GAMBAR
Sinopsis #CintaElif Episode 25 Senin 02 November 2015
Masih di tepi laut, Tayyar membersihkan
telapak tangannya dari darah dan pecahan beling, setelah dia meremukkan gelas
dengan tangannya.
Setelah itu dia menelepon Metin. Metin
yang sedang mengemudikan mobilnya langsung menjawabnya menggunakan earphone.
“Halo!” Sapa Metin.
“Dimana kau?” Tanya Tayyar.
“Di mobil. Bukankah kau menyuruhku untuk
pergi mencari wanita itu (Pinar)?”
“Tinggalkan urusan itu sekarang!” Suruh
Tayyar.
Metin langsung menghentikan mobilnya.
“Apa yang coba ingin kau lakukan, Paman?
Apa kau ingin membuatku seperti Monyet?” Metin kesal.
“Diam kau! Diam! Jangan protes dan
dengarkan aku! Apa Elif sudah menonton video itu (Video rekaman CCTV Asli
mendorong Zerrin)?”
“Aku sudah bilang bahwa aku perlu
menunggu perintahmu lebih dulu. Aku belum membuat Elif menonton video itu!”
“Baiklah! Buat dia menonton video itu
hari ini. Orang-orang dari Roma sudah menelepon tadi. Kesabaran mereka semakin
menipis. Kesabaran mereka sudah memuncak. Segalanya telah disiapkan agar
uang-uang itu dikirim. Mereka sedang menunggu kabar dari kita. Kau harus ke
Roma dalam dua hari ini.”
“Baiklah....”
“Lakukan semua yang kau butuhkan. Aku
yang akan mengurus Pinar.”
Setelah itu Tayyar menutup ponselnya,
dan Metin melanjutkan perjalanannya.
Kembali ke Omer dan Elif yang berlatih
menembak di hutan.
Omer mengganti sasaran tembaknya. Bukan
lagi di pohon. Melainkan papan kayu yang tengahnya digambari lingkaran.
“Kau senang? Kau tak akan melukai
makhluk hidup sekarang!” Ledek omer.
“Ya....” Jawab Elif malas-malasan.
Omer lalu memberikan pistolnya, “Ambil
ini!”
Elif mengambil pistol itu, ‘”Ini sangat
berat dan dingin. Aku tak menyukai semua ini.” Setelah itu ia mengarahkan
pistolnya ke sasaran tembak.
Omer menoleh ke arah Elif, “Hmmm.... kau
bisa melakukan sesuatu yang tak kau sukai ketika kau mengingikannya. Arahkan
pistol ke ini ke sararan tembak seperti yang sudah kutunjukkan tadi... lalu
tarik pelatuknya. Ayo!”
“Ini kali pertamanya. Aku tak pernah
memegang pistol. Kau jelas-jelas tahu akan itu bukan?”
“Jangan takut! Bayangkan sasaran tembak
itu adalah si bedebah Metin lalu tarik pelatuknya. Ayolah!” desak Omer.
Akhirnya Elif mengarahkan pistolnya
lurus ke sasaran tembak. Meski berkali-kali ia sambil menghela napas.
Setelah pelatuknya ditarik, terdengar
nyalak tembakan, dan ada percikan api dari ujung pistolnya, Elif terkejut dan
menjerit, hingga ia menjatuhkan pistol itu.
“Sial! Aku ini desainer bukan polisi
wanita. Tak peduli betapa kerasnya kau mengajariku.. aku tak akan mampu
melakukannya dan aku tak ingin melakukannya lagi!” Elif berteriak kesal sembari
meninggalkan Omer. “Pergi dan temukan seorang pengawal untukku atau apalah yang
kau inginkan! Atau biarkan saja mereka datang dan membunuhku... aku tak peduli.
Setidaknya aku terbebas dari semua ini.”
Omer mengejarnya, “Saat kau bertemu
orang-orang mafia itu sendirian, kau tak akan sanggup memberitahu mereka bahwa
kau Cuma seorang desainer! Apa yang terjadi? Apa kau takut dengan senjata? Aku
tak membelinya, Nona Elif. Aku tak membelinya. Kau tak akan bisa
menyingkirkanku. Ayo iku denganku!”
Omer akhirnya memaksa Elif dengan
menyeret tangannya (tak kasar).
“Omer! Omer....!”
“Berdiri di sini!” Seru omer. Setelah
itu Omer mengeluarkan pistolnya, dan menunjukkannya pada Elif cara memegangnya.
“Pegang seperti yang kuajarkan. Tarik pelatuknya ketika kau sudah siap.”
Elif pun terpaksa menuruti kemauan Omer.
Dia ambil pistol itu, dan mengarahkannya lagi ke sasaran tembak.
Sorot matanya tajam. Meski dua kali ia
menghela napas. Lalu ia menarik pelatuknya. Tembakannya meleset cukup jauh dari
tengah lingkaran.
“Ini hanya akan sia-sia. Tak akan
berhasil sekeras apapun aku mencobanya. Aku tak bisa melakukannya.” Ucap Elif.
“Berhenti menggerutu dan fokuslah!”
Omer akhirnya mengangkat pistolnya lagi.
Kali ini Omer mengarahkannya. “Caramu berdiri salah! Caramu memegang juga
salah....”
Omer lalu merampas pistol itu dan menunjukkannya lagi pada elif, “Kau tak
bisa memegang pistol seperti itu. Peganglah dengan baik, lalu tekuk lututmu...
Oke?
“Dengar, kau melakukan ini
bertahun-tahun. Kau selalu bilang ‘ini benar dan itu salah’ tapi aku tetap tak
bisa memahaminya, omer.”
‘Karena kau tidak konsentrasi. Kau bisa
melakukannya jika saja kau fokus! Fokuslah! Tekuk lututmu seperti ini... lalu
ambil ancang-ancang! Lihat targetnya. Ketika kau sudah siap, tarik pelatuknya!
Itu saja...” Omer menembakkan pistolnya.
Omer lalu memberikan pistolnya lagi pada
Elif. “Ambillah!”
Elif memegangnya dan mengarahkannya ke
sasaran. Namun kali ini Omer mengajarinya langsung, dengan cara memeluknya dari
belakang, lalu kedua tangannya menggenggam tangan Elif yang sedang memegang
pistol.
Mendadak Elif merasa tak nyaman. Melirik
ke arah Omer yang menempelkan wajahnya di belakang rambutnya.
“Apa yang kau lakukan?”
“Mencoba mengajarimu jika kau
izinkan....! Ambil ancang-ancang. Fokus ke sasaran. Tekuk sedikit lututmu.
Ya.....”
Tiba-tiba saja, Elif mengingat perkataan
Omer saat bermalam di hotel (episode sebelumnya). “Itukah cinta tanpa syarat yang kau cari? Aku akan melakukan apapun
dengan sekuat tenagaku untuk memberikannya padamu....”
Itu membuat pikiran Elif kacau, hingga
mengacuhkan arahan Omer. Namun saat pelatuk ditarik, tembakannya hampir tepat
ke sasaran.
Elif terlihat sedikit senang. Omer lalu
berujar, “Kau lihat itu. Lihat itu, Signorina (Nona)!”
Elif tersenyum girang, lalu tos tangan
dengan Omer.
“Tingkat lima! Kau tahu? 10 poin,” Omer
memberi nilai.
Elif lalu mengambil pistolnya lagi.
Di kampus, Mert sedang menunggu Nilufer
di sebuah lorong fakultas Seni.
Nilufer
lalu muncul dan berjalan beriringan dengan Mert. Rupanya Nilufer baru saja
mengurus kepindahannya ke kampus itu.
“Bagaimana?” Tanya Mert.
“Aku tak tahu. Mungkin mereka sedang
memprosesnya.”
“Apa dia (dekan) menekanmu? Dia itu
teman baiknya ayahku.”
Nilufer tampak cuek, dan pamitan ke toilet,
“Aku pergi ke toilet dulu..”
“Baiklah! Aku akan menunggu disini...”
Setelah itu Nilufer masuk ke dalam
toilet.
