan Elif bahwa dia ingin menjaganya malam itu. Setelah berdebat cukup
singkat, Elif pun menerima.
Di tempat lain, Huseyin masuk ke
dalam mobilnya, dan menelepon seseorang. Dia ingin menemui orang itu malam itu
juga.
Elif berganti baju tidur.
Setelah itu ia mengambil foto keluarganya.
Elif bersedih lalu menangis. Omer
yang sedang berjaga di luar kamar, mendengar tangisannya.
Omer menjadi tak
tega, dan berniat mengetuk pintu kamarnya, namun urung. Omer hanya bisa
menangisi kesedihan Elif dalam diam, sembari duduk melamun di lantai (dekat
tangga).
Dalam perjalanan, di dalam
mobilnya yang melaju kencang, Huseyin mengingat apa yang dilakukannya pada
malam pembunuhan Ahmed Denizer dan Sibel.
FLASHBACK. Huseyin baru saja
membunuh Ahmed dan Sibel. Dia kabur dengan mobilnya, dan menelepon seseorang.
“Halo? Aku sudah mengerjakan
pekerjaanku seperti yang kita sepakati. APA YANG KUTEMUKAN? APA YANG GADIS ITU
(Sibel) LAKUKAN DISANA? Tunangan adikku. Sibel! Sungguh? Aku sudah
menghabisinya. Bagiku itu melebihi batas. Aku berdosa. Aku telah membunuh gadis
itu. TAK ADA BERLIANNYA. Berlian-berlian itu tak kutemukan disana. Aku sudah
mencarinya di mobil. Tak ada. Segalanya kacau. Baiklah! Kita akan ketemu pagi
nanti.”
Setelah itu Huseyin melepas
eraphone-nya dan menutup ponselnya. Ia menjerit sembari menghentikan laju
mobilnya. Lalu ia memukuli setir sambil berteriak dan menangis, “Ya Tuhan....”
Huseyin lalu mengeluarkan
sesuatu dari saku mantelnya. Berlian-berlin pink yang terbungkus sapu tangan
hitam. Dia telah berbohong pada seseorang yang diteleponnya tadi.
FLASHBACK BERAKHIR.
Huseyin kembali menyetir. Ia
lalu mendatangi bangunan tua.
Tiba-tiba bayangan kejadian di malam pembunuhan
terlihat lagi
FLASHBACK kembali. Malam
pembunuhan.
Setelah membunuh Ahmed dan
Sibel, dan setelah menelepon seseorang, Huseyin menemui orang itu di bangunan
tua. Namun sembari menunggu, Huseyin mendapat telepon dari Arda (yang saat itu
mengabarinya soal ditemukannya Ahmed dan Sibel).
“Ada apa Arda? Tak bisa! Aku
sibuk sekarang dan tak bisa datang. Aku tahu. Baiklah. Dengarkan aku! Lakukan
apapun tapi jangan biarkan Omer lari dari sana . Oke? Aku akan menyelesaikan
pekerjaan dulu lalu datang ke sana....”
Setelah itu Huseyin menutup
ponselnya. Terdengar suara tapak kaki orang. Rupanya orang yang ditunggu
Huseyin malam itu (di malam pembunuhan) adalah TAYYAR DUNDAR.
“Apa yang terjadi Huseyin? Apa
ada sesuatu yang kita rencanakan?” Tanya Tayyar.
“Apa yang dilakukan Sibel
disana?”
“Sebut saja itu takdir!”
“Kau mengutusku untuk membunuh
tunangan adikku.” Sentak Huseyin.
“Berhenti! Kumpulkan dirimu.
Tenang!” tayyar menahan Huseyin yang hendak memukulnya. “Bagaimana kutahu bahwa
Sibel itu calon istrinya adikmu?”
“Jadi kau tak tahu apa yang
sebenarnya terjadi?”
“Semuanya akan mengira Ahmed
ditemukan tewas dengan kekasih gelapnya di mobil. Barang buktinya telah
dihancurkan.”
“Apa yang akan terjadi pada
adikku? Omer ada di sini. Dia anggota tim yang pergi menyidik kasus itu.”
“Jadi?”
“Apa kau pikir adikku akan tidur
sampai dia menemukan pembunuh tunangannya? Apa kau pikir dia akan menyerah. Kau
belum bertemu Omer. Omer ialah salah satu polisi terbaik negeri ini. Dia tak
akan meninggalkan kasus ini sampai dia memecahkannya. Habislah kita!”
