Sinopsis Cinta Elif Lengkap Episode 26 Selasa 3 November 2015








Huseyin lalu menoleh ke arah keranjang bayi di atas lemari (tempatnya menyembunyikan berlian). Setelah ia ambil keranjang itu dan dirogoh dalamnya, ternyata berlian-berliannya sudah raib. Huseyin tampak murka.






Di ruang keluarga, Elif menunjukkan video rekaman CCTV Asli yang mendorong ibunya hingga tewas pada Omer.
 
 “Dimana mereka merekam ini? Tuan Tayyar bilang bahwa mereka sudah mematikan kamera CCTV nya.” Tanya Omer.
“Paman Tayyar bilang padaku kalau seseorang telah mencuri rekamannya.” Jawab Elif. “Pria itu... Metin... tak ada halangan baginya melakukan sesuatu. Omer, jika Asli melihat ini, itu akan mengakhiri hidupnya. Meski itu kecelakaan, tapi dia akan menyalahkan dirinya atas kematian ibuku.”
“Tenang Elif!”
“Bagaimana bisa aku tenang? Bagaimana bisa kami tenang setelah semua yang telah kami lalui ini? Dan bagaimana ini? Bagaimana Asli akan memikul beban ini? Asli sudah pernah mencoba bunuh diri sekali. Dia bisa melakukannya lagi...”
“Hentikan! Wita butuh berpikir utuh. Kita akan menghentikan Metin dei Asli. Kita akan melindungi kakakmu. Metin tak akan bisa mengancam kakakmu.”
“Lalu Nilufer?”
“Bukankah kau bilang dia sekarang berada di tangan yang aman? Metin tak akan bisa menculiknya.”
“Dimanapun aku menyembunyikan Nilufer, dia tidak akan pernah bisa aman.”
“Aku tak mengerti...”
“Nilufer jatuh cinta pada Metin.”
“Bagaimana bisa? Pria yang menculik kalian....”
“Karena adikku sangat bodoh. Saking bodohnya dia, dia tak tahu dengan jelas masalah yang dibuatnya. Aku dan adikku.... kami seperti permainan yang dimainkan seorang psikopat.” Elif lalu duduk di sofa. Ia menangis.
 
 Omer lalu duduk di sebelahnya, “Elif! Kau tak perlu menangis seperti ini lagi dan bereaksi seperti ini. Ambil napas yang dalam dan tenanglah! Aku disisimu. Kita akan menyelesaikan semua ini. Komandan Sami juga sangat mempercayaimu. Kau tidak sendirian, Elif!”
“Kau keliru. Saat ayahku meninggal, satu sayapku patah. Saat ibuku meninggal, aku kehilangan satu sayapku lagi. Aku tak punya sayap lagi yang tertinggal. Tapi karena ini sudah terjadi, aku harus melewatinya dengan berbagai cara. Aku akan berdiri di atas kedua kakiku sendiri seperti yang kulakukan sebelumnya. Aku akan menyelesaikan semua ini dan menghadirkan rumah yang penuh kedamaian untuk saudari-saudariku lagi.”
“Aku tahu betapa kuatnya dirimu.”
“Kau bilang bahwa kau ada di sisiku, jadi tangkaplah penjahat-penjahat kotor bertangan merah dan hilangkan mereka dari hidupku! Setelah itu, aku akan melanjutkan hidupku dari tempat dimana aku meninggalkannya.”
“Sevim!” Huseyin menghampiri istri simpanannya yang sedang menyiapkan makan malam. Huseyin membawa keranjang bayi yang kosong.
 “Ya...” Sahut Sevim yang meletakkan makanan di atas meja.
“Aku meletakkan sesuatu di sini. Dimana itu sekarang?” tanya Huseyin.
“Apa yang kau taruh disana?”
“Tak penting apa itu, dimana kau menyembunyikannya?’
“Aku tak pernah menyentuhnya.”
“Sevim!” Huseyin murka dan membuang keranjang bayi itu ke lantai. Ia lalu mencengkram kuat Sevim. “Lihat aku! Mungkin kau menemukannya saat itu dibersihkan. Dimana kau menyimpannya?”
“Aku tak mengambilnya.”
 