Saat Nilufer sedang merapikan rambut di
depan cermin, lalu ia menghela napas sembari memegangi lehernya, Metin keluar
lalu menarik Nilufer masuk ke dalam bilik WC. Nilufer sempat panik karena Metin
membungkam mulutnya.
Namun setelah tahu itu Metin, Nilufer tersenyum girang dan
memeluknya.
“Cintaku... “
Kembali ke Elif dan Omer. Lagi-lagi Omer
memeluk Elif dari belakang, dan lagi-lagi Elif risih dengan hal itu. Setelah
pistol dinyalakkan, tembakkanya lagi-lagi tepat sasaran.
“Kau berbakat. Kau harus memegangnya
lagi. Meskipun akan lebih mudah lagi jika saja kau tidak keras kepala....”
Sindir Omer.
Saat Elif mengangkat pistolnya dan Omer
kembali memeluknya/mengarahkannya dari belakang, Elif memejamkan matanya, lalu
ia mengatakan sesuatu pada Omer.
“Omer, berapa lama semua ini akan
berlanjut?”
“Sampai kau bisa mempelajarinya...”
jawab Omer.
“Aku tak membicarakan soal itu... tapi
kita!” Elif melepaskan dirinya dari Omer. “Berapa lama lagi kita harus seperti
ini (hubungan yang menggantung tanpa kepastian)? Tidakkah kau merasakan sesuatu
saat kau menggenggam tanganku? Jika kau penasaran, aku akan memberitahumu...
setiap kali aku merasakan napasmu menyentuh kulitku... itu membuatku gemetar. Namun
kemudian aku ingat bahwa kau tak menginginkanku....”
Elif lalu mendekatkan wajahnya di depan
Omer. “Aku tak tahu berapa lama lagi aku bisa bertahan. Meski saat ini kau
sangat dekat dariku, tapi rasanya kau sangat jauh...”
Omer hanya menatap Elif dalam diam. Ia
lalu hampir mencium Elif, namun urung. “Fokuslah berlatih...!”
Elif lalu mengarahkan pistolnya lagi.
Saat omer hendak merangkulnya kembali (untuk mengarahkan cara menembak), kali
ini Elif menolak agar Omer tak menyentuhnya.
“Aku bisa melakukannya sendiri. Ini
tidak sulit lagi...”
Omer hanya terpegun di belakang Elif.
Elif lalu menolehnya, “Apa yang kau pikirkan? Aku butuh ruang gerak lebih
longgar sedikit...”
Omer pun pindah ke sebelah.
Setelah itu Elif menembakan pistolnya.
Kali ini tembakknya pas di tengah sasaran. Elif pun mengangkat kedua tangannya
dan berteriak girang, “Aku bisa! Aku melakukannya! Ah sialll.....Aku berhasil.
Apa kau melihatnya?”
Omer lalu merampas pistolnya karena itu
berbahaya jika spontan saja pelatuknya tertarik Elif.
“Awal keberuntungan. Tembak sekali lagi
dan kita akan lihat...” Pinta Omer.
Kembali ke Nilufer dan Metin. Nilufer
mengunci pintu toilet, setelah itu ia memberitahu Metin.
“Paman tayyar merampas ponselku. Kau tak
mengenal Elif. Dia itu tempramentalnya buruk. Sangat buruk karena dia telah
mengetahui tentang kita.”
“Dengar! Semua ini akan berlalu.” Ucap
Metin.
“Berjanjilah padaku!”
“Aku janji.”
“Tapi ada banyak pengawal di mana-mana.
Percayalah padaku, kadang dia tak meninggalkanku bahkan Cuma semenit. Bagaimana
kita akan bertemu, Fatih?”
“Aku akan muncul di depanmu dengan cara
seperti ini di lain waktu.”
“Itu tidak mungkin. Aku tak bisa hidup
tanpa bisa melihatmu dan mendengar suaramu. Aku membutuhkanmu. Kita cari cara
saja untuk bisa saling menelepon atau bertemu di suatu tempat. Mari kita
rencanakan sesuatu.”
“nilufer! Tenanglah! Percayalah
padakku... kita tak bisa bertemu dimanapun kau inginkan sekarang. Mungkin kita
akan bertemu lagi lain waktu. Bersiaplah.”
“Aku tak bisa.”
“kau harus bisa jika kau mencintaimu,
dan jika kau mempercayai cinta kita. Mungkin cinta kita sedang diuji dengan
cobaan seperti ini.”
Mereka lalu berciuman.
“Ayo pergilah! Jangan biarkan orang di
depan pintu curiga!” Suruh Metin.
Nilufer malah memeluk Metin dan
menangis. “Pintunya sudah kukunci. Tak akan ada yang bisa masuk. Kumohon, lima
menit lagi! Aku akan menantimu selamanya jika aku harus menanti.”
Mereka kembali berciuman.
Sementara itu di luar, Mert berusaha
sabar menanti Nilufer. Hingga akhirnya ia mengetuk pintu toiletnya. “Nilu.....N
I L U...”
Mert terpaksa membuka pintu itu. Metin
sudah pergi. Nilufer berpura-pura sedang bercermin.
“Mert, apa yang kau lakukan? Kau
terang-terangan masuk ke toilet wanita, apa kau tahu itu? Apa kau bodoh?”
“Kau disini sampai satu jam. Aku
khawatir. Aku memanggilmu, tapi tak kau jawab. Apa yang harus kulakukan?”
“Aku tidak mendengarmu...” Sentak
Nilufer yang lalu keluar dari toilet.
“Oke! Jangan marah...” Ucap Mert.
“Jangan membuatku marah lagi!”
Di sisi lain, Metin mengintip dari pintu
WC. Setelah Mert pergi mengejar Nilufer, barulah Metin keluar dari
persembunyiannya.
MALAM.
Omer mengantar Elif dengan
mobilnya. Elif diam melamun sepanjang perjalanan. Omer pun memulai
pembicaraannya.
“Latihan menembak membuatmu sedikit
kesal....” Ucap Omer.
“Itulah yang terjadi...” Sahut Elif.
“Haruskah aku berbohong? Kau telah
mengejutkanku. Aku tak menyangka kau bisa seperti tadi. Tentu saja, kau tak
boleh lupa mengakui usaha gurumu (Omer sendiri), benar kan?” Ledek Omer.
“Kau tahu betapa sombongnya dirimu
sekarang?” Elif makin kesal.
“Sombong? Kesombongan apa yang sudah
kulakukan?” Omer bingung. “Aku mengatakan apa adanya.”
Omer lalu menepikan mobilnya di depan
sebuah restoran. “Ah, ayo kita makan kazandibi disini...! Kau mau berhenti
disini?”
“Tidak,” Elif menolak.
“Kenapa? Kau tak biasanya menolak
cemilan saat kau sedang stress. Ini akan menenangkanmu...” Omer bersikeras
mengajak Elif makan di tempat itu. Ia pun memundurkan sedikit mobilnya.
“Aku sedang mencoba menghilangkan
kebiasaan buruk itu!”
“Aku yang sedang membutuhkannya sekarang
(stress dan butuh cemilan)!” Ujar Omer.
Omer dan Elif akhirnya duduk di meja
yang ada di depan restoran.
Omer lalu memesan, “Bawakan kami dua porsi puding
beras, dua porsi Kazandibi dan es krim di tepiannya...ayo cepatlah!”
“Tolong bawakan aku kopi Turki... tapi
yang medium, terima kasih!” Pinta Elif.
“Apa kau yakin?” Tanya Omer. Elif diam
saja. Omer pun berujar, “Baiklah, kau tahu yang terbaik...”
“Kenapa kita ke sini?” Tanya Elif.
“Untuk makan...” Jawab Omer.
“Jangan lakukan itu, Omer! Aku tahu
bahwa kau ingin memberitahuku tentang sesuatu yang tak menyenangkan, bukan
sekedar mengajakku untuk makan malam. Mulailah bicara!” Suruh Elif.
Omer lalu mengawasi sebentar
sekelilingnya, lalu seorang pelayan datang membawakan minuman.
“Elif... aku terus saja
memikirkan kematian Taner. Ada beberapa pertanyaan yang membekas di kepalaku.
Mungkin kau bisa membantuku..”