“Makanya, gunakanlah
pengalamanmu, Huseyin. Kau bisa memecahkan kasus ini. Bukan sesuatu yang belum
pernah kau tuntaskan sebelumya. Kau akan bisa menyelesaikannya. Kau adalah pria
yang telah menyembunyikan seorang pembunuh sekaligus selingkuhanmu selama 6
tahun lebih. Kau bisa mengatasi hal itu. Tak seorang pun yang tahu bahwa nyonya
Svetiana (istri simpanan Huseyin) adalah seorang pembunuh, maka tak akan ada
yang tahu bahwa kau juga seorang pembunuh mulai dari sekarang. Kasusnya sudah
ditutup. Lakukanlah untuk dirimu seperti apa yang kau lakukan untuk
selingkuhanmu itu. Kadang kita butuh untuk memikirkan diri kita sendiri,
Huseyin.”
“Tak semudah itu, Tayyar! Tak
semudah itu.”
“Itu mudah. Dia (Omer) mungkin
tidak lebih baik daripada dirimu. Dia baru anak kemarin. Aku yakin kau akan
akan bisa mengatasinya. Kau akan selesaikan kekisruhan ini, dan tak akan ada
yang tahu bahwa kau seorang pembunuh. Kau juga pria yang cerdas Huseyin!
Tempatkan dirimu seperti itu!”
Setelah itu Tayyar pergi.
FLASHBACK BERAKHIR. Kembali ke
bangunan tua yang sama, saat ini.
Tayyar muncul di belakang
Huseyin.
“Lihat, tidak mudah untuk
menjadi bos. Kau harus mengurusi setiap masalah pegawainya dan mengantar mereka
dari kegelapan ke tempat yang terang. Kau Cuma punya waktu 5 menit. Katakan
padaku dengan singkat. Aku harus bekerja!” Ucap tayyar.
“Jangan khawatir. Aku tak akan
bertele-tele. Dimana berlian-berlianku?” tanya Huseyin.
“Sepertinya ada kesalahpahaman
disini, Huseyin. Semua berlian itu milikku.”
Di rumah Elif. Elif mengigau dan
bermimpi buruk. Omer terkejut, lalu berlari ke dalam kamar Elif. Elif terus
saja memanggil ibunya. Tiba-tiba Elif mengigau, “Jangan pergi Omer!”
Setelah itu Elif terbangun. Omer
duduk di sampingnya.
“Tenang. Itu Cuma mimpi buruk!”
“Kapan ini akan berakhir.”
“Semuanya aka berlalu.
Tidurlah!”
Elif kembali berbaring dan
menangis. Omer setia membelainya di sebelah.
Setelah itu Omer keluar, dan
memandangi penjepit rambut yang ia temukan di tempat tidurnya Elif.
Huseyin dan Tayyar berdebat soal
berlian di bangunan tua.
“Ini tak seperti itu, Huseyin. Menjadi
bos itu pekerjaan yang tak mudah. Kau harus mengawasi setiap gerakan
orang-orang di sekitarmu. Kau harus satu langkah di depan mereka sepanjang
waktu, agar kau tak dicurangi. Orang-orang terdekatmu, akan mengkhianatimu
hanya dalam sekedipan mata. Kau hanya akan memiliki kekuatan jika kau menang. Sekarang,
mengingat kau tahu siapa bosnya, aku tebak kau sudah siap untuk membayar harga
berlian-berlian itu.” Tayyar menyindir Huseyin yang ternyata mengkhianatinya
(menyimpan sendiri berliannya dan lapor ke Tayyar kalau Huseyin tak menemukan
berlian itu saat membunuh Ahmed Denizer).
Huseyin mendekati Tayyar, “Aku
telah membersihkan semua kejahatanmu selama 6 tahun lebih. Enam tahun, Tuan
Tayyar! Jika itu belum cukup, aku juga telah membunuh Sibel dan membakar jiwa
adikku sendiri. Aku sudah membayar harganya (sebagai ganti berlian yang
dicurinya) sejak lama. Aku pantas memiliki berlian-berlian itu. Jadi berikan!