 “SEVIM!” Sentak Huseyin. “Dimana kau mengambilnya?”
“Apa yang terjadi. Huseyi? Aku tak mengerti.” Sevim tampak mengetahui apa-apa. Huseyin pun melepasnya.
“Apa kau keluar hari ini?” tanya Huseyin.
“Kami pergi ke taman pagi tadi, lalu menemui temannya Burhan.”
“Kapan kalian kembali?”
“Bagaimana kutahu? Sekitar jam 5, setengah enam, atau 6 sore. Huseyin apa yang terjadi? Apa yang ada di dalam keranjang itu?”
“Masa depan kita!”

Tayyar membawa pulang Pinar. Pinar disuruh berbaring di tempat tidurnya.
 “Ayo, berbaringlah! Berbaringlah!”
“Tayyar, apa yang akan kau lakukan padaku?”
“Aku akan menolongmu agar kau bisa lebih baik.”
“Tayyar, aku jujur saat memberitahumu antara aku dan Taner...”
“Sssst.... aku tahu... aku tahu... tapi kita punya masalah lain. Bayi. Kau tidak tahu? Ada bayi dalam kandunganmu Pinar. Parahnya, ayahnya tak kuketahui. Entah itu anakku, ataukah anak si bedebah Taner!”






Tayyar lalu mencekik Pinar, “Anak siapa itu, Pinar? Siapa ayahnya? Siapa? Cepat katakan! Siapa?”
Tayyar melepas cekikannya.  Ia lalu membuat kesepatakan dengan Pinar. “Kau akan mengandungnya selama sembilan bulan, lalu kau akan melahirkannya. Kau akan menyusuinya, dan kau akan sangat menyayanginya. Setelah itu, kita akan menguji DNA nya. Jika itu anakku, tak akan ada masalah. Kita akan melanjutkan hidup kita. Tapi jika anaknya Taner, semuanya akan berubah. Aku akan membuat kau membunuh anamu dengan tanganmu sendiri. Aku akan membuat hidupmu menderita selama mungkin. Apa kau setuju dengan kesepakatan ini?......”
Tayyar lalu menyuruh Pinar bersitirahat dan menjaga bayinya. 
 “Ngomong-omong, kau belum mendengar berita ini karena saat itu kau sedang berada di kapal. Aku turut berduka. Kita kehilangan Taner. Dia tak bisa menanggung dosa karena membunuh ayah mertuanya. Rasa bersalahnya telah merenggut hidupnya. Pria malang itu gantung diri. Semoga Allah mengampuni dosa-dosanya.”
 Pinar hanya bisa menangis di atas tempat tidurnya. Tayyar pun meninggalkannya sendirian.
Di ruang keluarga, Omer masih bersama Elif.
 “Aku sangat lelah.” Ucap Elif.
“Ini malam yang panjang....” sahut Omer.
“Kau juga terlambat pulang gara-gara aku. Keluargamu pasti sedang mencemaskanmu.” Elif merasa tak enak hati.
“Mereka sudah terbiasa. Tak masalah.”
“Terima kasih.”
“Tak masalah.”
“Biar aku mengantarkanmu ke pintu!” Elif bangun dari duduknya.
Omer memanggilnya, “Elif, biar aku menginap di sini malam ini. Jika tidak, aku tak akan tenang.”
“Jangan! Tak perlu. Maksudku, aku akan baik-baik saja. Kukunci semua pintu. Aku akan memasang alarm. Tak ada yang perlu ditakutkan.”
Omer lalu terus mendesak dan meyakinkan Elif bahwa dia ingin menjaganya malam itu. Setelah berdebat cukup singkat, Elif pun menerima.
Di tempat lain, Huseyin masuk ke dalam mobilnya, dan menelepon seseorang. Dia ingin menemui orang itu malam itu juga.

Elif berganti baju tidur. Setelah itu ia mengambil foto keluarganya. 
 
 

Elif bersedih lalu menangis. Omer yang sedang berjaga di luar kamar, mendengar tangisannya. 
 