“Bukankah kasusnya telah
ditutup? Kau bilang dia menulis catatan lalu dia bunuh diri!”
“Kau percaya segalanya tercatat
di dalam berkas?”
“Apa yang coba ingin kau
sampaikan, Omer? Apa mungkin dia dibunuh?”
“Itu mungkin...”
Elif shock dan menggeberak meja,
“Ya Tuhan....!”
“Ok... tenanglah!”
“Bagaimana bisa aku tenang? Kau
baru saja bilang dia mungkin saja dibunuh.”
“Ok, itu memang tak
menyenangkan, tapi kau harus tetap tenang. Tenanglah! Dengarkan aku, beritahu
aku apapun yang kau ketahui tentang Taner. Mungkin yang ada hubungan dengannya
maupun tidak. Beritahu aku. Mungkin kau bisa membantuku,” kata Omer.
‘Aku tak tahu apapun, Ok! Aku
hanya tahu keluargaku dalam bahaya, omer. Aku tak tahu lagi yang lainnya.”
“Elif, mungkin hal terkecil
tentang taner akan menuntun kita pada siapa pembunuh ayahmu. Jadi, pikirkan
dengan tenang dan jelas! Ok. Apakah ada orang yang marah dengan Taner? Mungkin
di perusahaan atau yang lainnya. Kau bisa mengingat hal seperti itu?”
“Maksudku... Taner....(seorang
pelayan datang, Elif menghentikan ucapannya).... Taner selalu pendiam. Aku tak
tahu siapapun yang bermusuhan atau punya masalah dengannya.”
“Kau orang terakhir yang
melihatnya di penjara? Bagaimana dia saat itu? Apakah dia bertingkat
mencurigakan? Ada aga gelagat yang aneh?”
“Dia sedikit bertingkah
aneh.....” Elif lalu menceritakan pertemuannya dengan Taner di penjara, sebelum
Taner terbunuh.
FLASHBCAK.
Di penjara Taner.
Sebnem (pengacara) masih bicara dengan Taner. Elif lalu masuk dan bicara empat
mata dengan taner (lewat telepon di antara dinding kaca pemisah).
“Elif? Elif, kau tidak berpikir
kalau aku yang membunuh ayahmu juga kan?“ Tanya Taner dengan wajah memelas.
“Aku tak tahu apa yang
kupikirkan sekarang, Taner.”
“Percayalah padaku, aku tak
melakukannya. Aku bersumpan demi bayiku yang belum lahir bahwa bukan aku yang
membunuh Tuan Ahmed!”
“Tapi kau sudah mengkhianati
Asli! Dengan Pinar, kekasih dari sahabat karib ayahku.”
“Dengar, aku akan menjelaskan
semuanya, Elif.”
“Mungkin saja ayahku sudah tahu
akan perselingkuhanmu ini. Mungkin dia sudah memperingatkanmu, dan mungkin kau
.....”
“Tidak! Kumohon jangan
berpikiran seperti itu,,, kumohon! Jangan menuduhku seperti itu. Aku memang
telah membuat kesalahan besar. Kesalahanku sangat besar. Aku mencintai Pinar,
tapi aku juga sangat mencintai Asli.”
“Kau tak boleh melakukannya,
Taner! Kau tak bisa. Kau tak bisa memiliki dua cinta dalam satu hati. Itu hanya
akan menjadi dua kebohongan.”
“Aku bersumpah padamu! Aku
bersumpan padamu demi semuanya bahwa aku tak berbohong, Elif! Aku dalam situasi
yang sangat sulit di sini, Elif. Aku memintamu. Tolong keluarkan aku dari sini.
Aku sangat merindukan istriku. Bantu aku untuk menemuinya, Elif. Kumohon!”
Taner memelas.
Namun Elif menutup teleponnya.
Taner terus memohon, “Aku memohon padamu! Jangan Elif, kumohon! Tolong
keluarkan aku dari sini....!”
FLASHBACK berakhir.
Kembali ke
Omer dan Elif.
“Apa yang kau mempercayainya
(Taner)?” Tanya Omer.
“Aku percaya. Pembunuh ayahku
bukanlah Taner.” Jawab Elif.
“Itu juga pendapatku,,,,” Sahut
omer.
“Apakah mimpi buruk ini tidak
akan berakhir, Omer? Adakah akhirnya?” Elif terlihat letih dan putus asa.
“Semuanya akan berakhir.” Jawab
Omer.
“Kapan? Kapan ini akan berakhir?
Setiap hari sesuatu yang baru terjadi. Setiap hari misteri baru... kapan semua
itu akan berakhir?”
“Semua ini akan berakhir karena
kasus ini berada di tangan yang aman sekarang. Komandan Sami akan menempatkan
hati dan jiwanya untuk kasus ini. Dia satu-satunya dukungan dari kepolisian
yang bisa kupercaya. Dia seorang ahli di bidangnya. Tak ada komplotan yang bisa
lolos darinya. Kau akan lihat bagaimana kami akan memecahkan kasus ini segera
mungkin.”
“Baiklah. Untuk menangkap
Metin... apakah kita harus segera pergi ke Roma? Apa jika saat Metin menelepon
nanti... dan aku menemuinya... lalu kau bisa datang dan menangkapnya.”
“Tak akan berhasil dengan cara
seperti itu, Elif.”
“Kenapa? Kenapa kau selalu
membuatnya jadi rumit? Aku tak mengerti. Aku sudah lelah dengan pria itu.
Tangkap dia! Buat dia keluar dari hidupku. Buat dia meninggalkanku.”
“Elif, ada dukungan orang-orang
besar di belakangnya. Mereka punya orang di kantor polisi juga pengadilan untuk
mendukung mereka. Jika tidak ada kekuatan besar di belakang mereka, mereka
tidak akan mampu menyelundupkan berlian dan juga uang haram keluar negeri. Andai
saja kita berhasil menangkap si bedebah Metin. Yang terjadi adalah kita akan
mengetahui identitas aslinya. Aku sangat yakin, seyakin namaku, bahwa identitas
aslinya itu bersih.”
“Pria itu yang menculik kami.
Dia menyekap Nilufer berhari-hari. Kami berdua saksinya. Bukankah itu cukup?”
“Untuk kasus kejahatan,
dibutuhkan barang bukti dan kesaksian. Jika salah satunya tak ada, kau akan
berakhir dalam kegelapan. Tak ada yang bisa dilakukan.”
“Jadi, aku terpaksa harus
melakukan ini, begitu?”
“Ya. Kau tak punya pilihan
lain.”
Elif lalu meminum kopinya. “Ayo
keluar dari sini, kumohon! Aku tak nyaman dengan tempat ini....”
“Baiklah, ayo pergi!”
Sementara itu, di pintu gerbang
rumah Elif, seorang pria (anak buah Metin), masuk menemui Pak Muzafir (penjaga
pintu gerbang rumah Elif) dan berpura-pura menanyakan sebuah alamat.
Saat pak Muzafir
lengah, Metin yang memakai penutup wajah, masuk lalu menaiki tangga menuju
teras depan rumah Elif. Metin sangat berhati-hati dan selalu menghindari arah yang menghadap CCTV.
Di perjalanan pulang, Omer dan
Elif berbincang di dalam mobil.
“Berapa lama kau mengenal Tayyar
dundar?”
“Aku rasa, saat aku SMA.
Perusahaan ayahku menurun. Paman Tayyar lalu menjadi rekan keuangannya, lalu
situasi perusahaan kami menjadi lebih baik. Setelah itu, mereka menjadi teman
baik.”
“Seberapa kau mempercayainya?”
“Aku mempercayainya bersama
saudari-saudariku dan juga sepenuh hidupku...”
“Baiklah, jika kau bilang
seperti itu... “
“Apa? Apa maksudmu? Apakah kau
mencurigai Paman Tayyar? Sungguh, dia satu-satunya orang yang tak mungkin
pantas untuk dicurigai. Berhentilah mencari pembunuh di dalam keluargaku.
Bagaimana aku tahu jika salah satu dari mereka (jangan-jangan) orang di
sekelilingmu sendiri?”
“Apa kau sungguh-sungguh dengan
apa yang barusan kau ucapkan? Kau sudah menemui orang-orang dalam hidupku.