Semuanya milikku. Pikirkan itu sebagai ganti setiap perbuatanku yang kulakukan
untukmu hingga sekarang. Berikan padaku berlian-berlian itu sekarang! Dan semua
hutang-hutangmu (balas budimu) akan kuhapus.”
“Apa semuanya tentang uang yang
sudah keberikan selama bertahun-tahun, Huseyin?”
“Apakah kau pikir kau sedang
membodohi anak kecil dengan jumlah yang sedikit? Kau punya banyak uang. Aku
telah membahayakan profesiku, pengabdianku, dan tanggung-jawabku sendiri hanya
demi dirimu. Yang paling parah, aku telah melukai adikku sendiri. Semua berlian
yang kau punya tidak cukup untuk membayar semua hutang-hutangmu (balas budimu)
padaku.”
“Jangan khawatir, Huseyin.
Jangan khawatir. Aku telah menyelidiki dan menemukan bahwa hak tinggal Nyonya
Svetiana (istri Huseyin yang dari Rusia) telah kadaluwarsa. Itu juga kasus yang
menarik. Seorang penyidik sukses, menyembunyikan seorang pembunuh wanita dari
Rusia. Kau akan membuat berita utama di dalam penjara tentunya!” Ancam Tayyar.
“Baiklah, tapi aku akan
membawamu ke dalam penjara bersamaku!” Tantang balik Huseyin. “Apa yang bisa
kulakukan tanpa sahabatku? Aku bisa merindukanmu. Kau pikir kenapa selama ini
aku Cuma diam, Tayyar? Eh? Aku telah menjamin masa depanku juga. Aku punya
bukti yang cukup untuk menjebloskanmu dalam penjara, Cuma dalam satu jam. Satu
jam. Perintahmu terakhir, apa kau masih ingat saat kau menyuruhku untuk
menghilangkan dokumen-dokumenmu? Aku melakukannya. Tapi kusimpan di tempat yang
aman. Orang-orang malang yang organnya kau ambil, aku punya video rekaman semua
itu di tanganku. Juga rekaman pertemuan dan kesepakatan2mu dengan mafia penjual
organ. Sistem kemanan di rumah sakitnya benar-benar payah, Tayyar. Kau harus
memeriksanya lagi. Ah, ada juga badan amalmu. Penggalangan dana, yang mana kau
menjebak gadis-gadis miskin dengan menjanjikan kau akan membayarkan biaya
pendidikan mereka, tapi kemudian kau paksa mereka menjadi kurir pencucian
uangmu. Seperti SIBEL. Ada banyak hal kecil, Tayyar. Semuanya akan menjadi
besar. Lebih besar lagi. Semua itu akan membuatmu sakit kepala. Jika sesuatu
terjadi padaku, mereka (anak buah Huseyin) akan mengirim semua bukti itu ke
polisi dalam semenit. Eh? Apa kau suka itu? Itu saja.... Tayyar Dundar!”
Wajah Tayyar sangat pucat.
Huseyin kembali mengolok Tayyar,
“Kau mungkin berpikir bahwa dirimu adalah Bos, tapi kau tak bisa menjadi bos
selamanya. Sekarang, kau akan memberitahuku dimana berlian-berlianku? Setiap
orang akan mendapat apa yang pantas mereka dapatkan. Jadi berikanlah!”
Tayyar akhirnya buka suara, “Huseyin?
Kau tahu itu? Aku sudah tahu berlian-berlian itu ada bersamamu sejak malam itu
(malam pembunuan). Dan aku tahu berapa kali kau memindah tempat
persembunyiannya. Berapa kali kau terbangun di depannya hingga pagi, dan berapa
kali kau memeriksanya. Aku bisa saja mengambil berlian-berlianku jika aku mau. Apa
kau tahu alasan kenapa aku tak mengambilnya? Karena berlian-berlian itu aman
bersamamu. Aku sudah tahu kau sangat menjaga mereka dengan sangat baik.”
“Dimana berlian-berlian itu,
Tayyar?” tanya Huseyin.
“Di tempat di mana kau
menyembunyikannya pertama kali.” Jawab Tayyar.
DAFTAR SINOPSIS TERKAIT
Sinopsis Cinta Elif Lengkap Episode 26 Selasa 3 November 2015
Reviewed by Riris Tania
on
13.24
Rating:
Reviewed by Riris Tania
on
13.24
Rating:




