Omer menjadi tak tega, dan berniat mengetuk pintu kamarnya, namun urung. Omer hanya bisa menangisi kesedihan Elif dalam diam, sembari duduk melamun di lantai (dekat tangga).
Dalam perjalanan, di dalam mobilnya yang melaju kencang, Huseyin mengingat apa yang dilakukannya pada malam pembunuhan Ahmed Denizer dan Sibel.
 FLASHBACK. Huseyin baru saja membunuh Ahmed dan Sibel. Dia kabur dengan mobilnya, dan menelepon seseorang.
 “Halo? Aku sudah mengerjakan pekerjaanku seperti yang kita sepakati. APA YANG KUTEMUKAN? APA YANG GADIS ITU (Sibel) LAKUKAN DISANA? Tunangan adikku. Sibel! Sungguh? Aku sudah menghabisinya. Bagiku itu melebihi batas. Aku berdosa. Aku telah membunuh gadis itu. TAK ADA BERLIANNYA. Berlian-berlian itu tak kutemukan disana. Aku sudah mencarinya di mobil. Tak ada. Segalanya kacau. Baiklah! Kita akan ketemu pagi nanti.”
Setelah itu Huseyin melepas eraphone-nya dan menutup ponselnya. Ia menjerit sembari menghentikan laju mobilnya. Lalu ia memukuli setir sambil berteriak dan menangis, “Ya Tuhan....”
 Huseyin lalu mengeluarkan sesuatu dari saku mantelnya. Berlian-berlin pink yang terbungkus sapu tangan hitam. Dia telah berbohong pada seseorang yang diteleponnya tadi.
 
 FLASHBACK BERAKHIR.
Huseyin kembali menyetir. Ia lalu mendatangi bangunan tua. 

Tiba-tiba bayangan kejadian di malam pembunuhan terlihat lagi
 FLASHBACK kembali. Malam pembunuhan.
 Setelah membunuh Ahmed dan Sibel, dan setelah menelepon seseorang, Huseyin menemui orang itu di bangunan tua. Namun sembari menunggu, Huseyin mendapat telepon dari Arda (yang saat itu mengabarinya soal ditemukannya Ahmed dan Sibel).
 “Ada apa Arda? Tak bisa! Aku sibuk sekarang dan tak bisa datang. Aku tahu. Baiklah. Dengarkan aku! Lakukan apapun tapi jangan biarkan Omer lari dari sana . Oke? Aku akan menyelesaikan pekerjaan dulu lalu datang ke sana....”
Setelah itu Huseyin menutup ponselnya. Terdengar suara tapak kaki orang. Rupanya orang yang ditunggu Huseyin malam itu (di malam pembunuhan) adalah TAYYAR DUNDAR.
 
 “Apa yang terjadi Huseyin? Apa ada sesuatu yang kita rencanakan?” Tanya Tayyar.
“Apa yang dilakukan Sibel disana?”
“Sebut saja itu takdir!”
“Kau mengutusku untuk membunuh tunangan adikku.” Sentak Huseyin.
“Berhenti! Kumpulkan dirimu. Tenang!” tayyar menahan Huseyin yang hendak memukulnya. “Bagaimana kutahu bahwa Sibel itu calon istrinya adikmu?”
“Jadi kau tak tahu apa yang sebenarnya terjadi?”
“Semuanya akan mengira Ahmed ditemukan tewas dengan kekasih gelapnya di mobil. Barang buktinya telah dihancurkan.”
“Apa yang akan terjadi pada adikku? Omer ada di sini. Dia anggota tim yang pergi menyidik kasus itu.”
“Jadi?”
“Apa kau pikir adikku akan tidur sampai dia menemukan pembunuh tunangannya? Apa kau pikir dia akan menyerah. Kau belum bertemu Omer. Omer ialah salah satu polisi terbaik negeri ini. Dia tak akan meninggalkan kasus ini sampai dia memecahkannya. Habislah kita!”
“Makanya, gunakanlah pengalamanmu, Huseyin. Kau bisa memecahkan kasus ini. Bukan sesuatu yang belum pernah kau tuntaskan sebelumya. Kau akan bisa menyelesaikannya. Kau adalah pria yang telah menyembunyikan seorang pembunuh sekaligus selingkuhanmu selama 6 tahun lebih. Kau bisa mengatasi hal itu. Tak seorang pun yang tahu bahwa nyonya Svetiana (istri simpanan Huseyin) adalah seorang pembunuh, maka tak akan ada yang tahu bahwa kau juga seorang pembunuh mulai dari sekarang. Kasusnya sudah ditutup. Lakukanlah untuk dirimu seperti apa yang kau lakukan untuk selingkuhanmu itu. Kadang kita butuh untuk memikirkan diri kita sendiri, Huseyin.”
“Tak semudah itu, Tayyar! Tak semudah itu.”
“Itu mudah. Dia (Omer) mungkin tidak lebih baik daripada dirimu. Dia baru anak kemarin. Aku yakin kau akan akan bisa mengatasinya. Kau akan selesaikan kekisruhan ini, dan tak akan ada yang tahu bahwa kau seorang pembunuh. Kau juga pria yang cerdas Huseyin! Tempatkan dirimu seperti itu!”
Setelah itu Tayyar pergi.
FLASHBACK BERAKHIR. Kembali ke bangunan tua yang sama, saat ini.
Tayyar muncul di belakang Huseyin. 
 