Mereka hidup di dunia kecil mereka. Butuh impian yang besar untuk sanggup
melakukan sebuah kejahatan.”
“Hah, itu artinya yang bisa
menjadi tersangka hanyalah orang-orang kaya, benar kan?” ledek Elif.
“Elif, aku ini seorang polisi.
Jika ada kasus kejahatan, siapapun akan kucurigai. Aku sedang mencoba untuk
memecahkan masalah ini. Aku sedang berusaha menolongmu.”
“Baguslah! Kau bisa menurunkanku
disini. Terima kasih!”
Omer lalu menepikan mobilnya di
depan rumah Elif.
Saat akan turun, Omer memanggil
Elif.
“Elif!”
“Ya...”
“Jangan takut!”
Elif hanya diam, lalu turun dari
mobil dan berlalu.
Sesampainya di pintu gerbang, ia hanya menoleh sebentar ke
arah Omer, namun setelah itu langsung masuk ke dalam. Omer pun pergi.
Saat akan naik ke teras, Elif
diberitahu Pak Muzafir, kalau Nihad, penggantinya yang akan bertugas menjaga
rumah Elif malam itu belum kunjung datang. Elif lalu menyuruh Pak Muzafir
menunggu 10-15 menit lagi. Jika Nihad tak datang juga, pak Muzafir boleh
langsung pulang (artinya rumah Elif tanpa penjaga).
Dalam perjalanan pulang, Omer
mendapat telepon dari gurunya, Osman Hoca, yang seorang ahli kaligrafi (yang
diminta Omer untuk mengalisa tulisan Taner).
“Halo, Guru!”
“Omer, jika kau punya waktu,
datanglah segera agar kita bisa bicara!”
“Apa kau menemukan sesuatu?”
“Ya, Nak! Pria itu tidak
melakukan bunuh diri. Seseorang memaksanya untuk menulis semua ini.”
“Baik, Guru. Aku datang
sekarang. Aku akan sampai sana dalam setengah jam....”
Di rumah Elif, persisnya di
ruang keluarga di lantai dua, Metin sedang menonton video rekaman CCTV Asli
saat mendorong Zerrin hingga terjatuh dan tewas.
Elif lalu masuk ke dalam
rumahnya. Setelah mengunci pintu utama, Elif menyalakan lampu ruangan di lantai
satu, lalu ia berjalan menaiki tangga.
Elif melihat ada orang di ruang
keluarga. Setelah didekati, Elif terkejut melihat Metin.
“Jangan terkejut, Rekanku!” Ucap
Metin yang lalu mematikan televisinya.
“Apa yang kau lakukan di
rumahku?” Sentak Elif.
“Apa yang kulakukan? Kau tak
menjawab semua teleponku. Jadi kupikir untuk datang dan minum kopi di sini
meskipun aku tak menemukan ada kopi disini.... tapi...”
“Keluar dari rumahku sekarang,
atau aku akan memanggil polisi!”
“Panggillah kalau begitu. Tapi,
panggil saja Omer! Betapa tampannya pria itu, karena kau tak bisa hidup
tanpanya...”
“Keluar dari rumahku sekarang!”
Sentak Elif sembari menyeret Metin.
Namun Metin malah menarik Elif
untuk duduk di sebelahnya, “Tenanglah! Aku akan pergi ... tapi kita harus
bicara lebih dulu!”
“Menjauhlah dariku. Enyahlah!”
Metin menjambak rambut Elif,
“Dengar... dengarkan aku! Aku sudah tertekan beberapa hari ini. Kau yang paling
banyak membuatku stress. Aku buat kesepakatan denganmu. Kau harus terima
kesepakatan kita. Apakah seseorang harus berlari dari rekan kerjanya sendiri?”
Metin menjambak keras rambut
Elif, hingga Elif berteriak kesakitan.
“Kau memaksaku melakukan ini,
Elif!” ujar Metin. “Puncaknya, karena kisah asmaramu dengan polisi itu terjadi
tanpa izinku.”
“Kau tak akan bisa mendekati
Nilufer lagi. Atau aku akan membuatmu menyesal karena pernah dilahirkan.” Elif
meninju perut Metin dengan sikut tangannya.
Namun Metin kembali menjambak
Elif. “Apa yang terjadi sekarang? Apa kau baik-baik saja? Aku mencoba membuatmu
kaya, peduli dan menjadi bagian dari keluargamu... tapi kau malah kurang ajar.
Sangar kasar!”
“Kebodohan apa yang kau
katakan?” Tanya Elif.
“Aku sedang membicarakan ini...”
Metin lalu menyalakan televisinya. Ia mempertontokan video rekaman CCTV Asli
yang mendorong Zerin hingga terjatuh dan tewas pada Elif.
“Kusebut barang butik ini (video
itu), mengenal keluarga dengan tepat. Sedikit saja!” Ucap Metin.
Elif shock, matanya terbeliak,
air matanya mulai bercucuran, mulutnya menganga namun ditutupi tangannya saat
menontonnya.
Sementara itu di dalam mobilnya,
Omer senyum-senyum mendengarkan lagu (saat dia dan Elif berjoged di pesta
sunatan episode sebelumnya). Dia tak tahu kalau ponselnya Elif tertinggal di
jok sebelahnya.
Kembali ke Metin dan Elif di
ruang keluarga.
“Saat seseorang mengalami
tekanan yang hebat, dia tak akan peduli pada ibunya maupun saudari-saudarinya.
Saat aku pertama kali menonton video ini, akupun terkejut. Aku tak tahu apa
yang harus kulakukan. Ini pasti sulit dipercaya datang dari keluarga sebaik
ini.” Ujar Metin.
Elif terus saja
menangis sembari memelototi video itu dengan wajah disangga kedua tangannya.
Di mobilnya, Omer baru sadar
kalau ponselnya Elif tertinggal di mobilnya. Dia baru tahu saat Bahar menelepon
ponselnya Elif. Namun Omer tak mengangkatnya. Ia berbalik arah untuk
mengembalikan ponselnya Elif.
Di rumah sakit, Pinar sedang
asyik menyantap makan malamnya sembari menonton televisi.
Tahu-tahu Tayyar
muncul di depannya. Pinar seperti melihat hantu. Shock.
“Apa yang terjadi, sayangku? Kau
terkejut melihatku?”
Kembali ke Elif dan Metin.
“Bagaimana bisa ini terjadi? Ya
Allah....!” Elif masih saja menangis. “Bagaimana bisa? Ini sungguh
menyedihkan...”
“Itu telah terjadi!” Metin
mencoba menenangkan Elif dengan menepuk pundaknya.
“Singkirkan tangan kotormu itu!”
Seru Elif.
“Aku mencoba untuk membagi
kesedihan, karena aku bagian dari keluarga ini...” Ucap Metin.
“Itu kecelakaan. Asli tak tahu
apa yang dilakukannya. Bawa saja video ini ke polisi, dan mereka akan bilang
yang sama! Kau tak bisa mengancamku dengan video ini!” Sentak Elif.
“Mengancam? Aku mengancammu? Aku
sedang mencegah malapetakan terjadi di keluarga ini, karena aku merasa menjadi
dari keluargamu. Tapi lihat apa yang kau sangkakan! Betapa kasarnya itu.”
“Hentikan kebodohanmu itu!
Keluar dari rumahku sekarang!”
“Aku dengar pikiran kakakmu
kadang normal dan tidak normal dalam waktu cepat.”
“Apa yang sudah kau lakukan pada
kakakku? Apa yang kau tahu tentang Asli?”
“Aku terus mengawasinya. Dia ada
di rumah sakit, dan dia sudah sadar. Kondisinya sangat sehat. Dia tak ingat
bahwa dialah yang mendorong ibu kalian. Kepalanya benar-benar kosong.”
“Semoga Allah mengutukmu!” ujar
Elif.
“Dengarkan ini! Kakakmu
kehilangan bayinya karena ibumu. Tragedi besar. Lalu dia bunuh ibunya. Itu
tragedi yang lain. Dan suaminya gantung diri di penjara. Itu yang ketiga. Jika
aku berada di posisinya Asli, tak akan ada harapan lagi untuk hidup. Aku akan
membiarkan diriku mati. Apa yang kau pikirkan?” Metin menakut-nakuti Elif.
“Haruskah kita menanyakan pendapat kakakmu?”
“kau tak bisa....”
“Jangan membuat taruhan!”
Omer kembali ke rumah Elif untuk
mengembalikan ponsel. Ia berpapasan dengan Pak Muzafir (penjaga rumah Elif)
yang terburu-buru pergi karena anaknya sudah menunggunya di mobil. Omer pun
hanya bisa menengok rumah Elif dari tepi jalan.
Metin memberi Elif amplop berisi
tiket.
“Sebuat tiket ke Roma. Jangan
melewatkan penerbangan ini.”
Elif pun terpaksa mengambilnya.
“Apa yang kusuka semuanya
tentangmu...” Ledek Metin. “Kau setuju cepat sekali!”
Omer nekat naik ke teras depan
rumah Elif. Ia diam sebentar, sembari memegang ponselnya Elif.
Metin mencari-cari kamarnya
Nilufer. “Dimana kamarnya Nilufer. Aku ingin mengambil kenang-kenangan darinya.
Aku ridu aromanya.”
“Cepat keluar dari rumahku!”
Elif habis kesabaran, dan berjalan menghampiri Metin.
Namun Metin memojokkan Elif ke tembok.
Di saat yang sama, Omer menekan bel pintu.
Metin tampak shock, hingga
langsung memegangi Elif dan menodongkan postol ke kepalanya.
“Pak Muzafir?” panggil Elif.
“Kau bisa langsung pulang!”
“Elif, ini aku...!” sahut Omer.
“Omer?”
Metin semakin mencekik leher
Elif, “Jika kau buat kesalahan sekecil saja, aku akan meledakkan otakmu ini!
Mengerti?”
Elif menjerit lirih kesakitan.
Ia menangis dan ketakutan.
“Elif, kau meninggalkan ponselmu
di mobilku. Aku datang untuk mengembalikannya....” Teriak omer dari teras.
“Suruh dia pergi!” Bisik Metin
ke telinga Elif.
Sementara itu Omer merasa curiga
ada yang aneh di dalam rumah Elif.
Metin kembali membisiki Elif,
“Suruh dia pergi, atau aku akan memutus napasmu! Jangan bersuara. Kau jangan
berisik!”
Omer mendekati pintu, dan
menilik ke dalam rumah. “E L I F ....! Elif ini aku, Omer!”
Metin mengancam Elif, “Jangan
bersuara, atau aku akan mengambil nyawamu!”
Elif menangis. Omer masih
mengawasi di luar pintu, bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi.
“Elif!” Panggil Omer.
“Kau akan melakukan yang
kusuruh, mengerti?” Ancam Metin ke telinga Elif. Elif mengangguk.
“Elif, apa kau ada disana?”
Teriak Omer.
“Buat dia pergi! Bilang padanya
bahwa kau tidak mencintainya lagi. Bilang kau ingin berpisah, ayolah!” Bisik
Metin.
“Elif, buka pintunya!” Seru
Omer.
“Omer... Omer pergilah!” Sahut
Elif (di bawah tekanan Metin).
“Elif, apa yang terjadi?” Tanya
Omer.
“Jika kau membuat kesalahan
kecil, aku akan meledakkan otakmu!” bisik Metin ke Elif.
“Omer, aku tak mau bicara
denganmu. Tinggalkan saja ponselku dan pergilah...!”
“Baiklah... tenanglah! Kau bisa turun?”
“Tak ada yang harus kita
bicarakan, Omer! Aku coba memahamimu kemarin. Aku tidak mencintaimu. Tak
pernah. Kita sudah putus. Semuanya berakhir. Apa kau mengerti?” Jawab Elif (diancam
Metin).
Omer semakin curiga bahwa ada
sesuatu yang terjadi pada Elif. Omer langsung mengeluarkan pistolnya.
Ia pun
berpura-pura menuruti kemauan Elif. “Baiklah Elif... aku pergi. Datang kesini
Cuma kekeliruan. Aku tak akan muncul lagi di depanmu. Jaga dirimu baik-baik
Elif!”
Metin lalu mendekat ke jendela.
Ia melihat Omer turun (pergi).
“Jangan marah, Rekanku!” Ucap
Metin pada Elif yang ketakutan dan menangis. “Dia itu orang yang tak berharga.
Dia pergi hanya karena satu kata darimu. Jadi, sekarang kau akan bahagia, dan
aku akan bagia. Kita ini masih kerabat, Elif!”
Sementara itu di luar sana, Omer
kembali naik ke teras rumah Elif dengan membawa pistolnya. Ia lalu bergerak ke
teras samping.
Metin turun ke lantai satu.
Sebelum pergi, ia memakai penutup wajahnya lagi. Omer saat itu berada di teras
samping.
Saat Metin keluar, Omer sempat
melihatnya, lalu mengejarnya. Namun Elif membuang lukisan hingga terdengar
suara barang pecah. Omer lebih memilih mendatangi Elif daripada mengejar Metin.
Omer menemui Elif dan
memeluknya.
“Apa yang terjadi?”
“Dia baru saja masuk ke rumahku.
Rumahku sendiri sudah tak aman lagi.”
“Baiklah. Itu sudah berakhir.
Jangan takut Elif. Aku ada di sini. Oke?”
Di rumah sakit, dokter
mengucapkan semoga cepat sembuh pada Pinar. Dokter itu lalu menemui Tayyar,
yang berpura-pura tak tahu apa yang telah terjadi pada pinar.
“Siapa orang itu, dan apa yang
diinginkannya dari Pinar? Aku tak mengerti dengan kejadian ini, Dokter!” Ucap
Tayyar.
“Sayangnya, polisi tak bisa
menemukan dengan jelas motifnya apa karena Nona Pinar kehilangan ingatannya.
Tapi saya yakin kalau mereka akan segera mengungkapnya....” Jawab Dokter.
“Tentu, polisi akan
menyelesaikan semua itu.”
“Jangan ragu akan hal itu...!”
“Aku ingin membawa tunanganku
pulang jika urusan administrasinya selesai. Gadis malang itu telah mengalami
banyak hal. Aku ingin dia beristirahat di tempat tidurnya.”
“Jangan lupa untuk chek up. Dia
dan bayinya baik-baik saja tapi kita harus mengambil pecegahan...”
“Bayi? Bayi apa?” Tanya Tayyar.
“Kau tidak tahu? Tunanganmu,
Nona Pinar, sedang hamil.”
Tayyar shock hingga wajahnya
memerah saat mendengarnya.
Di rumahnya, Elif terus saja
menangis, di dampingi Omer. Mereka duduk di bawah tangga.
“Apa yang bisa kulakukan?”
“Kita akan lebih berhati-hati.
Lebih tenang.”
“Bagaimana bisa aku tenang,
Omer!”
“Aku akan meningkatkan keamanan.
Akan kuperketat semuanya. Apa kau tak mempercayaiku lagi?” Tanya Omer.
“Aku tak pernah berhenti
mempercayaimu.” Jawab Elif.
“Jangan cemberut. Ambil napas
yang dalam! Kau sudah menghadapi Metin dengan sangat baik dan tenang. Aku akan
mengajarimu untuk membela diri. Kita akan membungkam mereka tak lebih dari
sebulan. Mereka akan menyesal karena telah dilahirkan. Mereka akan lihat apa
artinya jika bermasalah dengan Signorina (Nona)!”
“Aku akan pergi mencuci
wajah...”
Omer menyusul. Mereka bicara di
kamar mandi.
“Dia datang untuk Roma?” Tanya
Omer.
“Dia sudah membelikanku tiket.”
“Bagus. Seperti yang sudah kita
bicaran. Rencana kita akan berhasil.” Kata Omer.
Elif malah menangis. Omer
mendekatinya, “Elif. Apa yang sudah kita bicarakan? Jangan lemah! Jika kau
mundur sekarang, kita akan kalah.
“Omer?”
“Ya?”
Elif mengingat kata-kata Metin
saat mengancam dirinya denga video Asli.