 “Lihat, tidak mudah untuk menjadi bos. Kau harus mengurusi setiap masalah pegawainya dan mengantar mereka dari kegelapan ke tempat yang terang. Kau Cuma punya waktu 5 menit. Katakan padaku dengan singkat. Aku harus bekerja!” Ucap tayyar.
“Jangan khawatir. Aku tak akan bertele-tele. Dimana berlian-berlianku?” tanya Huseyin.
“Sepertinya ada kesalahpahaman disini, Huseyin. Semua berlian itu milikku.”
Di rumah Elif. Elif mengigau dan bermimpi buruk. Omer terkejut, lalu berlari ke dalam kamar Elif. Elif terus saja memanggil ibunya. Tiba-tiba Elif mengigau, “Jangan pergi Omer!”
Setelah itu Elif terbangun. Omer duduk di sampingnya.






 “Tenang. Itu Cuma mimpi buruk!”
“Kapan ini akan berakhir.”
“Semuanya aka berlalu. Tidurlah!”
Elif kembali berbaring dan menangis. Omer setia membelainya di sebelah. 

Setelah itu Omer keluar, dan memandangi penjepit rambut yang ia temukan di tempat tidurnya Elif. 



Huseyin dan Tayyar berdebat soal berlian di bangunan tua.
 