Elif berpikir dan memutuskan
untuk tak memberitahu Omer.
“tak ada apa-apa...” Ucap Elif.
“Kau benar. Kegugupanku terbakar
keluar. Mari kita membuat kopi...” Ajak Omer.
Di rumah istri simpanannya,
Huseyin sedang memperbaiki mobil mainan anaknya saat istrinya (yang orang
Rusia) itu datang.
“Dia akhirnya tidur.” Kata
istrinya Huseyin.
“Aku tak mengerti bagaimana dia
merusakkannya (mobil mainan).” Huseyin masih sibuk memperbaikinya.
“Bukan disini. Lihat kabelnya!”
“Kabel?” tanya Huseyin. Huseyin
lalu memandang istri keduanya itu. “Bagaimana bisa istriku yang cantik ini tahu
soal kabel....”
“Aku yang selalu memperbaikinya.
Kadang kau ada, lalu kau pergi. Tak ada yang bisa menolongku. Aku dan putarku
selalu menyelesaikan masalah kami sendiri. Kami memanfaatkan kesendirian.”
“Apa yang kau katakan? Aku tak
datang karena sengaja?”
“Tidak, aku tak menyalahkanmu.
Kau punya sebuah keluarga (yang lain).”
“Kau juga keluargaku, Sayang.
Dan kau tak sendirian. (Mereka berpelukan). Bersabarlah sebentar. Sedikit saja.
Semua ini akan berlalu. Aku akan membuat semuanya baik. Aku akan membawamu dan
anak-anakku membangun kehidupan baru yang lengkap. Kita tak akan pernah
berpisah. Kau tahu itu? Kita akan berjalan bersama-sama. Kita juga akan pergi
ke kelulusan anak-anak kita bersama. Kita akan melihat kebahagiaan mereka.”
“Apa kau ingin anak lagi?”
“Seorang anak? Tidak. Aku sudah
punya tiga anak. Aku akan membawa Demet dan Hasan. Tak seorang pun dari kita
yang bisa dipisahkan. Anak-anak harus ikut dengan ayah mereka. Bersabarlah!”
Di dapur, Elif dan Omer
berbincang sambil minum kopi.
“Kau sudah baik?” tanya omer.
“Ya...” Jawab Elif.
“Apa kau yakin? Elif?”
“Metin tidak hanya datang untuk
memberiku tiket.”
“Lalu kenapa dia datang?”
“Sesuatu yang akan kuberitahukan
ini sangatlah sulit.”
“Orang yang ada di depanmu
adalah Omer. Kau mengenalku, Elif. Aku tak mengerti seberapa sulitnya....”
“Karena kau sempurna. Hidupmu,
orang-orang di sekitarmu, keluargamu, semuanya bersih dan tanpa dosa. Sedangkan
hidupku seperti labirin... sangat rumit dan suram. Aku seperti perahu yang
terus diisi dengan air. Bisa selamat dari sana, itu mustahil.” Ucap Elif.
“Sesuatu telah terjadi. Ayolah,
katakan padaku!” Desak Omer.
“Apa kau menduga-duga, Tuan
Detektif? Apa dahiku berkeringan? Apa aku menyembunyikan mataku?”
“Signorina (Nona), sekalipun kau
ingin, kau tak bisa menyembunyikan matamu dariku lagi. Sekalipun jika kita
menginginkannya, mata kita tak bisa berpaling satu sama lain. Hutan tersembunyi
di dalam matamu saat awan-awan berkumpul di sana... aku melihatnya menjauh
sekarang. Seperti yang kulihat sekarang.”
“Ikutlah denganku!”
Elif lalu mengajak Omer.
Di rumah istri simpanannya,
Huseyin menilik Burhan (anak lelakinya) yang sedang tertidur pulas di kamarnya.
Huseyin lalu menoleh ke arah keranjang bayi di atas lemari (tempatnya
menyembunyikan berlian). Setelah ia ambil keranjang itu dan dirogoh dalamnya,
ternyata berlian-berliannya sudah raib. Huseyin tampak murka.
Di ruang keluarga, Elif
menunjukkan video rekaman CCTV Asli yang mendorong ibunya hingga tewas pada
Omer.
“Dimana mereka merekam ini? Tuan
Tayyar bilang bahwa mereka sudah mematikan kamera CCTV nya.” Tanya Omer.
“Paman Tayyar bilang padaku
kalau seseorang telah mencuri rekamannya.” Jawab Elif. “Pria itu... Metin...
tak ada halangan baginya melakukan sesuatu. Omer, jika Asli melihat ini, itu
akan mengakhiri hidupnya. Meski itu kecelakaan, tapi dia akan menyalahkan
dirinya atas kematian ibuku.”
“Tenang Elif!”
“Bagaimana bisa aku tenang?
Bagaimana bisa kami tenang setelah semua yang telah kami lalui ini? Dan
bagaimana ini? Bagaimana Asli akan memikul beban ini? Asli sudah pernah mencoba
bunuh diri sekali. Dia bisa melakukannya lagi...”
“Hentikan! Wita butuh berpikir
utuh. Kita akan menghentikan Metin dei Asli. Kita akan melindungi kakakmu.
Metin tak akan bisa mengancam kakakmu.”
“Lalu Nilufer?”
“Bukankah kau bilang dia sekarang
berada di tangan yang aman? Metin tak akan bisa menculiknya.”
“Dimanapun aku menyembunyikan
Nilufer, dia tidak akan pernah bisa aman.”
“Aku tak mengerti...”
“Nilufer jatuh cinta pada
Metin.”
“Bagaimana bisa? Pria yang
menculik kalian....”
“Karena adikku sangat bodoh.
Saking bodohnya dia, dia tak tahu dengan jelas masalah yang dibuatnya. Aku dan
adikku.... kami seperti permainan yang dimainkan seorang psikopat.” Elif lalu
duduk di sofa. Ia menangis.
Omer lalu duduk di sebelahnya,
“Elif! Kau tak perlu menangis seperti ini lagi dan bereaksi seperti ini. Ambil
napas yang dalam dan tenanglah! Aku disisimu. Kita akan menyelesaikan semua
ini. Komandan Sami juga sangat mempercayaimu. Kau tidak sendirian, Elif!”
“Kau keliru. Saat ayahku
meninggal, satu sayapku patah. Saat ibuku meninggal, aku kehilangan satu
sayapku lagi. Aku tak punya sayap lagi yang tertinggal. Tapi karena ini sudah
terjadi, aku harus melewatinya dengan berbagai cara. Aku akan berdiri di atas
kedua kakiku sendiri seperti yang kulakukan sebelumnya. Aku akan menyelesaikan
semua ini dan menghadirkan rumah yang penuh kedamaian untuk saudari-saudariku
lagi.”
“Aku tahu betapa kuatnya
dirimu.”
“Kau bilang bahwa kau ada di
sisiku, jadi tangkaplah penjahat-penjahat kotor bertangan merah dan hilangkan
mereka dari hidupku! Setelah itu, aku akan melanjutkan hidupku dari tempat
dimana aku meninggalkannya.”
“Sevim!” Huseyin menghampiri
istri simpanannya yang sedang menyiapkan makan malam. Huseyin membawa keranjang
bayi yang kosong.
“Ya...” Sahut Sevim yang meletakkan
makanan di atas meja.
“Aku meletakkan sesuatu di sini.
Dimana itu sekarang?” tanya Huseyin.
“Apa yang kau taruh disana?”
“Tak penting apa itu, dimana kau
menyembunyikannya?’
“Aku tak pernah menyentuhnya.”
“Sevim!” Huseyin murka dan
membuang keranjang bayi itu ke lantai. Ia lalu mencengkram kuat Sevim. “Lihat
aku! Mungkin kau menemukannya saat itu dibersihkan. Dimana kau menyimpannya?”
“Aku tak mengambilnya.”
“SEVIM!” Sentak Huseyin. “Dimana
kau mengambilnya?”
“Apa yang terjadi. Huseyi? Aku
tak mengerti.” Sevim tampak mengetahui apa-apa. Huseyin pun melepasnya.
“Apa kau keluar hari ini?” tanya
Huseyin.