“Ini tak seperti itu, Huseyin. Menjadi bos itu pekerjaan yang tak mudah. Kau harus mengawasi setiap gerakan orang-orang di sekitarmu. Kau harus satu langkah di depan mereka sepanjang waktu, agar kau tak dicurangi. Orang-orang terdekatmu, akan mengkhianatimu hanya dalam sekedipan mata. Kau hanya akan memiliki kekuatan jika kau menang. Sekarang, mengingat kau tahu siapa bosnya, aku tebak kau sudah siap untuk membayar harga berlian-berlian itu.” Tayyar menyindir Huseyin yang ternyata mengkhianatinya (menyimpan sendiri berliannya dan lapor ke Tayyar kalau Huseyin tak menemukan berlian itu saat membunuh Ahmed Denizer).
Huseyin mendekati Tayyar, “Aku telah membersihkan semua kejahatanmu selama 6 tahun lebih. Enam tahun, Tuan Tayyar! Jika itu belum cukup, aku juga telah membunuh Sibel dan membakar jiwa adikku sendiri. Aku sudah membayar harganya (sebagai ganti berlian yang dicurinya) sejak lama. Aku pantas memiliki berlian-berlian itu. Jadi berikan! Semuanya milikku. Pikirkan itu sebagai ganti setiap perbuatanku yang kulakukan untukmu hingga sekarang. Berikan padaku berlian-berlian itu sekarang! Dan semua hutang-hutangmu (balas budimu) akan kuhapus.”
“Apa semuanya tentang uang yang sudah keberikan selama bertahun-tahun, Huseyin?”
“Apakah kau pikir kau sedang membodohi anak kecil dengan jumlah yang sedikit? Kau punya banyak uang. Aku telah membahayakan profesiku, pengabdianku, dan tanggung-jawabku sendiri hanya demi dirimu. Yang paling parah, aku telah melukai adikku sendiri. Semua berlian yang kau punya tidak cukup untuk membayar semua hutang-hutangmu (balas budimu) padaku.”
“Jangan khawatir, Huseyin. Jangan khawatir. Aku telah menyelidiki dan menemukan bahwa hak tinggal Nyonya Svetiana (istri Huseyin yang dari Rusia) telah kadaluwarsa. Itu juga kasus yang menarik. Seorang penyidik sukses, menyembunyikan seorang pembunuh wanita dari Rusia. Kau akan membuat berita utama di dalam penjara tentunya!” Ancam Tayyar.
“Baiklah, tapi aku akan membawamu ke dalam penjara bersamaku!” Tantang balik Huseyin. “Apa yang bisa kulakukan tanpa sahabatku? Aku bisa merindukanmu. Kau pikir kenapa selama ini aku Cuma diam, Tayyar? Eh? Aku telah menjamin masa depanku juga. Aku punya bukti yang cukup untuk menjebloskanmu dalam penjara, Cuma dalam satu jam. Satu jam. Perintahmu terakhir, apa kau masih ingat saat kau menyuruhku untuk menghilangkan dokumen-dokumenmu? Aku melakukannya. Tapi kusimpan di tempat yang aman. Orang-orang malang yang organnya kau ambil, aku punya video rekaman semua itu di tanganku. Juga rekaman pertemuan dan kesepakatan2mu dengan mafia penjual organ. Sistem kemanan di rumah sakitnya benar-benar payah, Tayyar. Kau harus memeriksanya lagi. Ah, ada juga badan amalmu. Penggalangan dana, yang mana kau menjebak gadis-gadis miskin dengan menjanjikan kau akan membayarkan biaya pendidikan mereka, tapi kemudian kau paksa mereka menjadi kurir pencucian uangmu. Seperti SIBEL. Ada banyak hal kecil, Tayyar. Semuanya akan menjadi besar. Lebih besar lagi. Semua itu akan membuatmu sakit kepala. Jika sesuatu terjadi padaku, mereka (anak buah Huseyin) akan mengirim semua bukti itu ke polisi dalam semenit. Eh? Apa kau suka itu? Itu saja.... Tayyar Dundar!”
Wajah Tayyar sangat pucat.
Huseyin kembali mengolok Tayyar, “Kau mungkin berpikir bahwa dirimu adalah Bos, tapi kau tak bisa menjadi bos selamanya. Sekarang, kau akan memberitahuku dimana berlian-berlianku? Setiap orang akan mendapat apa yang pantas mereka dapatkan. Jadi berikanlah!”
Tayyar akhirnya buka suara, “Huseyin? Kau tahu itu? Aku sudah tahu berlian-berlian itu ada bersamamu sejak malam itu (malam pembunuan). Dan aku tahu berapa kali kau memindah tempat persembunyiannya. Berapa kali kau terbangun di depannya hingga pagi, dan berapa kali kau memeriksanya. Aku bisa saja mengambil berlian-berlianku jika aku mau. Apa kau tahu alasan kenapa aku tak mengambilnya? Karena berlian-berlian itu aman bersamamu. Aku sudah tahu kau sangat menjaga mereka dengan sangat baik.”
“Dimana berlian-berlian itu, Tayyar?” tanya Huseyin.
“Di tempat di mana kau menyembunyikannya pertama kali.” Jawab Tayyar.





DAFTAR SINOPSIS TERKAIT

Sinopsis Cinta Elif Lengkap Episode 26 Selasa 3 November 2015 Sinopsis Cinta Elif Lengkap Episode 26 Selasa 3 November 2015 Reviewed by Riris Tania on 13.24 Rating: 5
Diberdayakan oleh Blogger.