“Kami pergi ke taman pagi tadi,
lalu menemui temannya Burhan.”
“Kapan kalian kembali?”
“Bagaimana kutahu? Sekitar jam
5, setengah enam, atau 6 sore. Huseyin apa yang terjadi? Apa yang ada di dalam
keranjang itu?”
“Masa depan kita!”
Tayyar membawa pulang Pinar.
Pinar disuruh berbaring di tempat tidurnya.
“Ayo, berbaringlah!
Berbaringlah!”
“Tayyar, apa yang akan kau
lakukan padaku?”
“Aku akan menolongmu agar kau
bisa lebih baik.”
“Tayyar, aku jujur saat
memberitahumu antara aku dan Taner...”
“Sssst.... aku tahu... aku
tahu... tapi kita punya masalah lain. Bayi. Kau tidak tahu? Ada bayi dalam
kandunganmu Pinar. Parahnya, ayahnya tak kuketahui. Entah itu anakku, ataukah
anak si bedebah Taner!”
Tayyar lalu mencekik Pinar,
“Anak siapa itu, Pinar? Siapa ayahnya? Siapa? Cepat katakan! Siapa?”
Tayyar melepas cekikannya. Ia lalu membuat kesepatakan dengan Pinar.
“Kau akan mengandungnya selama sembilan bulan, lalu kau akan melahirkannya. Kau
akan menyusuinya, dan kau akan sangat menyayanginya. Setelah itu, kita akan
menguji DNA nya. Jika itu anakku, tak akan ada masalah. Kita akan melanjutkan
hidup kita. Tapi jika anaknya Taner, semuanya akan berubah. Aku akan membuat
kau membunuh anamu dengan tanganmu sendiri. Aku akan membuat hidupmu menderita
selama mungkin. Apa kau setuju dengan kesepakatan ini?......”
Tayyar lalu menyuruh Pinar
bersitirahat dan menjaga bayinya.
“Ngomong-omong, kau belum
mendengar berita ini karena saat itu kau sedang berada di kapal. Aku turut
berduka. Kita kehilangan Taner. Dia tak bisa menanggung dosa karena membunuh
ayah mertuanya. Rasa bersalahnya telah merenggut hidupnya. Pria malang itu
gantung diri. Semoga Allah mengampuni dosa-dosanya.”
Pinar hanya bisa menangis di
atas tempat tidurnya. Tayyar pun meninggalkannya sendirian.
Di ruang keluarga, Omer masih
bersama Elif.
“Aku sangat lelah.” Ucap Elif.
“Ini malam yang panjang....”
sahut Omer.
“Kau juga terlambat pulang
gara-gara aku. Keluargamu pasti sedang mencemaskanmu.” Elif merasa tak enak
hati.
“Mereka sudah terbiasa. Tak
masalah.”
“Terima kasih.”
“Tak masalah.”
“Biar aku mengantarkanmu ke
pintu!” Elif bangun dari duduknya.
Omer memanggilnya, “Elif, biar
aku menginap di sini malam ini. Jika tidak, aku tak akan tenang.”
“Jangan! Tak perlu. Maksudku,
aku akan baik-baik saja. Kukunci semua pintu. Aku akan memasang alarm. Tak ada
yang perlu ditakutkan.”
Omer lalu terus mendesak dan
meyakinkan Elif bahwa dia ingin menjaganya malam itu. Setelah berdebat cukup
singkat, Elif pun menerima.
Di tempat lain, Huseyin masuk ke
dalam mobilnya, dan menelepon seseorang. Dia ingin menemui orang itu malam itu
juga.
Elif berganti baju tidur.
Setelah itu ia mengambil foto keluarganya.
Elif bersedih lalu menangis. Omer
yang sedang berjaga di luar kamar, mendengar tangisannya.
Omer menjadi tak
tega, dan berniat mengetuk pintu kamarnya, namun urung. Omer hanya bisa
menangisi kesedihan Elif dalam diam, sembari duduk melamun di lantai (dekat
tangga).
Dalam perjalanan, di dalam
mobilnya yang melaju kencang, Huseyin mengingat apa yang dilakukannya pada
malam pembunuhan Ahmed Denizer dan Sibel.
FLASHBACK. Huseyin baru saja
membunuh Ahmed dan Sibel. Dia kabur dengan mobilnya, dan menelepon seseorang.
“Halo? Aku sudah mengerjakan
pekerjaanku seperti yang kita sepakati. APA YANG KUTEMUKAN? APA YANG GADIS ITU
(Sibel) LAKUKAN DISANA? Tunangan adikku. Sibel! Sungguh? Aku sudah
menghabisinya. Bagiku itu melebihi batas. Aku berdosa. Aku telah membunuh gadis
itu. TAK ADA BERLIANNYA. Berlian-berlian itu tak kutemukan disana. Aku sudah
mencarinya di mobil. Tak ada. Segalanya kacau. Baiklah! Kita akan ketemu pagi
nanti.”
Setelah itu Huseyin melepas
eraphone-nya dan menutup ponselnya. Ia menjerit sembari menghentikan laju
mobilnya. Lalu ia memukuli setir sambil berteriak dan menangis, “Ya Tuhan....”
Huseyin lalu mengeluarkan
sesuatu dari saku mantelnya. Berlian-berlin pink yang terbungkus sapu tangan
hitam. Dia telah berbohong pada seseorang yang diteleponnya tadi.
FLASHBACK BERAKHIR.
Huseyin kembali menyetir. Ia
lalu mendatangi bangunan tua.
Tiba-tiba bayangan kejadian di malam pembunuhan
terlihat lagi
FLASHBACK kembali. Malam
pembunuhan.
Setelah membunuh Ahmed dan
Sibel, dan setelah menelepon seseorang, Huseyin menemui orang itu di bangunan
tua. Namun sembari menunggu, Huseyin mendapat telepon dari Arda (yang saat itu
mengabarinya soal ditemukannya Ahmed dan Sibel).
“Ada apa Arda? Tak bisa! Aku
sibuk sekarang dan tak bisa datang. Aku tahu. Baiklah. Dengarkan aku! Lakukan
apapun tapi jangan biarkan Omer lari dari sana . Oke? Aku akan menyelesaikan
pekerjaan dulu lalu datang ke sana....”
Setelah itu Huseyin menutup
ponselnya. Terdengar suara tapak kaki orang. Rupanya orang yang ditunggu
Huseyin malam itu (di malam pembunuhan) adalah TAYYAR DUNDAR.
“Apa yang terjadi Huseyin? Apa
ada sesuatu yang kita rencanakan?” Tanya Tayyar.
“Apa yang dilakukan Sibel
disana?”
“Sebut saja itu takdir!”
“Kau mengutusku untuk membunuh
tunangan adikku.” Sentak Huseyin.
“Berhenti! Kumpulkan dirimu.
Tenang!” tayyar menahan Huseyin yang hendak memukulnya. “Bagaimana kutahu bahwa
Sibel itu calon istrinya adikmu?”
“Jadi kau tak tahu apa yang
sebenarnya terjadi?”
“Semuanya akan mengira Ahmed
ditemukan tewas dengan kekasih gelapnya di mobil. Barang buktinya telah
dihancurkan.”
“Apa yang akan terjadi pada
adikku? Omer ada di sini. Dia anggota tim yang pergi menyidik kasus itu.”
“Jadi?”
“Apa kau pikir adikku akan tidur
sampai dia menemukan pembunuh tunangannya? Apa kau pikir dia akan menyerah. Kau
belum bertemu Omer. Omer ialah salah satu polisi terbaik negeri ini. Dia tak
akan meninggalkan kasus ini sampai dia memecahkannya. Habislah kita!”
“Makanya, gunakanlah
pengalamanmu, Huseyin. Kau bisa memecahkan kasus ini. Bukan sesuatu yang belum
pernah kau tuntaskan sebelumya. Kau akan bisa menyelesaikannya. Kau adalah pria
yang telah menyembunyikan seorang pembunuh sekaligus selingkuhanmu selama 6
tahun lebih. Kau bisa mengatasi hal itu. Tak seorang pun yang tahu bahwa nyonya
Svetiana (istri simpanan Huseyin) adalah seorang pembunuh, maka tak akan ada
yang tahu bahwa kau juga seorang pembunuh mulai dari sekarang. Kasusnya sudah
ditutup. Lakukanlah untuk dirimu seperti apa yang kau lakukan untuk
selingkuhanmu itu. Kadang kita butuh untuk memikirkan diri kita sendiri,
Huseyin.”
“Tak semudah itu, Tayyar! Tak
semudah itu.”
“Itu mudah. Dia (Omer) mungkin
tidak lebih baik daripada dirimu. Dia baru anak kemarin. Aku yakin kau akan
akan bisa mengatasinya. Kau akan selesaikan kekisruhan ini, dan tak akan ada
yang tahu bahwa kau seorang pembunuh. Kau juga pria yang cerdas Huseyin!
Tempatkan dirimu seperti itu!”
Setelah itu Tayyar pergi.
FLASHBACK BERAKHIR. Kembali ke
bangunan tua yang sama, saat ini.
Tayyar muncul di belakang
Huseyin.
“Lihat, tidak mudah untuk
menjadi bos. Kau harus mengurusi setiap masalah pegawainya dan mengantar mereka
dari kegelapan ke tempat yang terang. Kau Cuma punya waktu 5 menit. Katakan
padaku dengan singkat. Aku harus bekerja!” Ucap tayyar.
“Jangan khawatir. Aku tak akan
bertele-tele. Dimana berlian-berlianku?” tanya Huseyin.
“Sepertinya ada kesalahpahaman
disini, Huseyin. Semua berlian itu milikku.”
Di rumah Elif. Elif mengigau dan
bermimpi buruk. Omer terkejut, lalu berlari ke dalam kamar Elif. Elif terus
saja memanggil ibunya. Tiba-tiba Elif mengigau, “Jangan pergi Omer!”
Setelah itu Elif terbangun. Omer
duduk di sampingnya.
“Tenang. Itu Cuma mimpi buruk!”
“Kapan ini akan berakhir.”
“Semuanya aka berlalu.
Tidurlah!”
Elif kembali berbaring dan
menangis. Omer setia membelainya di sebelah.
Setelah itu Omer keluar, dan
memandangi penjepit rambut yang ia temukan di tempat tidurnya Elif.
Huseyin dan Tayyar berdebat soal
berlian di bangunan tua.
“Ini tak seperti itu, Huseyin. Menjadi
bos itu pekerjaan yang tak mudah. Kau harus mengawasi setiap gerakan
orang-orang di sekitarmu. Kau harus satu langkah di depan mereka sepanjang
waktu, agar kau tak dicurangi. Orang-orang terdekatmu, akan mengkhianatimu
hanya dalam sekedipan mata. Kau hanya akan memiliki kekuatan jika kau menang. Sekarang,
mengingat kau tahu siapa bosnya, aku tebak kau sudah siap untuk membayar harga
berlian-berlian itu.” Tayyar menyindir Huseyin yang ternyata mengkhianatinya
(menyimpan sendiri berliannya dan lapor ke Tayyar kalau Huseyin tak menemukan
berlian itu saat membunuh Ahmed Denizer).
Huseyin mendekati Tayyar, “Aku
telah membersihkan semua kejahatanmu selama 6 tahun lebih. Enam tahun, Tuan
Tayyar! Jika itu belum cukup, aku juga telah membunuh Sibel dan membakar jiwa
adikku sendiri. Aku sudah membayar harganya (sebagai ganti berlian yang
dicurinya) sejak lama. Aku pantas memiliki berlian-berlian itu. Jadi berikan!
Semuanya milikku. Pikirkan itu sebagai ganti setiap perbuatanku yang kulakukan
untukmu hingga sekarang. Berikan padaku berlian-berlian itu sekarang! Dan semua
hutang-hutangmu (balas budimu) akan kuhapus.”
“Apa semuanya tentang uang yang
sudah keberikan selama bertahun-tahun, Huseyin?”
“Apakah kau pikir kau sedang
membodohi anak kecil dengan jumlah yang sedikit? Kau punya banyak uang. Aku
telah membahayakan profesiku, pengabdianku, dan tanggung-jawabku sendiri hanya
demi dirimu. Yang paling parah, aku telah melukai adikku sendiri. Semua berlian
yang kau punya tidak cukup untuk membayar semua hutang-hutangmu (balas budimu)
padaku.”
“Jangan khawatir, Huseyin.
Jangan khawatir. Aku telah menyelidiki dan menemukan bahwa hak tinggal Nyonya
Svetiana (istri Huseyin yang dari Rusia) telah kadaluwarsa. Itu juga kasus yang
menarik. Seorang penyidik sukses, menyembunyikan seorang pembunuh wanita dari
Rusia. Kau akan membuat berita utama di dalam penjara tentunya!” Ancam Tayyar.
“Baiklah, tapi aku akan
membawamu ke dalam penjara bersamaku!” Tantang balik Huseyin. “Apa yang bisa
kulakukan tanpa sahabatku? Aku bisa merindukanmu. Kau pikir kenapa selama ini
aku Cuma diam, Tayyar? Eh? Aku telah menjamin masa depanku juga. Aku punya
bukti yang cukup untuk menjebloskanmu dalam penjara, Cuma dalam satu jam. Satu
jam. Perintahmu terakhir, apa kau masih ingat saat kau menyuruhku untuk
menghilangkan dokumen-dokumenmu? Aku melakukannya. Tapi kusimpan di tempat yang
aman. Orang-orang malang yang organnya kau ambil, aku punya video rekaman semua
itu di tanganku. Juga rekaman pertemuan dan kesepakatan2mu dengan mafia penjual
organ. Sistem kemanan di rumah sakitnya benar-benar payah, Tayyar. Kau harus
memeriksanya lagi. Ah, ada juga badan amalmu. Penggalangan dana, yang mana kau
menjebak gadis-gadis miskin dengan menjanjikan kau akan membayarkan biaya
pendidikan mereka, tapi kemudian kau paksa mereka menjadi kurir pencucian
uangmu. Seperti SIBEL. Ada banyak hal kecil, Tayyar. Semuanya akan menjadi
besar. Lebih besar lagi. Semua itu akan membuatmu sakit kepala. Jika sesuatu
terjadi padaku, mereka (anak buah Huseyin) akan mengirim semua bukti itu ke
polisi dalam semenit. Eh? Apa kau suka itu? Itu saja.... Tayyar Dundar!”
Wajah Tayyar sangat pucat.
Huseyin kembali mengolok Tayyar,
“Kau mungkin berpikir bahwa dirimu adalah Bos, tapi kau tak bisa menjadi bos
selamanya. Sekarang, kau akan memberitahuku dimana berlian-berlianku? Setiap
orang akan mendapat apa yang pantas mereka dapatkan. Jadi berikanlah!”
Tayyar akhirnya buka suara, “Huseyin?
Kau tahu itu? Aku sudah tahu berlian-berlian itu ada bersamamu sejak malam itu
(malam pembunuan). Dan aku tahu berapa kali kau memindah tempat
persembunyiannya. Berapa kali kau terbangun di depannya hingga pagi, dan berapa
kali kau memeriksanya. Aku bisa saja mengambil berlian-berlianku jika aku mau. Apa
kau tahu alasan kenapa aku tak mengambilnya? Karena berlian-berlian itu aman
bersamamu. Aku sudah tahu kau sangat menjaga mereka dengan sangat baik.”
“Dimana berlian-berlian itu,
Tayyar?” tanya Huseyin.
“Di tempat di mana kau
menyembunyikannya pertama kali.” Jawab Tayyar.
DAFTAR SINOPSIS TERKAIT
Sinopsis Cinta Elif Lengkap Episode 25 Senin 02 November 2015
Reviewed by Riris Tania
on
13.21
Rating:
Reviewed by Riris Tania
on
13.21
Rating:










































































































































